Kamis, 09 Oktober 2014

Jingga untuk Matahari #fanfiction-4

Nyawanya masih berada di perbatasan alam mimpi dan alam nyata ketika ponsel di samping bantalnya bergetar. Dengan mata setengah tertutup, Tari meraba-raba dan meraih ponsel itu.

Ntar bw baju ganti

Hah? Apaan, sih? Tari memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali lebar-lebar, berusaha memfokuskan pandangannya. Ternyata SMS dari Ari. Bawa baju ganti? Buat apa? Ia menjatuhkan kepala lagi di bantal sambil mengetik balasan.

Bwt apa?

Bukan jawaban atas pertanyaannya barusan yang ia dapatkan kemudian, tapi malah perintah dari Ari yang selalu tak terbantahkan.

Siap2
Bntar lg gw brgkt

Tari mengerang. Dengan malas, disibakkannya selimut dari kakinya yang melindunginya dari hawa dingin semalaman. Masih pukul setengah lima pagi. Terhuyung-terhuyung Tari berjalan ke kamar mandi.
“Dingiiiiiin!” pekiknya begitu menyentuh air dari bak mandi yang terasa sedingin es. Selesai mandi, dengan gigi bergemeletuk hebat, Tari berlari ke kamarnya. Tanpa peduli dirinya hanya mengenakan mantel handuk, ia meringkuk di balik selimut yang tebal, menutup tubuhnya rapat-rapat.
“Hiiih, dingin banget. Mau apa sih Ari berangkat pagi-pagi gini?” omelnya. Selama beberapa saat, dibiarkannya hangat selimut melingkupi tubuhnya. Rasanya nyaman. Matanya jadi berat. Tari hampir saja jatuh tertidur lagi kalau ponselnya tidak bergetar.

