Kamis, 20 Juni 2013

Cerpen Bahasa Indonesia

Hai, hai.. aku mau ngepost lagi nih! Kali ini tugas cerpen bahasa Indonesia. Kalau yang ini berdasarkan pengalaman pribadi. ^^




Bukan Aib, Hanya Untuk Motivasi






Peristiwa ini belum lama terjadi. Sekitar beberapa bulan yang lalu. Sebuah peristiwa yang berhasil membuatku terjatuh, membuatku menangis. Sebuah peristiwa yang menjadi introspeksi diri. Sebuah peristiwa yang kujadikan cermin. Sebuah peristiwa yang akhirnya menjadi kompas di saat aku berjalan. Sebuah peristiwa yang terlalu pahit, namun juga sangat manis untuk dikenang. Sebuah peristiwa yang memaksaku untuk kuat, untuk belajar agar bisa bangkit lagi setelah terjatuh. Sesulit apapun itu. Sesakit apapun itu. Sebuah peristiwa yang membuatku yakin, bahwa selalu ada pelangi setelah badai menerjang.

Semua berawal dari sebuah keinginan yang tiba-tiba saja tumbuh di dalam hatiku. Keinginan yang semakin lama semakin subur. Keinginan yang kemudian menjadi sebentuk impian, cita-cita sederhana. Keinginan untuk menjadi seorang penulis.

Seringnya membaca novel remaja ternyata berhasil mengundang semua imajinasiku keluar. Imajinasi yang selama ini terpendam dalam otakku tanpa pernah kuketahui keberadaannya. Tak kusangka, otakku dipenuhi imajinasi, hingga yang terliar sekalipun. Semua imajinasi ini sepertinya akan membuatku gila bila tak segera kutuangkan. Akhirnya, aku menumpahkan sedikit demi sedikit imajinasi ini dalam bentuk untaian kata yang kususun menjadi kalimat di atas kertas. Hari demi hari, minggu demi minggu, kutekuni semua kata-kata yang menari-nari di dalam kepalaku. Dengan telaten kupetik satu per satu untuk kurangkai menjadi sebuah karangan. Tak tahu berapa bulan yang aku butuhkan, hingga selesailah novel pertamaku. Memang banyak teman yang memuji, tapi aku tahu masih banyak sekali kekurangan dalam novel ini. Diksi, susunan kata, klimaks masalah, penokohan, semuanya. Masih sangat jelek. Kemudian aku memutuskan untuk memperbaiki semua itu dalam imajinasi selanjutnya, novel keduaku.

Segalanya berlangsung seperti biasa. Lancar. Aku menulis novel ini di sela-sela waktuku. Aku ingat, aku menulisnya ketika Ujian Nasional SMP semakin dekat. Sambil belajar, aku menulis, menulis, dan menulis semua imajinasi yang sering mendadak muncul saat itu. Novel ini selesai dalam waktu 4 bulan.

Menjadi seorang penulis sesungguhnya bukanlah perkara yang mudah. Harus ada yang menerbitkan hasil karyanya agar bisa dibaca khalayak. Itu artinya aku harus segera mengirim karyaku ini kepada penerbit, daripada hanya tersimpan dalam bentuk draft di laptop. Berminggu-minggu aku mengulur waktu. Terus berdiskusi dengan sahabatku. Terus meminta pendapat, yang kemudian selalu berujung perdebatan. Apakah aku benar-benar harus mengirimnya? Kesepakatan akhir yang kami dapatkan adalah... HARUS!

Pilihanku jatuh pada penerbit Gramedia, GPU (Gramedia Pustaka Utama), sebuah penerbit paling ternama di Indonesia. Hh, bodoh sekali aku memilih penerbit yang satu ini. Penerbit bergengsi tentu saja dipenuhi oleh para calon penulis bahkan para penulis yang handal dan berbakat. Bagaimana bisa aku dengan lancangnya menyamakan diri dengan mereka? Demi Tuhan, apa yang telah kupikirkan saat itu? Tolol. Sebuah kesalahan besar yang akhirnya menimbulkan kekecewaan dan penyesalan.