Otw

Mau tak mau Tari bangkit dan secepat kilat berpakaian. Teringat oleh pesan Ari, ia mengambil baju ganti dan memasukkannya ke dalam tas sekolah bersama dengan buku-buku pelajaran yang telah ia siapkan semalam. Ari tiba beberapa menit lebih cepat dari perkiraannya. Anehnya, cowok itu masih menggunakan mobil Alphard-nya kemarin, bukan motor hitam besar seperti biasa.
“Masih pagi banget,” protes Tari begitu menemui Ari di depan, tapi protesannya tidak berlanjut. Lagi-lagi Tari menemukan keanehan. Wajah dan penampilan Ari tampak kacau. Rambut agak acak-acakan, air muka keruh, dan seragam sekolah yang slebor – keluar dari pinggang celana dan dua kancing teratasnya terbuka, penampilan yang jarang ditunjukkan Ari di depan mamanya.
“Udah siap?”
“Gue belom sarapan.”
“Sarapan dulu kalo gitu. Gue tunggu.”
“Belom laper. Ntar bisa makan di sekolah.”
“Oke. Ntar gue traktir. Mana nyokap lo?”
“Masih sibuk di dapur. Udah gue pamitin. Langsung berangkat aja.” Tari juga tidak mau mamanya terkejut melihat penampilan Ari pagi ini.
“Yuk.” Ari meraih tangan Tari, menggandengnya ke mobil.
“Kenapa kita harus berangkat pagi-pagi gini, sih? Kenapa lo bawa mobil? Dan kenapa juga gue harus bawa baju ganti?”
Ari membukakan pintu penumpang depan dan mendorong lembut tubuh Tari tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan gadis itu. Segera setelah duduk di belakang kemudi, Ari menghidupkan mesin. Sejuknya AC membuat mata Tari kembali berat. Ia menyandarkan punggung dan kepala di sandaran jok. Kenyamanan membuat kantuk kembali menyergap, semakin sulit ditolak.
“Kenapa?” Ari menoleh sekilas.
“Ngantuk. Capek,” jawab Tari lemas, masih berusaha keras untuk tidak menutup matanya.
“Tidur aja kalo gitu.”
Tari tertawa kecil. Dipukulnya pelan lengan Ari. “Bercanda. Nggak mungkin gue tidur dengan elo di samping gue gini.”
Ari mencondongkan tubuhnya ke arah Tari. “Lo nggak percaya sama gue?”
Tari balas mendekatkan wajahnya. “Nggak sama sekali.”
“Lo harus percaya!”
“Kenapa gue harus percaya?”
Ari juga semakin mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. “Percaya sama gue, oke?” desisnya.
Tari memutar bola mata kesal, kemudian menjauhkan wajahnya, kembali bersandar pada jok sambil mengerjap-ngerjapkan mata, berharap dengan begitu ia bisa mengenyahkan rasa kantuk. “Nggak jadi ngantuk deh gue.”
Ari menatapnya sebentar. “Jalan yuk?”
“Kemana?”
“Kemana aja.”
“Ngaco lo. Kita kan harus sekolah.”
Ari mengangkat bahu tak peduli. “Bukan suatu keharusan, kok. Bolos sehari juga nggak bakal ngaruh apa-apa.”
Tari ternganga. Diajak bolos seharian? Gila apa? Bisa-bisa dia dihukum seumur hidup. Seakan bisa membaca pikiran gadis itu, Ari menggerakkan mobil tepat sebelum Tari membuka pintu di sampingnya.
“Ari!” teriak Tari emosi, sampai lupa memanggil cowok itu dengan embel-embel “Kak”. “Berhenti! Gue mau turun! Lo kalo mau bolos, bolos aja sendiri. Jangan ngajak-ajak gue!”
Ari menggeram. Ketenangan cowok itu runtuh. Hawa kemarahan yang melingkupi aura tubuhnya bahkan bisa Tari rasakan dengan jelas meski tempat duduk mereka tidak terlalu dekat. Matanya memicing menatap jalanan dan rahangnya mengeras. Bukannya berhenti seperti perintah Tari, ia malah menambah kecepatan mobil.
“Ari...”
“Bokap tadi pulang.”
Kalimat singkat itu cukup ampuh untuk membungkam protes Tari. Seketika ia mendapat jawaban atas keanehan Ari pagi ini. Ayah Ari pulang. Dan pasti sesuatu telah terjadi. Tari yakin kondisi hati Ari sedang buruk pagi ini, jadi mau tak mau ia harus mengikuti cowok itu kalau pingin pulang dengan selamat.
“Trus?” tanya Tari hati-hati. Untuk sesaat, karena tak ada jawaban, Tari mengeluarkan ponsel dan segera menelepon Fio.
“Ya, Tar?”
Tari menarik napas panjang sebelum menjawab, “Gue nggak masuk hari ini. Tolong ijinin dulu. Ntar suratnya nyusul.”
Di seberang, kening Fio berkerut heran. “Nggak masuk kenapa?”
“Jangan bawel, deh. Pokoknya ijinin dulu, oke?”
Fio menghela napas. Apapun itu, ia tahu pasti ada hubungannya dengan Ari. Bisa jadi Tari malah sudah bersama Ari pagi-pagi begini. Dan dugaannya memang tidak meleset. “Iya, deh. Enaknya bilang lo sakit apa?”
“Apa kek, terserah. Flu, demam, yang penting jangan diare aja.”
“Oke. Ati-ati ya, Tar.”
“Iya, iya. Thanks, Fi.” Tari menoleh ke Ari setelah menutup telepon. “Udah. Gue udah bebas. Jadi, kita mau kemana?”
Ari menghentikan mobil di salah satu ruas jalan yang sepi, kemudian melepas kancing kemejanya satu persatu. “Ganti baju dulu,” perintahnya. “Bolos sekolah pake seragam bisa gawat urusannya.”
“Ganti baju di mana?” Tari celingukan ke luar jendela mobil, mencari tempat tertutup yang kira-kira bisa digunakannya. Tidak ada. Sekeliling mereka hanya ada taman terbuka dan pepohonan.
“Di sini,” jawab Ari yang telah mengganti kemejanya dengan kaus serta merangkapnya dengan jaket putih.
Tari menoleh tersentak. “Di sini? Di deket lo? Eh, gila. Jangan harap gue mau.”
“Pindah ke jok belakang. Kaca jendela mobil ini gelap, nggak akan keliatan orang-orang dari luar. Ganti di sana.”
“Lo juga harus keluar kalo gitu.”
“Gue nggak akan ngintip.”
“Nggak percaya!” tukas Tari. “Ada spion gitu. Lo ngelirik dikit aja pasti keliatan, kan?”
Ari berdecak tidak sabar. Dengan terpaksa, ia keluar dari mobil. Tari langsung meloncat ke jok belakang. Jarinya yang sudah menyentuh kancing teratas mendadak berhenti bergerak. Gadis itu kembali ragu. Akhirnya ia membuka kaca jendela untuk memperingatkan Ari sekali lagi. “Nggak boleh ngintip. Hadap sana! Jangan berani-berani nengok ke sini biar kaca jendela ini lo bilang gelap. Awas aja kalo berani ngintip!”
Baru setelah Ari berdiri membelakanginya, bahkan menempelkan punggungnya di jendela dekatnya berganti baju, Tari melepas seragamnya dan dengan cepat berganti pakaian, masih sambil menoleh-noleh cemas, memastikan tidak ada orang yang menontonnya, terutama cowok yang sekarang tengah berdiri di samping mobil. Ia bersembunyi di balik sandaran punggung jok sopir, melesak sebisanya ketika melepas kemeja. Berganti pakaian di dalam mobil benar-benar mempertaruhkan harga diri. Untungnya hari masih terlalu pagi sehingga jalanan ini belum ramai orang.
Tari mengetuk jendela tempat Ari menyandarkan punggung. Ia kembali meloncat ke jok depan, sengaja meninggalkan ranselnya di jok belakang, dan sudah duduk manis ketika Ari masuk ke mobil.
“Mau cerita, apa yang terjadi setelah bokap lo pulang?”
“Kita cari tempat yang pas dulu buat cerita.”
“Oke. Mau jalan kemana, nih?” tanya Tari lagi.
Ari menoleh ke arahnya dengan wajah curiga. “Kayaknya lo semangat banget gue ajak bolos.”
“Eh, jangan salah,” sergah Tari. “Gini-gini demi elo juga. Kalo situasinya nggak sedarurat sekarang, mana mau gue bolos sekolah.”
Ari memilih untuk tidak berkomentar. Salah-salah Tari malah marah dan tidak jadi menemaninya. Ia memutar balik mobil, kembali ke jalan raya yang mulai padat.
“Ke luar kota?” Tari masih berusaha meminta kepastian.
Ari mengangguk. “Terlalu beresiko ketemu orang yang kita kenal kalo kita cuma main di deket-deket sini.”
“Ke mana?”
“Bandung? Bogor? Terserah. Lo maunya ke mana?”
“Lo yang ngajak, jadi gue nurut.”
“Nginep yuk di Puncak?”
“Apa?!” jerit Tari. “Sintiiing! Nggak! Gue nggak mau!”
Ari tertawa kecil. Senang rasanya bisa menggoda ceweknya yang satu ini. Bisa sejenak melepas penat di kepala begitu melihat Tari yang melotot kaget atau berteriak marah.
“Kenapa ketawa? Nggak lucu, tau!” ketus Tari.
“Siapa bilang gue lagi bercanda? Gue akan bawa lo ke Puncak. Kita sewa vila buat berdua.”
Tanpa ragu, Tari membuka kunci pintu mobil, berniat meloncat turun tanpa peduli mobil tengah berada di jalan raya dan sedang melaju. Tepat sebelum tangannya mengayunkan daun pintu agar terbuka, Ari meraih pinggangnya untuk menahannya. “Bahaya,” desis cowok itu. Agak kaget juga melihat tindakan nekat Tari.
“Biarin!” teriak Tari. “Lebih baik gue mati di tengah jalan kelindes truk daripada diculik lo dan dibawa ke Puncak.”
“Eh, ati-ati kalo ngomong. Tutup pintunya!” desis Ari lagi, memecah konsentrasi antara tetap menyetir dan memegangi Tari, karena untuk saat ini tidak mungkin baginya menepikan mobil yang berada di tengah-tengah jalan yang ramai.
“Nggak! Gue mau loncat! Lepasin!”
Ari menahan pinggang Tari makin kuat, menariknya mendekat. “Bercanda doang, Tar. Tutup pintunya! Sekarang!”
Barulah Tari menurut begitu nada suara Ari yang panik naik satu oktaf. Ia menoleh ke belakang, memastikan tak ada kendaraan di dekat pintunya, kemudian membukanya sedikit, dan mengayunkannya hingga menutup.
“Lo tuh ya... Tau bahaya nggak, sih?!” bentak Ari.
Tari melipat kedua tangan di depan dada. Bibirnya cemberut. “Kok gue jadi dimarahin? Justru gue mau loncat itu biar gue selamet, tau.”
“Bercanda doang, Tar,” ulang Ari, sedikit berhasil mengendalikan emosinya. “Nggak mungkin gue kurang ajarnya keterlaluan gitu.”
“Siapa bilang nggak mungkin?” tukas Tari, masih jengkel setengah mati.
“Lo makin lama makin berani ngelawan gue ya.” Ari mengucapkannya bukan dengan nada mengancam, tapi malah terdengar geli.
“Sejak kapan gue takut sama lo?” balas Tari menggerutu, dalam hati bertanya-tanya bagaimana suasana hati Ari bisa berubah-ubah begitu cepat. Awal-awal tampak kacau dan mengerikan, kemudian bercanda dan tertawa, marah lagi, lalu sekarang geli lagi. Aneh. Tapi kemudian Tari menyimpulkan kalau Ari sekarang ini memang sedang dalam puncak kekacauannya, terlihat dari emosi yang labil seperti tadi.
“Mau sarapan dulu?” tawar Ari. Sekarang sudah benar-benar bisa menenangkan diri.
“Belom gitu laper. Ntar di tempat tujuan aja sarapannya. Oh ya. Sekarang bener-bener harus lo jawab. Kita mau kemana? Jangan bercanda yang aneh-aneh lagi! Gue loncat beneran nih kalo lo ngomong macem-macem!”
Ari mengerutkan kening sejenak. “Ke tempat favorit gue?”
“Kemaren sore baru aja ke sana. Tapi nggak pa-pa, sih. Gue juga suka tempatnya.”
“Kalo gitu kita harus bawa bekal.” Ari membelokkan mobil ke sebuah kafe yang buka 24 jam sehari. “Tunggu di sini,” katanya sebelum turun. Beberapa saat setelah Ari masuk ke dalam kafe, Tari mengeluarkan ponselnya untuk kembali menelepon Fio.
“Udah berangkat sekolah?” tanya Tari langsung.
“Lagi otw, nih. Ada apa?”
“Gue diajak Ari madol hari ini.”
“Udah gue duga,” sahut Fio, sama sekali tidak kaget. “Kenapa lo mau?”
“Yah, mau nggak mau, sih. Soalnya pagi ini lagi ada masalah. Bokap Ari pulang dan sekarang dia lagi kacau. Nggak mungkin kan gue biarin dia ngamuk di sekolah, trus bikin onar lagi?”
“Jadi, sekarang ceritanya lo lagi ngorbanin diri sendiri buat nyelametin seantero sekolah, gitu?”
Tari meringis, agak ngeri juga mendengar kata-kata ngorbanin diri sendiri. “Bisa dibilang begitu. Tapi gue ngikut juga biar gue selamet sampe rumah. Lo tau sendiri lah gimana Ari kalo gue berani nolak dia. Apalagi mood dia lagi kacau gini.”
“Kesian amat sih hidup lo.” Fio berdecak. “Oh, atau jangan-jangan lo juga seneng ya diajak bolos?” tuduhnya curiga, yang ternyata tidak salah.
“Lo tau aja,” sahut Tari ketawa. “Hari ini nggak ada ulangan, kan? Mumpung rada bebas, nih. Bolos sekali-dua kali kayaknya bukan masalah.”
“Dasar!” seru Fio. Antara geli dan kaget. “Lo sama Kak Ari ternyata nggak ada bedanya. Seotak sehati. Se-nama pula. Udah gih sono, pacaran aja terus. Kawin sekalian. Nggak usah repot-repot sekolah.”
“Kok kejem gitu sih ngomongnya? Eh, tapi tadi Ari juga sempet bilang sih kalo sekolah itu bukan suatu keharusan. Bolos sehari nggak akan ngaruh apa-apa. Gue pikir-pikir, ternyata ada benernya juga. Iya nggak? Oh, Fi, udahan dulu ya. Ari udah mau ke sini. Ntar gue kabarin lagi. Jangan lupa juga ijinin gue. Makasih. Daah.”
“Kalian mau...” pertanyaan Fio terpotong karena Tari langsung menutup telepon tanpa memberinya kesempatan menjawab. Fio memelototi layar ponselnya. “Tariiiii, Tari. Kak Ari kayaknya sekarang berpengaruh besar ya dalam hidup lo. Ck, ck, ck. Moga-moga aja lo nggak ikutan bandel. Paling nggak jangan separah dia deh, Tar. Gue nggak mau sohib gue jadi tukang bolos. Repot ntar,” omelnya pelan.

***

Begitu duduk di belakang kemudi, Ari menyerahkan bungkusan berisi dua kotak hamburger dan dua gelas soda ke pangkuan Tari. “Telepon siapa?” tanyanya.
“Fio.”
“Oh,” jawab Ari singkat, tidak berminat untuk bertanya lebih lanjut.
Perjalanan selanjutnya mereka tempuh tanpa banyak bicara. Semakin dekat ke tempat tujuan, Tari mendengar Ari berulang kali menghela napas. Ketika menoleh, dilihatnya wajah Ari agak pucat.
“Lo baik-baik aja?”
Ari mengangguk, namun kemudian menggeleng-geleng. “Gue... nggak tau.”
Tari tertegun. Kondisi hati yang berantakan biasanya menuntun Ari kepada kemarahan, bahkan tak jarang juga amukan. Tindakan-tindakan keras untuk bisa melegakannya. Bukan teriakan frustasi yang dipendam sendiri dalam hati hingga menenggelamkannya pada keterdiaman seperti ini.
“Jangan coba-coba ngerokok.” Tari memperingatkan.
Ari mengangguk. “Gue nggak bawa rokok.” Bukannya karena dia menuruti aturan Tari untuk berhenti merokok seperti yang telah diberlakukan semenjak mereka pacaran, tapi untuk pagi ini dia memang lupa membelinya. Selama Tari tak ada di sampingnya, kerap kali Ari melanggar pantangannya. Meski ia tetap berusaha untuk meminimalisasi kebiasaan buruk itu.
“Bagus.” Tari mengangguk-angguk lega.
Mobil berhenti di tempat parkir dengan posisi sembarangan, melintang dari garis batas. Tempat parkir ini masih kosong, jadi tak ada orang yang peduli, terutama Ari. Tanpa mengajak apalagi membukakan pintu untuk Tari seperti biasa, cowok itu kali ini langsung bergegas menghampiri saung tua favoritnya, seolah kekuatannya sudah nyaris mencapai skala nol dan bisa dipastikan dia akan terjatuh kalau tidak segera diisi ulang.
Tari menggeleng-geleng pelan saat turun dari mobil. “Nggak dikunci segala. Nggak takut ilang, apa?”
Dengan langkah perlahan, Tari berjalan ke tempat Ari duduk sekarang. Ia meletakkan kantong plastiknya di meja sebelum melepas sepatu dan duduk di samping Ari. Dibiarkannya cowok itu tenggelam dalam pikirannya sendiri selama beberapa saat. Akan ditunggunya sampai mulut itu terbuka dengan sendirinya untuk menumpahkan apa yang tengah memporak-porandakan hati dan pikirannya.
“Jam empat pagi tadi Bokap pulang.” Setelah menit-menit berlalu dalam keheningan, akhirnya terdengar suara Ari yang serak. Ia menghirup napas dalam-dalam, berusaha menyusun kata-kata. “Dia mabuk berat. Teriak-teriak.”
Tari tercengang, tapi tetap berusaha menyimak meski setiap kata yang keluar dari mulut Ari semakin membuatnya kaget.
“Gue kaget dan langsung bangun, karena ini pertama kalinya gue liat Bokap mabuk. Pas mau gue bantu, dia mukul gue. Dan lo tau apa yang bikin gue lebih kaget?”
Tari menggeleng cepat, mengisyaratkan Ari untuk meneruskan ceritanya. Selama beberapa detik, tidak ada suara yang keluar dari mulut Ari. Cowok itu menatap lurus ke depan tanpa ada fokus pandangan.
“Dia bilang... dia liat kita kemarin, pas kita makan malem bareng sepulangnya dari tempat ini. Dia liat Nyokap. Ata. Tante Lidya.” Ari hampir kehilangan suaranya saat kembali meneruskan, “Itu yang bikin dia pergi ke bar semaleman. Nggak langsung pulang.”
Ari menelan ludah susah payah. Tercekat. Tangan kiri Tari terulur hati-hati, menyentuh pelan bahu Ari, menenangkan. Tapi Ari menariknya ke genggaman. Diremasnya tangan Tari, seolah meminta kekuatan dan kehangatan untuk tangannya yang dingin membeku.
“Bokap ngumpat-ngumpat gue. Dia bilang gue anak durhaka lah, apalah, macem-macem. Gue nggak peduli. Yang jelas gue sayang sama Nyokap.” Ari mengatupkan rahang keras-keras. Bisa Tari rasakan genggaman untuk tangannya semakin erat. “Bokap macem apa sih dia! Brengsek!” teriak Ari. Seluruh kemarahan, kesedihan, dan kekecewaannya meledak seketika.
“Sst.. Kak...”
“Lo nggak tau, Tar!” Kini Ari menghadapkan tubuhnya ke arah Tari, meletakkan tangan kiri Tari di dadanya, menekannya. “Lo nggak tahu gimana rasanya dilarang ketemu sama Nyokap dan saudara kembar lo sendiri! Lo nggak tahu gimana rasanya punya Bokap gila kayak Bokap gue!”
Tari memilih untuk mengunci mulut. Ia biarkan Ari meluapkan emosinya. Sampai cowok itu lega. Tari akan diam.
“Gimana bisa gue nggak ketemu sama Nyokap dan Ata lagi selama mereka masih di Jakarta? Tapi Bokap ngancem gue. Dia bilang, kalo sampe gue ketemu sama mereka lagi, dia akan langsung pindahin gue. Kemana aja. Bahkan kalo perlu keluar Jawa. Dia bilang itu hak dia. Dan gue ngerasa nggak berdaya, Tar! Gue bisa apa?!”
Ini ketiga kalinya seumur hidup Tari, ia melihat Ari menangis. Kerapuhan yang selama ini disembunyikan di balik benteng semu terkuak sudah. Ari menanggalkan semua topeng dan jubah yang ia kenakan selama ini. Untuk kedua kalinya, setelah kejadian di UKS beberapa waktu yang lalu, Ari membiarkan dirinya terbuka sepenuhnya di hadapan Tari. Ia tunjukkan luka-luka dan air mata tanpa memikirkan lagi reputasinya. Ia pertontonkan bagaimana api amarah melalap habis setiap jengkal tubuhnya, hingga yang tersisa tinggallah kepedihan. Ketidakberdayaannya menolak ancaman ayahnya membuat Ari murka kepada dirinya sendiri. Murka. Namun tak berdaya.
Otak Tari tak bisa memikirkan kata-kata yang tepat untuk menghibur Ari. Sosok Ari di depannya sekarang bukanlah Ari yang ia kenal, yang selalu berdiri tegak menantang tak takut apapun. Saat ini Ari sedang bertransformasi menjadi sosok anak kecil yang sedih dan kebingungan. Sosok anak kecil yang rapuh, yang sedang tenggelam dalam puing-puing benteng pertahanannya sendiri, mencari bantuan, meminta gandengan.
Tari mengulurkan tangan kanannya, menyentuh pipi Ari. Mengusap air mata yang mengalir di sana. Berusaha mengurangi sakit yang tengah didera cowok itu. Berusaha menyusup ke dalam hati Ari untuk bisa ikut merasakan setiap luka di dalamnya.
“Sst, jangan nangis,” bisiknya. Lembut. Penuh perhatian. Ditambah seulas senyum menenangkan. Ari tiba-tiba meletakkan kepalanya di pangkuan Tari. Tidur terlentang, masih sambil menggenggam tangan kirinya.
“Gue capek, Tar,” keluh Ari. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
Tari menatapnya nelangsa. Betapa mengerikan hidup yang harus dijalani Ari. Dipisahkan dari ibu dan saudara yang disayanginya, dan diharuskan tinggal bersama seorang ayah yang buta kasih sayang. Tidak mengherankan Ari selalu haus perhatian, dan tidak mengherankan pula Ari selalu kelelahan dengan semua liku kehidupan yang harus dilewatinya. Diusapnya kepala Ari perlahan. “Sstt, jangan nangis. Jangan nangis. Ada gue di sini. Gue akan jagain lo. Tidur aja kalo capek. Lo pasti masih ngantuk bangun pagi-pagi tadi.”
Kata-kata dan sentuhan halus Tari berhasil menumbuhkan sedikit ketenangan untuk hati Ari. Kesediaan Tari memangku kepalanya juga berhasil menghapus lapisan kabut yang bergelayut di sana. Ia menarik napas panjang dan memejamkan mata. Sengaja dibiarkannya air mata kembali mengalir dari sudut mata. Tak berusaha ia hapus. Sebelum kegelapan menyeretnya keluar dari ambang kesadaran, Ari berbisik pelan, “Makasih.”

***

Hari sudah siang ketika Ari membuka matanya kembali. Sinar matahari yang menyengat langsung ke mata membuatnya mengerjap beberapa kali. Sambil mengumpulkan sisa-sisa nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi, otaknya berputar cepat mengingat di mana dirinya terakhir kali berada. Kemudian ia menyadari kepalanya masih berada di pangkuan Tari.
“Udah bangun?” Wajah Tari mendadak muncul di atas wajahnya. Nyengir.
Ari buru-buru bangkit. “Berapa lama gue tidur?”
Tari memeriksa jam di pergelangan tangannya dengan kening berkerut, mengingat-ingat. “Kira-kira... dua jam. Ato mungkin tiga jam.”
“Tiga jam?” Ari terbelalak, ikut memeriksa jam tangan Tari. Pukul sebelas siang. Benar. Dia tidur kurang lebih tiga jam. Pantas saja perutnya keroncongan. Matanya lalu tertumbuk pada kantong hamburger yang dibelinya pagi tadi.
“Lo pasti kelaperan dari tadi. Yuk, makan.” Ari bangkit berdiri, mengulurkan tangan untuk membantu Tari berdiri.
Tari meringis, tidak langsung menyambut uluran tangan Ari. “Lo ke sana aja dulu, gue nyusul bentar lagi.” Ia meluruskan kakinya perlahan-lahan, dan mengernyit kesakitan. Seketika Ari tahu masalahnya.
“Sakit?” tanyanya cemas sambil kembali berlutut di samping kaki Tari.
“Kesemutan parah,” sahut Tari yang telah berhasil meluruskan kaki kanannya, tinggal kaki kiri.
“Sori. Gara-gara gue, nih. Harusnya elo bangunin aja gue tadi.”
“Nggak pa-pa. Lo tidurnya udah enak banget. Nggak mungkin gue berani ganggu.” Tari memaksakan senyum, kemudian bernapas lega ketika kedua kakinya sudah lurus kembali. Kesemutannya akibat terlalu lama duduk bersila dan berusaha untuk tidak bergerak belum hilang.
“Mau gue gendong?” tawar Ari.
“Eh? Nggak usah! Nggak usah, makasih. Mending kita makan di sini aja. Lebih enakan di sini. Ntar selesai makan kesemutannya pasti ilang, kok.”
Masih dengan dipenuhi rasa bersalah, Ari mengambil kantong plastik di meja, berharap semoga isinya masih bagus. Dikeluarkannya satu kotak hamburger untuk Tari yang tengah memijit-mijit kakinya begitu ia kembali duduk di dekat gadis itu.
“Kalo masih laper, abis ini kita cari restoran.”
“Perut gue bukan gentong, tau. Palingan juga elo yang sebentar lagi kelaperan. Huaah, burgernya aja segede ini!” Tari menangkup hamburger yang hampir tidak muat di tangannya itu sembari berdecak. Ia percaya Ari memesan yang ukuran jumbo. “Gimana makannya? Bisa-bisa mulut gue sobek.”
Ari membuka mulut lebar-lebar dan menggigit hamburger di tangannya. “Nggak, kok. Coba, deh. Enak,” katanya sambil mengunyah.
Tari mengikuti tindakan Ari. Dan memang ia berhasil menggigitnya, namun saus di bagian belakang roti meleleh, jatuh ke bawah, mengenai celananya. Bukannya panik, ia malah tertawa. “Bakalan bau daging goreng nih gue.”
Ari ikut tertawa. Dan tawanya makin menjadi begitu keduanya selesai melahap hamburger masing-masing. Wajah Tari belepotan saus dan mayonaise.
“Heh, wajah lo juga, tau,” cibir Tari, tahu penyebab dirinya ditertawakan. Diam-diam ia merasa lega melihat Ari tertawa. Ari memang sudah terlatih menyembunyikan perasaan, namun Tari tahu cowok itu tak akan bisa berlama-lama menyembunyikan perasaan di hadapannya. Tari lebih suka Ari yang terbuka. Tertawa ketika benar-benar senang, dan ia sama sekali tak keberatan melihat Ari menangis ketika benar-benar sedih. Seperti tadi misalnya. “Sukanya ngetawain orang. Sendirinya juga nggak kalah jeleknya, tuh.”
“Yuk, cuci tangan sama cuci muka. Kaki lo udah bisa gerak, kan?”
“Udah.” Tari berdiri, walau belum begitu mantap. Ari mengemas sisa-sisa makanan mereka, membuangnya ke tong sampah, kemudian membantu Tari berjalan dan memakai sepatunya.
Seharian ini, keduanya berjalan-jalan. Bermain kemana saja. Tari mengabari mamanya kalau dirinya akan pulang telat, bersama Ari, agar mamanya tidak terlalu khawatir. Hari itu mereka tutup dengan duduk di pantai, menyaksikan matahari terbenam, satu-satunya momen yang tak boleh terlewatkan.
Ari memperhatikan gadis di sebelahnya yang sedang serius memunguti kerang-kerang kecil dari segenggam pasir di tangannya. “Tar?” panggilnya pelan.
Tari menoleh. “Ya?”
Pada kesempatan itu, Ari meraih belakang kepala Tari, kemudian mencondongkan badan, mencium keningnya. Karena tak ada perlawanan sama sekali, tangan yang lain merengkuh keberadaan gadis itu. Bibirnya berpindah, mengecup ujung hidung Tari. Sekilas, namun sarat akan kelembutan dan kasih sayang. Tari mendongak, menatapnya kaget.
“Kenapa? Mau marah?” Tentu saja Ari mengira Tari akan marah, karena tindakannya barusan sukses menarik perhatian orang-orang di sekeliling mereka. Tapi ia sudah tidak bisa menahan diri barusan. Yang tak disangkanya, Tari justru menggeleng pelan. Agak salah tingkah.
“Buat apa gue marah?”
Ari tersenyum. “Makasih,” katanya tulus. “Makasih udah mau nemenin gue hari ini.”