Waktu itu bulan Juli tahun 2012, awal bulan puasa. Hari pertama aku menginjakkan kaki di SMA N 1 Temanggung dengan seragam putih abu-abu. Hari yang telah aku dan kedua sahabatku (Nurilla dan Gisma) sepakati untuk dijadikan hari yang paling bersejarah di tahun itu. Hari di mana kami akan mengirimkan novel keduaku ke GPU! Ya Allah.. benar-benar satu hari yang membuatku tidak bisa duduk tenang. Membuatku sebentar-sebentar melirik cemas jam di pergelangan tanganku, memastikan di angka berapa jarum jam itu menunjuk. Waktu memang sesuatu yang tak pernah mau mengerti keadaan di sekelilingnya. Tiba-tiba saja ia telah membuat bel pulang berbunyi. Ini dia saatnya! Tak ada kata yang bisa menggambarkan betapa gelisahnya aku saat itu.

Nurilla dan Gisma sampai rela datang ke rumahku untuk membantu. Ini pertama kalinya kami akan mengirim barang lewat kantor pos. Tak ada satu pun dari kami yang tau bagaimana caranya. Lucu. Suasana di rumahku saat itu dipenuhi ketegangan dan kebingungan kami bertiga. Sama-sama cemas. Sama-sama semangat. Sama-sama berharap. Semuanya bercampur aduk menjadi satu. Inilah sahabat. Selalu bisa ikut merasakan apa yang tengah kita rasakan.

Kami pergi ke kantor pos siang itu juga. Panas-panas, lagi puasa, tapi kedua sahabatku tak sedikitpun mengeluh untuk mengantarku. Naik angkot pula. Rasa haru menyelimuti hatiku saat itu. Aku benar-benar harus berterima kasih kepada mereka. Betapa besar pengorbanan dan peran seorang sahabat dalam hidup kita. Tak kan bisa terganti dan terlupakan meski waktu berlalu pergi.

Kami mengantre di kantor pos, masih dengan ketegangan dan semangat yang sama. Malah, intensitasnya makin bertambah seiring berkurangnya antrean. Urusan di kantor pos selesai sekitar pukul 3 sore. Biar lelah, kepanasan, lemes, laper, semua itu tak sebanding dengan semangat baru yang timbul di hatiku. Semangat untuk sebuah penantian jawaban.

Setiap hari setelahnya, aku tak hentinya berdoa. Dalam setiap sujud dan tengadah tanganku, selalu terselip doa : “Ya Allah, izinkan hambaMu yang bukan siapa-siapa ini untuk bisa membanggakan setiap orang yang mengenalnya. Terutama keluarga dan sahabat-sahabatku. Terlebih kedua orang tuaku. Permudah jalanku untuk bisa membuat mereka tersenyum. Lapangkan rezekiku sehingga aku bisa membantu mereka dengan uang hasil jerih payahku sendiri. Dan juga, bantu aku agar bisa membuat kedua sahabatku bangga dan merasa perjuangan kami tak sia-sia. Ya Allah, izinkan novel pertamaku terbit. Amiin.”

Bertawakal. Hanya itulah yang bisa aku lakukan. Berserah diri sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. Hasil akhir masih menjadi rahasia dan hanya Dia yang tahu segalanya. Ketentuan mengatakan keputusan akan diumumkan setidak-tidaknya 3 bulan setelah tanggal pengiriman. Selama tiga bulan itulah aku membangun pertahanan. Mengumpulkan kekuatan. Agar bila kenyataan tak berjalan sesuai angan-angan nantinya, aku siap menerimanya.