Tari hanya mengangguk-angguk. Dia mempertanyakan kembali kata-kata Fio tadi pagi. Ngorbanin diri sendiri? Sepertinya memang benar. Tapi itu dilakukannya dengan sukarela. Dan apakah aneh kalau dia bilang dia bahagia bisa menemani Ari?




Bersambung...

Jingga untuk Matahari #fanfiction-3

Tari baru saja selesai mengenakan bandana oranye kesayangannya ketika ia mendengar deru mesin mobil berhenti di depan rumah. Tari segera mengecek kembali penampilannya.
“Udah siap?” Mama membuka pintu kamar Tari.
“Udah. Yuk, Ma, keluar.” Gadis itu menyambar ponselnya di tempat tidur.
Di luar, Ari telah menunggu bersama mamanya, Ata, dan Tante Lidya. Tari merasa malu ketika semua orang menoleh ke arahnya, namun juga ada semacam perasaan aneh membuncah dalam hatinya saat Ari tersenyum kepadanya. Rasa bahagia, kah?
“Sore, Tante,” sapa Ari ramah kepada mama Tari.
Sementara Mama, Mama Ari, Tante Lidya, dan Ata saling mengobrol untuk pertama kalinya, Tari beringsut mendekati Ari.
“Mau kemana, sih? Kayaknya penting banget sampe ngajak-ngajak Nyokap segala,” bisik Tari, tidak bisa menahan penasarannya.
“Mau acara lamaran,” sahut Ari kalem.
Tari melotot kaget. “Serius, nih!” desisnya sambil mencubit pinggang Ari yang langsung ketawa.
“Bercanda. Gue mau ajak kalian main ke tempat favorit gue.”
“Kemana?”
“Bawel. Tinggal ikut aja.”
Tatapan Tari berhenti kepada Ata yang ternyata juga tengah menatapnya. Tari buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain karena tatapan Ata terasa menusuk. Tatapan yang tak terbaca, tapi jelas menyiratkan sebuah makna.
“Yuk, masuk.” Ari menggandeng tangan Tari dan membukakan pintu mobil. “Lo duduk di belakang ya sama Ata. Biar nyokap lo sama Tante Lidya di tengah.”
Tari terkesiap. “Gue sama Ata?”
“Iya. Kenapa? Nggak mau?” tanya Ari heran. “Gue harus nyetir dan Nyokap suka mabuk, jadi harus duduk di depan juga. Sori.”
“Ehm, bukan masalah itu, tapi... eh, nggak pa-pa, kok. Gue nggak keberatan.” Tari menggeleng pelan, kemudian masuk dan duduk di jok belakang. Tak lama Ata menyusul, duduk di sebelahnya. Tari memejamkan mata sejenak sambil menghirup napas dalam-dalam. Lewat sudut mata, ia bisa melihat Ata tengah memperhatikannya. Sepanjang perjalanan, semua orang di dalam mobil mengobrol seru, kecuali Tari yang masih kesulitan meredam gelisah.
Ah, Mama, nih! Cepet banget akrab sama keluarga Ari, gerutu Tari dalam hati, bete sendiri memperhatikan Mama yang sejak tadi asyik berbincang dengan mama Ari dan Tante Lidya, sesekali Ari dan Ata ikut menimpali juga. Tertawa. Bertukar cerita. Gue gimana niiiih!! jeritnya frustasi.
Jok super nyaman pun tak berhasil membuat Tari duduk diam. Berkali-kali ia menggeser posisinya, kadang bangkit dari sandaran jok, dan kadang menghempaskan punggungnya lagi dengan keras. Tiba-tiba ponsel dalam saku celana jins-nya bergetar, menandakan pesan masuk.  Tari merasa sedikit lega karena akhirnya ada kegiatan yang bisa dilakukannya sebelum dia mati bosan dan gelisah. Semoga saja bukan SMS dari operator.

Lo knp?

Tari mengerutkan kening. Dari nomor tak dikenal. Siapa? Tubuh Tari mendadak menegang dan kerutan di keningnya menghilang seketika. Siapa yang dari tadi memperhatikan gerak-geriknya selain Ata? Tidak mungkin Ari, karena dilihatnya dan didengarnya cowok itu sedang berbicara kepada mamanya. Tidak mungkin juga dia mengetik SMS di tengah-tengah tugasnya menyetir. Dan, lagi-lagi, lewat sudut mata, Tari melihat tangan kanan Ata menggenggam ponsel.
Pasti cowok itu meminta nomor ponselnya dari Ari, dan entah apa yang ada di pikiran Ari hingga memberikannya tanpa kecurigaan. Yang bikin Tari makin heran, kenapa Ata malah bertanya? Apa dia tidak sadar Tari jadi seperti ini gara-gara kedatangan dan kata-katanya beberapa hari yang lalu? Apa dia lupa? Apa dia sedang bercanda? Kenapa dia malah bersikap seperti ini?
Sambil menggigiti bibir cemas, Tari mengetik balasan, berusaha keras untuk tidak melirik apalagi menoleh ke arah seseorang yang duduk di sebelahnya.

Gpp
Ngapain lo nyimpen no gw?

Betul, memang itu tadi SMS dari Ata. Buktinya, cowok itu langsung membuka ponselnya yang berkedip beberapa kali untuk membaca pesan masuk, tepat setelah SMS dari Tari terkirim. Tari membuang muka ke jendela, menunggu ponsel di tangannya bergetar lagi. Tapi hingga satu menit penuh terlewat, ponselnya tetap diam. Tak ada balasan masuk. Tari juga tak merasakan tatapan itu lagi. Tatapan yang berasal dari sepasang mata Ata yang sejak berangkat tadi sudah mengganggunya. Suasana di dalam mobil juga mendadak hening. Pelan-pelan gadis itu menoleh, penasaran. Ternyata Ata memang tidak sedang memandangnya. Matanya sekarang tengah sibuk menatap keluar jendela. Badannya tegak dan tegang.
“Ri,” panggil Ata dengan suara tercekat, memecah keheningan yang tercipta terlalu tiba-tiba. “Jangan bilang kita mau ke...”
“Ya,” potong Ari dari depan. Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Ketegangan yang sama juga dirasakannya. “Kita ke sana.”
Ari menoleh sekilas pada Mama yang diam membeku. Melihat ekspresi di wajah mamanya, Ari memutuskan untuk tidak berkata apa-apa. Ia yakin Mama dan Ata sangat mengenali jalan ini. Diinjaknya pedal gas semakin dalam, mempercepat mereka sampai ke tujuan. Obrolan menyenangkan sepanjang perjalanan membuat semua orang, kecuali Ari, tidak sadar bahwa mobil telah memasuki daerah luar kota. Jalannya pun telah berubah, dari yang awalnya jalan raya yang lebar dan ramai, jalan yang kini mereka lalui sempit dan cenderung naik. Meski bodi mobil tergolong cukup besar, Ari begitu terlatih untuk tetap menjalankannya dengan mulus di jalanan sempit ini.
Menit-menit berlalu dalam keheningan yang tidak wajar. Tari dan mamanya yang tidak mengerti apa yang terjadi, juga ikutan diam. Tari kini terang-terangan menatap Ata, berusaha mendapatkan jawaban, namun cowok itu masih sibuk menatap ke luar sana. Sama sekali tak peduli lagi padanya. Akhirnya keterdiaman mereka pecah ketika Ari menghentikan mobil di sebuah tempat parkir.
Ari keluar dan segera membukakan pintu untuk mamanya. “Ma?” panggil Ari sembari mengguncang pelan tubuh sang Mama yang sudah turun dari mobil dengan kondisi seperti mayat hidup. Pucat. Kaku. Dingin. “Mama baik-baik aja?”
“Tempat ini,” bisik Mama yang seolah kehilangan kesadaran dan akal sehatnya.
Ari tahu mamanya tak akan sanggup menahan tangis. Ia sudah bisa memperkirakan hal itu sejak berjam-jam yang lalu. Dipeluknya tubuh sang Mama, yang langsung menumpahkan tangis di sana.
“Tempat ini, Ri...”
Ari menghela napas, mengusir sesak yang makin lama makin menghimpit seiring dengan air mata Mama yang jatuh di dadanya. Cowok itu malah kehilangan ketenangannya sendiri yang seharusnya ia bagi kepada Mama. Jadi bukan kata-kata menenangkan yang bisa ia beri sekarang, hanya pelukan erat dan kecupan di dahi untuk mamanya.
Ya. Tempat ini. Ari sering mengunjungi tempat ini kala ia terpuruk. Ketika ia kehilangan kekuatannya. Ketika kesepian kembali mendera. Ketika kekosongan berhasil menguasai hatinya. Ketika kesakitan sukses meruntuhkan benteng pertahanannya. Kepada tempat ini ia mengadu seluruh luka. Kepada sang matahari senja ia tunjukkan tetesan air mata. Tanpa segala topeng yang selama ini telah ia kenakan.
Tak ada rahasia antara dirinya dan tempat ini. Tempat ini mengetahui keseluruhan alur hidupnya. Menjadi saksi bisu atas segala cerita tentang keluarganya. Masa-masa bahagia yang kemudian digantikan dengan masa-masa kelam, yang membuat Ari terluka di setiap detiknya. Tempat inilah yang selalu menjadi tempat pelarian. Menjadi tempatnya berpegangan. Dengan melihat setiap detail, hingga kemudian Ari percaya bahwa kenangan bahagia antara dirinya, Mama, Papa, dan Ata bukan sekadar mimpi belaka. Semuanya memang pernah ada. Semuanya realita.
Kesadaran itu membantunya mendapatkan kekuatan kembali. Menutup seluruh luka untuk sementara. Membangun kembali benteng dalam dirinya, yang semakin lama kekokohannya semakin dipertanyakan. Serta memperbaiki setiap topeng dan jubah untuk dikenakannya lagi di dunia luar, tempat di mana ia tak bisa menjadi dirinya sendiri.
Mama terluka karena lebih dari sembilan tahun lamanya tempat ini tak pernah ia injak kembali. Di antara sekian banyak kenangan dalam kepalanya, tempat ini yang selalu dirindukannya. Bukan rumah lamanya. Bukan rumah Lidya. Tapi tempat ini. Tempat yang seketika mengingatkannya pada seribu satu cerita di masa lalu. Juga mengingatkannya bahwa dulu keluarga mereka pernah tertawa bersama. Di sini. Di tempat ini. Merajut cinta. Berbagi canda. Hingga semuanya kini tak lagi ada. Semua kisah indah itu. Apalagi yang disebut keluarga. Juga kue-kue perbekalan yang dulu selalu menemani mereka. Semuanya menghilang begitu saja.
Ata menatap Mama dan adik kembarnya yang sedang berpelukan dengan perasaan campur aduk. Ia sendiri sebenarnya tak kalah kalutnya dengan Mama setelah mengetahui Ari membawa mereka ke tempat ini. Tubuhnya sempat terhuyung sesaat begitu turun dari mobil, yang untungnya dengan sigap dipegangi oleh Tante Lidya hingga ia tidak sampai tersungkur ke tanah. Tante Lidya menuntunnya pelan-pelan ke Mama dan Ari. Begitu tiba di dekat mereka, Mama melepaskan Ari dan ganti memeluknya. Keduanya terguncang. Tenggelam dalam lautan memori yang membanjiri kepala mereka.
Ari perlahan menyeka setitik air mata yang nyaris meluncur turun dari sudut mata menggunakan ujung lengan kaus, kemudian ia menghampiri Tari dan mamanya yang hanya berdiri diam menyaksikan.
“Maaf, Tante. Kami terlalu emosional di tempat ini. Karena...”
“Tante tahu,” sela mama Tari sambil tersenyum. Disentuhnya bahu kanan Ari dan diusapnya lembut. “Tante mengerti. Tempat ini pasti punya kenangan tersendiri buat kalian.”
Ari mengangguk-angguk, membenarkan perkataan mama Tari. “Kalo gitu, ayo masuk.”
Sementara mama Tari berjalan mendekati mamanya yang masih menangis, tatapan Ari beralih pada gadis di depannya. “Yuk, Tar.”
Keduanya melangkah beriringan. Ari tidak membuka mulut sampai mereka tiba di salah satu saung yang menghadap ke barat. Saung tua favoritnya. Sudah hampir pukul 5 sore. Senja mulai turun di cakrawala. Menyambut kedatangan dua matahari senja lain yang sekarang duduk bersama di ujung saung.
“Indah banget ya,” desah Tari tanpa melepas tatapannya dari langit berwarna lembayung jingga yang menyuguhkan pesona alam matahari terbenam.
“Ya. Itu salah satu alasan gue suka berada di sini,” sahut Ari, juga tanpa mengalihkan perhatiannya dari langit barat. “Ini tempat favorit gue.”
“Boleh gue ikut duduk?” Sebuah suara berat menyela di belakang mereka. Ata. Sosok matahari yang lain. Ari menoleh ke belakang, dan bisa ia lihat, Mama, mama Tari, dan Tante Lidya duduk di meja yang ada di bekalang sana. Mama sudah terlihat lebih tenang, bahkan melempar senyum padanya. Ketiga wanita itu kemudian mengeluarkan dan menata perbekalan.
“Boleh,” jawab Ari, kemudian bergeser ke kiri. Tari juga ikut bergeser. Tak ayal, posisi duduk Tari kini diapit oleh dua matahari. Sementara dirinya sendiri juga matahari. Seperti ada jalinan dalam posisi duduk ini yang berhubungan dengan semua peristiwa yang terjadi di antara mereka.
Ari, yang awalnya selalu duduk sendiri, hingga kemudian Tari datang dalam hidupnya, mendampingi dan mengantarkannya pada Ata. Ari menganggap makna tersirat dari posisi duduk mereka seperti itu. Tari adalah jembatan pengubung antara dirinya dan Ata, hingga ia merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjaga jembatan tadi. Sayang, dia tak tahu apa yang ada di pikiran saudara kembarnya tentang posisi duduk ini.
Ata diam-diam melirik Tari yang duduk tepat di sebelahnya. Kata maaf berulang kali terucap dalam hatinya. Ditujukan kepada saudara kembarnya, juga kepada seseorang yang menyandang nama serupa dengannya. Permohonan maaf yang sengaja ia ucapkan lebih awal, namun tanpa suara. Membiarkannya bergema dalam tempurung kepala. Karena Ata tahu, percuma kata maaf itu ia utarakan. Akan sia-sia saja.

***

Tari merentangkan tangan untuk meregangkan otot. Sudah pukul sebelas malam lewat. Mungkin meminum secangkir susu cokelat panas ide yang baik untuk menyegarkan pikiran setelah beberapa saat yang lalu ia paksakan untuk menyelesaikan PR Kimia. Tugas yang cukup berat untuk otaknya yang seharian ini sudah bekerja keras menghadapi berbagai masalah. Beberapa menit kemudian, ponselnya menjerit-jerit minta diangkat. Tari tergopoh-gopoh melesat dari dapur ke kamar sambil menjaga agar susu cokelat panas di tangannya tidak tumpah dari cangkir.
“Halo?”
“Udah tidur?” sapa suara dari seberang. Ari.
“Belom. Baru aja ngerjain tugas Kimia.”
“Sampe jam segini?”
“Susah, tau,” gerutu Tari. “Gue bukan elo yang otaknya encer kalo disuruh ngerjain Kimia.”
“Kenapa tadi nggak minta tolong gue? Gue bisa bantu elo besok pagi.”
“Udah selesai, kok. Lagian kalo dibantuin terus, kapan gue pinternya?”
Ari tertawa pelan. Suara tawa itu merembet ke bibir Tari, membuatnya melengkung lebar. Tari suka mendengar Ari tertawa. Bukan tawa kejam apalagi tawa penuh kemenangan seperti yang sering didengarnya selama ini. Namun tawa yang hangat dan ringan tanpa beban.
“Ya udah. Belajar yang serius. Gue nggak mau punya cewek bego.”
“Heh, sembarangan.” Tari jadi cemberut, kemudian menghirup susu panasnya pelan-pelan.
“Tar?”
“Mm?”
Thanks buat tadi sore.”
Bibir Tari kembali tersenyum. “Sama-sama. Gimana Nyokap lo?”
“Nyokap tadi udah janji, dia bakalan buang jauh-jauh semua kenangan tentang Bokap, dan akan bikin kenangan baru. Cuma sama gue dan Ata.”
“Ya. Sepertinya memang itu cara terbaik yang bisa dilakukan Nyokap lo.”
Tari mendengar Ari menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.
“Ada apa, Ri?”
“Kak,” tegur Ari. “Lo harus manggil gue “Kak”. Mana sopan santun lo sama senior?”
“Dih, gila hormat,” cibir Tari jengkel. “Dipanggil “Kak” kok malah bangga. Itu menunjukkan kalo lo itu udah tua. Dasar kakek-kakek.”
“Eh, malah ngelunjak lo ya. Lo...”
“Iya, iya, Kakak Ariii,” potong Tari. Males kalau harus mendengar cowok itu mulai melontarkan ancaman seenak jidat. “Gue ulang, deh. Ada apa, Kak?” Tari sengaja menekankan satu kata itu.
“Nggak ada apa-apa. Cuma mau bilang makasih.”
“Tadi kan udah. Ngapain bilang lagi?”
Ada jeda beberapa detik di antara mereka sebelum Ari membuka mulut lagi. “Tar,” panggilnya dengan nada suara yang disukai Tari. Begitu lembut dan menyusup jauh ke dalam hati. “Makasih udah mau hadir dalam hidup gue.”
Tari kembali meminum susunya. “Lo udah sering banget bilang makasih ke gue untuk hal itu.”
“Karena gue mau lo tau kalo gue emang bersyukur banget. Ya udah, tidur gih sekarang. Udah hampir tengah malem. Besok pagi gue jemput kayak biasa.”
“Baiklah. Selamat malam, Kak,” ucap Tari dengan penuh kesopanan dan gaya formal. Setelah menutup telepon, ia cekikikan geli sambil geleng-geleng kepala. “Dasar, Kakak. Selalu seenaknya sendiri.”



Bersambung...