Tiga bulan terlewat dan belum ada kabar sama sekali. Sesuatu rasanya mulai terkikis dalam diriku. Aku sangat menyadari apa yang perlahan menipis itu. Harapan. Meski aku terus mempertahankannya sekuat yang kubisa. Empat bulan. Lima bulan. Enam bulan berlalu. Mereka masih diam. Tak juga mengirimkan keputusan. Pertahanan yang kubangun sudah tak sekuat awal dulu. Mulai goyah. Optimisme dalam diriku juga mulai luntur seiring detik yang berlalu. Tapi aku masih terus berusaha untuk berharap. Untuk bisa optimis. Untuk selalu berdoa. Ya Allah, semoga karyaku diterima.

Akhirnya hari itu datang juga. Hari di mana jawaban yang kunanti tiba. Hari di mana penantianku menemukan ujungnya. Hari di mana aku terjatuh karenanya. Sebuah surat datang dari pihak Gramedia, bersama karyaku yang mereka kirim kembali.

Terima kasih atas tawaran kerjasama anda, namun dengan amat menyesal kami....

Sungguh tidak adil! Kenapa jawaban seperti ini yang harus kuterima di saat pertahananku benar-benar tinggal tumpukan batu bata tanpa perekat? Sebuah benteng yang jelas langsung hancur hanya dengan sehelai surat. Runtuh. Aku jatuh. Gelap. Sakit. Tolong!

Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Aku sedih! Kecewa! Malu! Bingung! Marah! Kepada siapa akan kutumpahkan semua rasa ini? Semuanya membuat dadaku sesak. Hari itu juga aku menangis. Tanpa ada yang tahu tentu saja. Kupendam kesedihanku sendiri. Kutelan susah payah semua tangis dan kesakitanku. Aku palsukan senyum kepada semuanya. Akan kutunjukkan pada dunia bahwa aku baik-baik saja, tanpa pernah ada yang menyadari aku remuk di dalam.

Aku yakin Allah selalu mendengar doa seluruh umat-Nya. Termasuk doaku. Tapi kenapa Engkau tak mengabulkan yang satu ini Ya Allah? Belum pantaskah aku mendapat kebahagiaan yang aku dambakan?

Lama kelamaan aku sadar, kalau aku terus berkubang dalam lumpur kesedihan dan kekecewaan, semua angan dan impian akan semakin melayang tinggi, hingga akhirnya tak kan bisa kugapai sama sekali. Aku tak boleh seperti itu! Aku harus bangkit! Aku harus maju! Meski harus melalui proses sesulit apapun. Karena aku tahu, selalu ada yang bersedia mengulurkan tangan untuk membantuku.

Memang ada. Teman-temanku. Mereka membantuku bangkit dengan perlahan. Keluar dari kegelapan ini dan mengobati lukaku. Selalu menyemangatiku. Hingga kemudian aku menemukan kembali semangatku. Jalanku. Aku harus terus menulis dan harus yakin pada hasil karyaku! Seterjal apapun jalan yang harus kutempuh, serumit apapun kelokan yang harus kulalui, aku harus yakin bahwa aku bisa menjadi seorang penulis! Seperti seseorang yang tengah mendaki gunung, selalu ada perjuangan di dalamnya. Melewati tebing dan jurang. Menerobos hutan dan ilalang. Melawan dingin dan kelelahan. Hingga ketika berhasil mencapai puncaknya, mereka telah mengerti apa arti dari kesulitan. Yaitu untuk mencapai sebuah kesuksesan!

Harus kuakui, novel yang ditolak itu kini menjadi pedomanku untuk tak melakukan kesalahan yang sama lagi. Dan semakin kusadari tulisan-tulisan yang kubuat tak lagi separah awal-awal dulu. Semoga saja semua ini terus membaik dan pada akhirnya impianku bisa kuraih. Menjadi seorang penulis best-seller. Amiiin. Pengalaman ditolak ini aku rasa bukan sebuah aib, tapi kujadikan motivasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar