Selasa, 06 Januari 2015

Jingga untuk Matahari #fanfiction-12

Senin pagi. Ata membuka matanya yang berat. Tubuhnya sangat lelah setelah perjalanan jauh dari Jakarta ke Malang, ditambah ia tidak bisa langsung beristirahat karena seluruh anggota keluarganya beramai-ramai menanyakan tentang keadaan Ari di Jakarta. Ata membiarkan Mama untuk tidur lebih dulu, dan dia yang dengan terpaksa menanggapi setiap pertanyaan yang terlontar, yang kebanyakan ia jawab dengan, “Ari sehat dan baik-baik aja. Serius!”
Tengah malam, barulah anggota keluarganya “melepaskannya” dari banjiran pertanyaan. Ata menyeret tubuh ke kamar di mana ia harus berbagi dengan Mama. Dilihatnya Mama telah terlelap tanpa sempat mengganti baju. Ata menyelimuti wanita itu dan mengecup keningnya lembut, setelah itu ia ikut terlelap di samping mamanya. Ia bahkan lupa mengabari saudara kembarnya tentang kepulangan mereka.
“Ata? Kamu udah bangun? Yuk, sarapan.”
Ata bangkit duduk. Mama sepertinya telah mandi dan sekarang berdiri di ambang pintu. Sejak pertama kali mereka menginjak rumah ini, inilah pertama kalinya Ata melihat wajah Mama begitu berseri.
“Oke, Ma. Ata mandi dulu,” sahutnya agak curiga.
“Cepet ya. Jangan lama-lama mandinya. Semuanya udah nunggu di ruang makan,” seru Mama tertahan, kemudian berlalu dari hadapannya.
Ata semakin curiga, jadi ia memutuskan untuk segera mandi dan turun ke ruang makan. Sambil melangkah ke kamar mandi, ia memijit tengkuknya yang pegal. Sebenarnya dia ingin tidur seharian ini, tapi ia harus berangkat bekerja. Bosnya sudah begitu baik memberi toleransi waktu untuk cuti selama sebulan, jadi Ata tidak ingin membuang-buang waktu kerjanya lagi karena keuangan mereka menipis.
Ata mandi secepat yang ia bisa, lalu turun setelah berpakaian. Di tengah tangga pun ia bisa mendengar ramainya suara keluarga mereka dari arah ruang makan. Biasanya memang ramai, tapi sepertinya tidak pernah seheboh ini sampai Mbah Kakung tertawa-tawa dan Mbah Uti berceloteh panjang lebar. Tanda tanya di benaknya semakin besar.
Dengan melompati setiap dua anak tangga sekaligus, Ata tiba di ambang pintu ruang makan setelah beberapa langkah lebar. Matanya mengamati keramaian yang tercipta tidak wajar di ruangan itu, mencoba mencari sebabnya. Sampai kemudian “sebab” itu sendiri yang menoleh ke arahnya.
Ata terpaku. Beberapa meter di depannya, duduk di bangku yang biasa ia duduki saat makan, seseorang yang menyerupai dirinya menoleh, kemudian tersenyum. “Eh, Ta. Udah selesai mandinya? Ayo, makan. Ditungguin lama banget,” panggil orang itu.
Ata justru terpaku. Tidak memercayai pengelihatannya. Ari ada di sini? Di rumahnya? Di Malang?? Mustahil! Tapi siapa lagi di dunia ini yang memiliki wajah begitu serupa dengan dirinya selain Ari?
Ata sadar semua orang di ruangan itu sekarang tengah menatapnya, tapi Ata tidak peduli. Tatapannya tidak lepas dari Ari. Ia yakin mulutnya menganga lebar dan ekspresinya jadi tidak keruan.
“Ata?” tegur Mama, menyentakkan Ata hingga cowok itu tergeragap. “Eh, iya, Ma.” Tubuhnya bergerak kaku mengambil kursi plastik yang kemudian ia letakkan di sebelah Ari. Diam-diam saudara kembarnya itu tersenyum geli.
“Kaget banget ya?” tanyanya.
“Bukan kaget lagi, Ri,” gerutu Ata yang sudah berhasil mengendalikan diri. “Gue yakin jantung gue jatoh ke lantai tadi.”
Ari tertawa, diikuti beberapa anggota keluarganya, sementara Mama tersenyum sambil mengambilkan nasi di piring Ari.
“Kapan nyampe?”
“Baru aja. Pas lo masih molor.”
“Kenapa nggak bilang-bilang sih kalo mau ke sini?”
“Lo sendiri nggak bilang-bilang kalo lo sama Mama mau pulang,” protes Ari. “Lo nggak tau gue kagetnya kayak apa pas tau kalian udah balik ke sini. Kenapa nggak kabar-kabar dulu?”
“Maafin kami, Ri,” sahut Mama. “Ari mau makan pake apa?” tawarnya tanpa meneruskan permintaan maafnya barusan.
Ari menatap ke meja makan makan. Tempe dan tahu bacem, tumis kangkung, sawi rebus, sambal terasi, juga kerupuk. Memang begitu sederhana, namun berhasil membuat bibirnya terkembang lebar. “Apa aja boleh, Ma. Ari nggak bakal nolak.”
Mama mengambilkan lauk pauk, kemudian meletakkan piring di hadapan Ari.
“Nggak sekalian minta disuapin?” sindir Ata. “Asal kalian tau. Di Jakarta, Ari selalu minta disuapin Mama.”
“Nggak, deng. Bo'ong tuh,” tukas Ari.
“Idih, kapan gue bo'ong? Tanya aja Mama kalo nggak percaya.”
Seluruh anggota keluarganya lagi-lagi tertawa. Ari menghela napas. “Terserah, deh. Pokoknya beberapa hari ini Mama jadi milik gue.”
“Ee, udah, udah. Ayo makan. Ata mau Mama ambilin juga?” Mama menengahi.
“Nggak usah, Ma.” Ata mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk. Baru saja akan menyuapkan sesendok nasi ke mulut, cowok itu menyadari sesuatu. “Beberapa hari? Maksudnya, lo mau tinggal di sini beberapa hari?”
Ari mengangguk. “Boleh, kan?” tanyanya, bukan kepada Ata, melainkan kepada anggota keluarga yang lain.
Mbah Uti yang pertama menyahut, “Kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu mau, Nang. Tapi ya kayak gini ini rumah Mbah Kakung sama Mbah Uti, sederhana. Ndak kayak rumah kamu di Jakarta. Tidurnya juga desek-desekan. Kamu betah ndak?”
“Jangan khawatir. Ari nggak keberatan disuruh tidur di lantai asal serumah sama kalian,” jawab Ari. Ditatapnya Mbah Uti yang juga balas menatapnya dengan haru. Betapa ia merindukan sosok tua ini. Tadi saat tiba di sini, orang kedua yang dipeluknya paling erat dan paling lama setelah Mama adalah Mbah Uti. Ari sempat takut wanita tua ini terkena serangan jantung saat ia mengucapkan kata-kata, “Ini... Ari... Uti. Ini bukan Ata. Ini Ari. Dari Jakarta.” Ari bersumpah ia tidak merasakan jantung Mbah Uti berdetak saat mereka berpelukan. Tapi kemudian Mbah Uti terisak sambil menyebut namanya, membuat dirinya juga tidak bisa menahan air mata.
“Nanti Ari tidur sama Ata di kamar Mama. Biar Mama tidur sama Budhe Yani. Kebetulan Pakdhe Heru lagi tugas di Medan beberapa minggu,” kata Mama, dan seperti kebiasannya di Jakarta, tangannya dengan lembut mengusap-usap punggung Ari di sebelahnya.
“Siap, Ma!” Ari mengangguk patuh.
Suasana kembali riuh. Mereka menikmati sarapan sambil mengobrol dan bercanda. Ari merasa dadanya sesak oleh kehangatan. Suasana seperti ini yang setengah mati ia rindukan. Makanan paling sederhana pun bisa menjadi sangat lezat di lidahnya. Ia tidak akan melepaskan lagi kebahagiaan ini. Tidak akan pernah!

***

“Ma, Ata berangkat kerja dulu.” Ata mencium tangan dan kening Mama yang masih mengobrol dengan Ari di ruang keluarga.
Mama balas mencium kedua pipi Ata. “Ati-ati, Sayang.”
Ata mengangguk. Kemudian beralih kepada Ari. “Gue berangkat dulu, bro.”
“Gue ikut!” Mendadak Ari berdiri dari sofa.
“Ikut? Ikut kemana?”
“Ikut ke tempat kerja elo, lah.”
Ata membelalak. “Serius, nih? Gue kerja sampe malem hari ini, Ri. Lo bisa mati bosen di sana.”
“Gue bisa jalan-jalan ntar kalo bosen.”
“Emangnya kamu tau daerah Malang?” tanya Mama sangsi. “Ntar kesasar, lho.”
Namun Ari tetap bersikukuh. “Bisa nyari taksi. Ari kan tau alamat sini.”
“Dasar ngeyel,” dengus Ata, membuat saudara kembarnya nyengir. “Ya udah. Ntar gue anter jalan-jalan sebentar pas makan siang.”
“Yes! Yuk berangkat. Daah, Ma!” Ari menyeret tangan Ata keluar rumah. Mama hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.

***

Ari dan Ata berjalan kaki menyusuri kompleks perumahan yang agak kumuh itu. Sepanjang jalan, beberapa tetangga yang disapa Ata hanya bisa melongo saat melihat cowok itu mendadak ada dua. Berkali-kali pula Ari dan Ata menahan tawa melihat ekspresi orang-orang tadi.
“Gila, mereka kayak abis liat hantu aja,” komentar Ari setengah tertawa saat untuk kedua kalinya “kejutan” dari mereka hampir membuat orang nyaris terjungkal dari sepeda.
“Elo sih, maksa ikut. Gue bakal jadi berita nih di penjuru kampung,” gerutu Ata pura-pura jengkel.
Ari merangkul bahu Ata. “Tenang aja, bro. Kita adepin bersama.”
Keduanya tiba di depan kompleks, kemudian naik angkutan umum. Harus berganti angkutan umum sekali lagi untuk tiba di tempat Ata bekerja. Ata berjalan memasuki bengkel yang lumayan besar itu, sambil mengisyaratkan agar Ari mengikutinya. Ia menepuk pundak seorang laki-laki bertubuh besar yang sedang membungkuk mengerjakan sesuatu di dalam kap depan sebuah mobil. Orang itu berdiri dan menoleh.
“Bos, kenalin. Ini saudara kembarku dari Jakarta. Namanya Ari.”
Ari mengulurkan tangan, yang segera disambut ramah oleh laki-laki gondrong dengan lengan penuh tato itu. “Ooh, jadi ini toh saudara kamu itu. Hei, panggil aja aku Gerry, bos saudara kamu ini.”
Ari mengangguk-angguk. Kemudian ia diperkenalkan juga dengan teman-teman Ata yang lain.
“Ya udah, Bos. Ada kerjaan?” tanya Ata sambil melepas kausnya, hingga ia hanya mengenakan kaus dalam.
“Tuh, ada sedan. Baru aja masuk.”
“Oke.” Ata menoleh ke arah Ari yang masih sibuk melihat-lihat sekeliling. “Ri, sekarang terserah elo mau ngapain. Gue mau kerja. Kalo mau pergi kabar-kabar dulu.”
Ari kembali mengangguk-angguk. “Gue tunggu lo aja deh di sini.”
Ata mengangkat bahu sambil menggumamkan kata “terserah”. Ia melangkah ke sedan yang sudah terparkir di salah satu sudut bengkel. Setelah menyiapkan peralatannya, Ata membuka kap mesin depan. “Lo kenapa tiba-tiba ke sini, sih?” tanya cowok itu setelah beberapa saat mengutak-atik mesin di depannya. “Bukannya gue nggak seneng lo tinggal di sini, sumpah. Tapi gimana dengan kehidupan lo di Jakarta? Sekolah lo? Bokap? Tari?”
Ari yang sejak tadi berdiri bersandar pada jeep di sebelah sedan yang sedang dikerjakan Ata, merenungkan pertanyaan saudaranya beberapa saat. “Jujur aja, waktu gue berangkat ke sini, gue nggak mikirin itu semua. Yang gue tau, gue harus nyusul kalian saat itu juga.”
Gerakan Ata terhenti. Ia menegakkan badan menatap Ari. “Lo nggak pamit sama Tari?”
Ari menggeleng. “Gue bahkan belom sempet bicara sama dia sejak hari Sabtu.”
“Kenapa? Lagi berantem?”
Ari tercenung sejenak, lalu menggeleng-geleng lagi. “Nggak. Kami nggak berantem,” jawabnya, enggan menyinggung permasalahan yang sedang terjadi antara dirinya dan gadis itu di depan Ata. Ari sendiri juga sebenarnya belum memahami betul apa permasalahan itu.
Ata kembali membungkuk untuk meneruskan pekerjaannya. “Mungkin lo harus segera kabarin dia. Dia pasti khawatir kalo lo mendadak ngilang gini.”
Ari terdiam. Matanya menatap kosong ke lantai sementara pikirannya berkecamuk hebat. “Ta?” panggilnya pelan setelah beberapa saat.
“Hm?”
“Gue mau mutusin dia.”
“Apa?! Adauw!” Ata meringis sambil mengusap kepalanya yang terantuk kap mobil saking mendadaknya ia menegakkan punggung. “Lo serius, Ri?” serunya kaget. “Nggak, nggak mungkin. Lo pasti lagi bercanda, kan?”
Ari menghela napas berat. “Gue belom yakin, sih. Tapi gue sempet berpikir kalo gue bakal tinggal di Malang selamanya. Jadi nggak mungkin kan gue nahan Tari tetep sama gue, cowok yang tega ninggalin dia gitu aja?”
Ata ternganga. “Gila lo. Lo tau kalo itu nggak mungkin terjadi, Ri. Kok lo nggak mikirin konsekuensinya, sih? Bokap bakal nyariin elo, dan masalahnya tambah berbuntut-buntut ntar.”
“Kalo gitu lo aja yang balik ke Jakarta!” ucap Ari tajam. “Lo mau hidup sama Bokap, kan? Silahkan aja lo gantiin gue di sana. Gue nggak keberatan kalo harus kerja di sini. Gue nggak keberatan kalo harus putus sekolah.”
Ata semakin ternganga. Matanya menyipit. “Ri, tarik ucapan lo!”
“Nggak bakal!” bentak Ari. Kemudian cowok itu kembali menghela napas sambil membuang muka. “Gue tau ini gila, Ta. Tapi apa lo nggak mau coba? Gue bisa belajar hidup di sini. Sementara lo yang lebih pinter bergaul bakal bisa nyesuaiin diri di sana. Lo nggak harus ngobrol dengan Bokap biar kalian serumah. Bokap nggak akan ngira kalo itu adalah elo, bukan gue...”
“Oke, oke. Cukup,” potong Ata. “Gue nggak mau denger apa-apa lagi. Lebih baik lo diem, dan pikirin kembali keputusan sinting lo itu.”
Kedua kembar itu lalu saling diam. Ari kembali menatap kosong ke lantai, menuruti perintah Ata untuk berpikir ulang sementara saudara kembarnya itu kembali bekerja. Mendadak ponselnya bergetar. Ari menatap layar ponselnya dalam diam setelah meraih benda itu dari saku celana. Nama Tari tertera di sana.
“Kenapa nggak diangkat?” tanya Ata yang mendadak sudah berdiri di depannya dan ikut menatap layar ponsel Ari.
Ari menggeleng, kemudian mematikan ponselnya.

***

“Nggak diangkat, Kak,” lapor Tari pada Ridho yang masih duduk di depannya. Tari mencoba menghubungi nomor Ari sekali lagi, tapi nihil. Ia menggeleng lemas. “Sekarang malah nggak aktif.”
Ridho menjambak rambutnya sendiri dengan gemas. “Apa sih yang dipikirin tu anak? Bikin khawatir aja.”
Tari menyandarkan punggungnya ke dinding. Tangannya mengetik pesan singkat untuk Ari, yang entah kapan akan dibaca oleh cowok itu.
“Tar?”
“Hm?”
“Gue minta maaf. Gara-gara gue ngasih foto itu ke Ari, dia jadi salah paham.”
Tari menghembuskan napas perlahan. “Nggak perlu minta maaf. Bukan salah elo sama Kak Oji, kok. Yuk, Kak. Kita ke kantin aja nyusulin Kak Oji.” Setelah memasukkan ponsel ke dalam tas, Tari bangkit berdiri sambil menyandang tasnya.
“Lo nggak mau balik ke kelas? Lo kan nggak kena hukuman juga dari gue sama Oji?” Ridho ikut berdiri sambil menenteng tas milik Fio dan Nyoman.
Tari lagi-lagi menggeleng. “Nggak. Ini namanya setia kawan, Kak. Kalo sahabat lagi kena bencana, ya kita musti ikutan susah, dong.”
Senyuman geli kontan terbentuk di bibir Ridho. “Halah, ngeles mulu. Bilang aja lo lagi males pelajaran.”
“Nah, itu lo tau!”
“Emang dasar lo ya!” Senyuman Ridho berubah menjadi cengiran lebar. “Udah bener-bener ketularan Ari. Ati-ati deh, Tar. Jangan bandel-bandel kayak dia. Apalagi lo tuh cewek, masih kelas sepuluh pula.”
Mau tak mau Tari ikutan nyengir. “Mau gimana lagi, Kak? Gue emang lagi males pelajaran, sih. Salah Kak Ari juga bikin gue cemas kayak gini. Udah, yuk ah, ke kantin.”

***

“Bos, aku keluar dulu. Jalan-jalan sebentar.”
Gerry mengangguk mengizinkan. Ari dan Ata berjalan keluar bengkel, kemudian mencari angkutan umum.
“Mau ke mana, Ta?” tanya Ari setelah mereka mendapatkan sebuah angkutan.
“Nyari makan, lah.”
“Ya gue tau kalo itu. Makan di mana maksud gue?”
“Lo minta makan di mana?”
“Kalo gue sih terserah. Warteg juga nggak masalah,” sahut Ari yang masih terus menatap ke luar jendela untuk melihat-lihat suasana kota Malang saat siang hari.
“Oke. Kita ke warteg langganan gue aja. Lo mau nambah nasi sebakul sama minum segalon juga gratis.”
Butuh waktu lima menit naik angkutan umum untuk tiba di warteg langganan Ata. Setelah masing-masing memesan seporsi nasi rames, mereka mengambil tempat duduk di pinggir jendela.
“Ta?” panggil Ari, membuka percakapan. “Gimana dengan sekolah lo?”
Tatapan Ata menerawang ke depan. “Sebenernya gue udah cabut sekolah sejak beberapa bulan yang lalu. Gue nggak bisa fokus sekolah sementara gue harus nyari penghasilan buat gue sama Mama. Lo tau sendiri, lah. Lagian juga gue udah punya kerjaan dan gaji tetap.” Ata menepuk bahu Ari di depannya. “Makanya, lo yang masih punya kesempatan nerusin sekolah, manfaatin baik-baik, Ri. Gue tau lo juga pusing sama keadaan keluarga kita. Tapi cobalah, tahan dikit lagi. Lo udah kelas 12, udah mau lulus. Paling nggak lo tamatin SMA, setelah itu lo bebas mau ngapain aja. Lo boleh nerusin kuliah di Malang, kalo itu keinginan elo. Tapi jangan cabut sekarang. Pikirin juga perasaan Tari.”
Ari tercenung mendengarnya. Sampai nasi pesanannya datang, cowok itu masih tetap bergeming memikirkan kata-kata Ata.
“Udahlah. Tuh, dimakan dulu nasinya, sebelom dikerubutin laler.”
Ari meraih piringnya, kemudian mengambil sendok. “Gue awalnya juga mikir gitu, Ta,” kata Ari pelan sambil mengelap sendoknya menggunakan tisu. “Gue musti kelarin dulu SMA di Jakarta, baru setelah itu pindah ke Malang. Tapi begitu lo sama Mama balik ke sini, gue takut. Gue takut kalian bakal pergi lagi dan nggak pernah kembali, dan gue udah bersumpah nggak akan biarin kita pisahan lagi.”
Keduanya lalu meneruskan makan dalam diam. Saat nasinya tinggal setengah piring, tiba-tiba sebersit ide lain timbul di benak Ari. Gerakan makannya terhenti. Bahkan cowok itu mendadak meletakkan sendok dan mendorong piringnya menjauh.
“Ta, dengerin gue.”
Ata jadi ikut berhenti makan. Ia mendongak menatap Ari dengan kedua alis terangkat.
“Telen dulu, deh. Gue takut lo keselek kalo denger permintaan gue,” kata Ari.
Ata menuruti kata-kata Ari, karena dia sendiri takut Ari bakalan membuatnya kena serangan jantung dengan pikiran-pikirannya yang akhir-akhir ini semakin tidak masuk akal.
“Udah? Oke, jadi gini. Lo mau gue tetep nerusin sekolah? Lo mau gue balik ke Jakarta? Fine, gue turutin. Tapi dengan satu syarat.”
“Apaan?”
“Lo ikut gue balik ke Jakarta. Juga Mama. Lo tinggal di sana, dan nemenin gue sekolah juga di sana sampe kita berdua lulus. Setelah itu kita bisa balik lagi ke Malang.”
Tanpa ada makanan di mulut pun Ata nyaris keselek mendengar syarat yang diajukan Ari. Cowok itu mencoba mencerna permintaan saudara kembarnya. “Tapi...”
“Soal biaya... plis, Ta. Sekali ini aja. Kita pake duit Papa. Karena itu juga sebenernya udah jadi duit gue karena masuk di rekening gue. Kita beli rumah di sana. Ato paling nggak nyari kontrakan dulu buat elo sama Mama. Gimana? Ini ide udah lebih masuk akal, Ta, dibanding ide gue yang tadi.”
“Ck, lo ternyata masih nggak ngerti juga ya.” Ata menggelengkan kepala. “Nggak bisa segampang itu, Ri.”
“Ayolaah...” Ari mengibaskan tangan. “Apa lagi sih masalahnya?”
“Lo lupa sama anceman Papa? Gimana kalo dia mergokin kita ketemuan lagi? Malahan, kalo dia tau lo ke Malang saat ini, mungkin lo udah dikirim ke luar angkasa, Ri.”
Rahang Ari mengeras. “Dia nggak punya hak buat ngatur hidup gue!” desisnya berang begitu diingatkan akan ancaman ayahnya. “Gue bebas ketemu sama siapapun yang ingin gue temui. Termasuk kalian. Dan kalo emang dia udah nggak mau nganggep gue sebagai anak lagi, silahkaan. Gue dengan senang hati ngelepasin jabatan itu.”
“Ari, lo kalo ngomong dipikir dulu, deh,” sahut Ata kesal.
“Tapi beneran, Ta.” Ari menatap Ata dengan sorot lelah. “Tinggal sama Papa itu sama aja rasanya kayak nggak punya ayah. Kita bakal sering ditinggal, dibiarin hidup sendiri. Apa sih yang bisa dipertahanin kalo kayak gitu?”
Ata menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya begitu perlahan. “Gue nggak bisa mutusin secepat ini. Semua ini masalah yang menyangkut masa depan kita, juga Mama. Mungkin lo yang harus bilang sendiri ke Mama.”
“Oke. Kalo misal Mama mau...”
“Mama nggak mungkin mau.”
“Misal, Taaa. Misal! Kalo misal Mama mau, lo sendiri gimana?”
Ata mengangkat bahu. “Mau gimana lagi? Ngebiarin Mama diangkut ke Jakarta sama lo sementara gue tinggal di Malang tanpa orang tua? No way! Gue ikut! Tapi beneran, deh. Mama nggak bakal setuju.”
“Liat aja ntar,” sahut Ari dengan senyum penuh keyakinan.

***

Tari menghabiskan hari itu dengan pikiran tidak tenang. Belum ada kabar dari Ari. Ia memang belum mencoba menghubungi cowok itu lagi sejak mengirim SMS terakhir tadi pagi. Ia tahu menelepon cowok itu akan menjadi hal sia-sia. Hingga kini malam harinya, ia masih duduk di depan meja belajar meski sudah pukul sebelas malam. Matanya memelototi layar ponsel. “Lo kemana sih, Kak?” desisnya pelan.
Sementara itu di waktu bersamaan, ratusan kilometer jauhnya dari kamar Tari, Ari juga tengah duduk di tempat tidur yang digunakannya bersama Ata. Ata sudah terlelap sejak tadi, sementara Ari masih menatap layar ponselnya yang menampilkan SMS dari Tari belasan jam yang lalu.

Kak, lo kmn? Plis, gw mau ngmong

Ari meraih selembar foto dari saku celananya. Foto yang selalu ia bawa kemana-mana. Hatinya kembali terbakar setiap melihat foto itu. Ia memang butuh penjelasan. Ia memang ingin Tari bicara. Tapi tidak lewat telepon. Ia ingin melihat langsung ke mata cewek itu untuk mengetahui kebenarannya.
Tari menggigit bibir gelisah. Setelah berpikir keras, akhirnya ia mengambil sebuah keputusan. Diketiknya sebuah pesan dan dikirimnya pesan itu ke Ari. Ia yakin isi dari SMS itu akan membuat Ari menelponnya saat itu juga.
Ponsel di tangannya bergetar pelan, menandakan pesan masuk. Seperti dugaannya, pesan dari Tari. Ari membuka pesan itu.

Kak, gw diapa-apain sm Angga tadi

Tepat sasaran! Tanpa berpikir dua kali, Ari langsung menekan-nekan nomor Tari untuk menghubungi gadis itu. Begitu diangkat, yang didengarnya pertama kali adalah isakan Tari, membuatnya panik seketika.
“Tar! Tari! Lo kenapa?” seru Ari dengan nada cemas setengah mati. Tapi Tari masih menangis di seberang sana. “Tari, jawab gue!” Betapa Ari ingin berlari sampai ke Jakarta untuk memeluk gadisnya itu. Dalam hati, ia melontarkan seribu satu sumpah serapah dan umpatan untuk dirinya sendiri. Tentang begitu bodoh dan teganya ia meninggalkan Tari tanpa pengawasan, begitu gegabahnya ia pergi ke Malang tanpa memberitahu siapapun, tentang...
“Tari, plis... Lo diapain sama Angga?” suara Ari memelas. Berbagai macam pikiran buruk membanjiri benaknya. Dan kalau memang telah terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini untuk memperbaiki keadaan, saat dirinya terpisah jauh dari gadis itu. “Tar...”
“Kak,” potong Tari setengah terisak. “Sebenernya, gue... gue nggak papa. Angga nggak macem-macem sama gue.”
“Apa?” Kening Ari kontan berkerut dalam. “Trus apa maksud lo ngirim SMS kayak gitu ke gue? Kenapa lo nangis?”
“Lo boleh marahin gue sepuasnya. Tapi gue emang bohong. Gue nggak diapa-apain sama Angga. Gue cuma mau ngomong sama elo. Gue nangis karena... lo nggak tau gimana leganya gue pas lo telepon tadi.”
Ari tertegun. Pikiran-pikiran buruk itu seketika sirna, digantikan berbagai macam perasaan yang bergejolak dalam hatinya. Marah, jengkel, geli, gemas, lega, juga senang. Kalau saja Tari ada di depannya, entah sudah dia apakan gadis itu. Mengacak rambutnya, memeluknya, atau mungkin, diberinya satu cium!
“Kak Ari, tolong jangan ditutup. Gue mau ngomong,” kata Tari dengan suara yang lebih tenang. “Gue tau lo marah sama gue. Soal foto itu... gue udah tau. Tapi lo salah paham, Kak. Gue nggak selingkuh sama Angga. Lo kok bisa mikir gitu, sih?”
“Tapi foto ini nggak bohong, Tar,” tukas Ari tajam. “Kalo emang lo nggak selingkuh, ngapain lo ke mal sama Angga?”
Tari menghela napas pelan. “Gue nggak ke mal sama Angga, Kaaak...” Dengan menahan kesabaran, penjelasan yang tadi ia ceritakan ke Ridho kembali diulangnya, dengan berbagai kata meyakinkan seperti “beneran deh, sumpah, suer”, yang ia tekankan berkali-kali.
“Kak, lo percaya kan sama gue?” tanya Tari akhirnya karena Ari diam saja.
“Untuk tau lo bohong apa nggak, gue harus liat elo langsung, Tar. Jadi, kesimpulannya, gue belom percaya sama elo.” Meski bicara seperti itu, sebenarnya dalam hati Ari memercayai setiap kata yang keluar dari mulut Tari.
Tari mendesah. “Ya udah, deh. Terserah elo. Kalo sampe gue bohong, lo boleh siksa gue dengan cara apapun.” Sedetik setelah mengucapkan itu, Tari tersadar. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Bego, keceplosan! Salah omong, nih!
Kata-kata yang terdengar pasrah dan meyakinkan tadi membuat sifat iseng Ari kumat. “Beneran? Boleh siksa elo? Itu hobi gue, lho.” Cowok itu menyeringai. “Yaah, moga-moga aja lo bohong. Jadi gue bisa siksa elo semau gue.”
“Nggak, deng. Nggak jadi. Lagian gue nggak bohong, kok. Emangnya lo mau siksa gue gimana? Lo tega sama gue? Denger gue nangis aja lo nggak tega,” cibir Tari memberanikan diri.
“Ini namanya siksaan manis, Tar. Lo nggak akan nangis sedih, tapi nangis bahagia. Jadi gue tega dengernya.”
“Mana ada siksaan yang bikin gue nangis bahagia?”
“Lulus SMA, kita nikah. Gimana?”
“Apa??” jerit Tari. “Ngimpi aja deh sana! Mana mau gue nikah sama elo.”
Ari tertawa. “Lo pasti mau, kok. Liat aja ntar. Gue lamar lo di depan Nyokap Bokap lo.”
“Apaan sih, Kak!” Diam-diam wajah Tari merah dan memanas sampai ke telinga. Sampai ia kemudian teringat sesuatu. “Kak, lo sebenernya lagi di mana, sih?”
Ari terdiam sesaat mendengar pertanyaan Tari. Sejurus kemudian, bibirnya tersenyum tipis. “Nggak perlu tau. Ntar juga gue balik, kok. Nggak usah kangen gitu lah, beb. Baru juga satu hari gue tinggal.”
“Kak Ariiiii!!”
Ari tertawa lebih keras. “Ya udah, tidur gih sono. Lo kan besok sekolah.”
“Oke. Lo juga tidur. Jangan begadang terus. Nggak sehat.”
“Iya, deh, calon istriku.”
“Nggak lucu,” ketus Tari. “Ng... Kak. Tunggu, tunggu sebentar.”
Ari yang baru saja akan memutuskan sambungan, kontan batal mendengar suara Tari yang mendadak gugup. “Ya? Kenapa lagi, Say?”
“Ng... itu... gue...”
“Iyaa, lo kenapa?”
“Gue.. gue sayang sama elo.”
Seketika hening melingkupi keduanya. Namun dalam keheningan sesaat itu, keduanya sama-sama merasakan pelukan hangat yang menyelimuti sampai ke hati. Bibir Ari terkembang lebar. “Gue tau,” katanya lembut. “Gue juga sayang sama elo, Tar.”
Senyuman Ari menular ke bibir Tari. “Daah, Kak.”
Sampai sambungan terputus pun senyuman itu masih belum mau pergi dari bibir keduanya. Tari menerjunkan diri ke tempat tidur, dan menutup wajahnya dengan bantal. Jantungnya berdebar keras hingga dadanya serasa mau meledak. Wajahnya lebih panas daripada beberapa menit yang lalu saat Ari menggodanya. Tari jadi salah tingkah, karena ini pertama kalinya mereka saling mengucapkan kata sayang.
Sementara itu Ari juga berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Gila memang kalau dia sampai melepaskan gadis itu. “Apa sih yang gue pikirin tadi?” decaknya kesal. Lalu bibirnya kembali tersenyum. “Love you, Tar,” bisiknya pelan.
Dan seolah Tari bisa mendengar, gadis itu juga berbisik pelan. “Love you, Kak.”
Ari tidak tahu, orang yang berbaring di sebelahnya dengan posisi memunggunginya, ternyata dari tadi ikut menguping pembicaraannya dengan Tari. Meski hanya mendengar percakapan secara sepihak, Ata bisa memahami keseluruhan isi obrolan mereka. Kemudian cowok itu tersenyum penuh arti.



Bersambung...


Kalo udah baca komen dulu laaah :)
Dijamin part 13-nya masih lama
Udah mulai pelajaran tambahan tiap hari -,-
Jadi sambil nunggu, kalian tebak2 sendiri deh kelanjutannya
Apa Ari dan Ata bakal beneran "tukeran posisi" (Ari tetep di Malang, dan Ata pindah ke Jakarta)?
Ato mereka semua bakal balik ke Jakarta sama Mama seperti syarat yang diajukan Ari trus Ata sekolah di Airlangga?
Apa bener Ari sama Tari nggak bakalan putus?
Sebenernya apa sih rencana Ata? Kenapa dia ngelakuin itu semua?
Imagine whatever you want, and then, just leave a comment, okay? ;)

Kamis, 25 Desember 2014

Jingga untuk Matahari #fanfiction-11

Oji menggeliat malas di tempat tidur. Pukul tujuh masih tergolong pagi buta menurut kamus hidupnya di hari Minggu. Tapi ia terpaksa meninggalkan alam mimpi saat ponselnya menjerit.
“Hm... ya? Halo? Lo punya jam nggak sih di rumah? Masih malem nih,” gerutunya pelan saat mengangkat panggilan, dengan mata masih menutup rapat.
“Malem? Coba melek dulu, Mas!”
Kontan Oji membuka mata lebar. Ia kira telepon sepagi ini dari Ari ato Ridho, ternyata suara cewek!
“Sori, ini siapa ya?”
“Masa lo nggak kenal suara gue? Ih, keterlaluan lo, Ji,” sahut cewek itu dengan centil.
Memang kedengarannya suara cewek itu tidak asing. Kedua mata Oji tambah lebar begitu mengenali pemilik suara yang mengganggu Minggu paginya ini. “Ooh, elo! Heh, mau apa lo, Nenek Lampir? Bener-bener lo ya, kerjaannya ngumbar pelet mulu sampe nggak tau waktu!”
“Kok kejem banget sih ngomongnya?” protes cewek itu masih dengan nada centil.
“Buruan mau bilang apa?! Gue tutup nih kalo nggak penting!” Oji mulai jengkel.
Cewek di seberang ketawa. “Gue cuma mau bilang, tolong sekarang lo pergi ke pintu depan, dan ambil amplop di bawah pintu. Oke?”
Telepon ditutup begitu saja, bikin Oji menggerutu kiri kanan. Dasar tu cewek, nggak pernah punya kerjaan lain selain mengganggu ketenangan hidup orang. Dengan malas, Oji bangkit dari tempat tidur dan bersenam-senam kecil sebelum melangkahkan kaki ke pintu.
Amplop yang disebut-sebut cewek tadi berwarna cokelat dan tidak terlalu besar, terselip di celah bawah pintu. Dengan alis menyatu, Oji meraih dan membukanya. Apa yang ada di dalam amplop itu langsung membuat sisa kantuknya lenyap. Ia melesat ke kamar setelah sempat terpaku sesaat.
“Lo nggak berperikemanusiaan banget, Ji. Gue baru aja bisa tidur, tau,” omelan Ridho langsung menyambutnya begitu panggilannya diangkat, tapi Oji tidak peduli.
“Ini ada yang lebih gawat, Dho! Gawat! Lebih penting dari tidur lo!”
“Gawat apanya? Nggak usah heboh kayak lagi kebakaran jenggot gitu, lah.”
“Gue ke rumah lo abis ini!”
Ridho menguap, masih belum tertular penyakit heboh Oji. “Ya, ya. Ke sini aja. Telepon gue kalo udah sampe. Gue mau tidur dulu.”

***

“Dho, dho! Banguuun!!” Oji mengguncang tubuh Ridho, memaksa temannya yang sedang tidur sambil memeluk guling itu untuk bangun.
“Ng.... Ji, ngapain lo masuk-masuk kamar gue?” erang Ridho setengah sadar setengah tidak.
“Abisnya lo gue telepon nggak diangkat-angkat. Kata pembokat lo gue suruh ke kamar lo aja langsung. Ya udah... heh, banguun!! Buruan!”
Mau tak mau Ridho membuka mata dan duduk. Oji ikutan duduk di tempat tidur, di samping Ridho yang sedang mengucek mata. “Ada apa, sih? Awas aja kalo ternyata nggak penting. Gue cekek beneran lo!”
“Lo liat ini, deh!” Oji mengeluarkan isi dari amplop cokelat yang baru diterimanya tadi pagi.
Begitu isi dari amplop tadi berpindah ke tangan Ridho, reaksinya persis seperti reaksi Oji tadi. Terpaku.
“Gimana? Gawat, kan?” desak Oji. “Kita musti bilang apa ke Ari?”
Di tangan Ridho, ada dua lembar kertas. Yang satu sebuah foto, yang satunya lagi sepucuk surat singkat, bunyinya :

Tari selingkuh sama Angga! Gue liat sendiri mereka jalan bareng di mal kemaren!

Dan foto itu menjadi bukti dari isi surat tadi. Terlihat Angga dan Tari duduk berhadapan di sebuah foodcourt. Wajah keduanya begitu dekat, nyaris bersentuhan. Meski itu bukan foto close up, Oji dan Ridho bisa melihat wajah Tari agak tegang dan Angga memiringkan wajah sedikit, seolah cowok itu hendak mencium bibir Tari.
Ridho mengguncang-guncang bahu Oji tanpa mengalihkan tatapannya dari foto Tari dan Angga. “Ji, lo dapet ini dari siapa?!”
Oji garuk-garuk kepala sebentar. “Ng... itu... dari Vero.”

***

Keberadaan Tari masih belum diketahui! Ari nyaris frustasi. Karena kemarin Mama Tari bilang kalau Tari akan menginap selama dua malam, itu artinya besok dia harus berangkat sekolah sendiri. Entah untuk keberapa kalinya Ari mencoba menghubungi nomor Tari.
Maaf, nomor yang Anda tuju...
“Sialan!” Ari melempar ponsel dan tubuhnya ke tempat tidur. Nomor Tari masih tidak aktif. SMS untuk ketiga cewek itupun belum ada yang dibalas sejak tadi malam, benar-benar bikin gerah.
Lagu Kitaro – Caravansary yang menjadi ringtone-nya mendadak berkumandang. Ari buru-buru meraih ponselnya lagi, berharap itu telepon dari Tari. Tapi ternyata dari Oji. Ari mengangkat sebelah alisnya heran.
“Ya, Ji? Tumben jam segini lo udah bangun.”
Di seberang, Oji terdiam. Ia dan Ridho bertatapan sejenak. Oji menggeleng, lalu menyerahkan ponselnya ke Ridho. Ridho menggerutu tanpa suara, sementara Oji nyengir.
“Bisa lo dateng ke rumah gue?” kata Ridho kemudian.
“Elo, Dho? Kok kalian udah kumpul pagi-pagi gini?” tanya Ari tambah heran.
“Ada yang mau kami omongin sama elo. Sekarang. Gue tunggu.” Ridho menutup telepon sebelum Ari bertanya lebih lanjut.

***

Fio mengaktifkan kembali ponselnya pagi ini, dan wajahnya memucat seketika. Delapan panggilan tak terjawab, dan satu SMS horor dari Ari, yang begitu dibaca, matanya kontan berkunang-kunang dan napasnya sesak.
“Man! Man! Coba lo idupin HP lo! Buruan!” serunya panik.
Melihat kondisi Fio, Nyoman bergegas mengaktifkan ponselnya, mengira pasti ada sesuatu yang maha gawat. Wajah cewek itu jadi tak kalah pucat begitu membaca tulisan di layar ponsel.
“Gila! Mampus kita! Elo nih, Tar. Tanggung jawab, ih!” seru Nyoman lebih panik.
“Ada apaan, sih?” Tari mendekati kedua temannya yang mematung di lantai. Ia merebut ponsel Fio yang masih menampilkan SMS ancaman dari Ari. Perlahan, bibirnya meringis. Ngeri.
“Ups,” katanya pelan, merasa bersalah karena melemparkan kedua temannya ke kandang singa.
“Gimana nasib kita besok di sekolah? Pulang-pulang bisa jadi almarhum nih,” keluh Fio, yang dianggukin Nyoman dengan wajah nelangsa.
“Susun rencana!” putus Tari, meski ia sendiri tidak yakin rencana apapun akan berhasil menyelamatkan mereka dari Ari.

***

Oji dan Ridho menunggu kedatangan Ari dengan gelisah. Ketika akhirnya mereka mendengar suara motor berhenti di depan rumah, keduanya serentak berdiri dari sofa dan bergegas menghampiri sahabat mereka yang baru saja melepas helm.
“Jadi?” tanya Ari. Ia mengangkat alis tinggi-tinggi melihat Ridho dan Oji saling lirik dengan ekspresi cemas.
“Lo sama Tari kemaren?” Ridho bertanya balik.
Ari mendengus. “Dia ngilang, tau nggak? Seharian kemaren gue nggak ketemu sama dia. Siangnya waktu gue telepon, dia bilang lagi jalan di mal sama Fio. Trus malemnya dia nggak di rumah, nginep di rumah temen kata Nyokapnya, tapi bukan rumah Fio. Nomornya juga nggak aktif.” Ia menghembuskan napas keras-keras. “Kenapa sih tu cewek?”
Ridho dan Oji kembali saling tatap dengan mulut ternganga. Jadi bener Tari selingkuh? Ini buktinya! Cewek itu seharian kemarin jalan di mal. Ngakunya sih sama Fio, tapi yang duduk bersama dan nyaris mencium Tari itu kan bukan Fio! Dan malam harinya cewek itu sengaja menghindar dari Ari. Bukan ke rumah Fio katanya. Jangan-jangan Tari di rumah Angga semalem?! Entah bagaimana pikiran Oji dan Ridho bisa sama-sama sampai di titik itu. Seolah saling memahami pikiran satu sama lain, Oji dan Ridho meringis, kemudian menggeleng-geleng.
“Ngaco, ah. Nggak mungkin dia senekat itu,” gumam Ridho. Oji mengiyakan.
“Bos, lo yakin kemaren dia jalan sama Fio?” tanya Oji hati-hati.
Ari menatap Oji heran. “Yakinlah. Emang kenapa?”
“Gimana kalo ternyata dia bohong?”
“Maksud lo?” Ari semakin bingung dengan pertanyaan Oji. “Kalian kenapa, sih?”
Ridho melangkah maju. Sebelah tangannya menepuk bahu Ari sementara tangan lain mengulurkan selembar foto. “Lebih baik lo cari Tari dan minta dia jelasin ini.”
Ari masih tidak mengerti dengan sikap dan kata-kata kedua sahabatnya sampai dia melihat foto yang diulurkan Ridho. Begitu jelas siapa yang menjadi objek di dalam foto itu meski ada puluhan manusia lain di sana. Tapi mata Ari mengaburkan manusia-manusia lain itu. Yang tertangkap oleh retinanya hanya dua orang yang tengah duduk berhadapan, dengan wajah begitu dekat seperti akan berciuman. Dan dua orang itu adalah Tari dan Angga.
“Stop, jangan nanya apa-apa,” sela Ridho begitu dilihatnya Ari membuka mulut untuk bertanya. “Kami cuma dapet foto itu tadi pagi, dan foto itu jelas diambil kemaren. Liat aja tanggalnya. Selebihnya, tentang apa yang sebenernya terjadi, lo nanya sendiri ke Tari. Ato Angga sekalian, mungkin.”
Selama beberapa saat, tidak ada yang bergerak maupun bersuara di antara mereka bertiga. Ridho dan Oji menunggu reaksi Ari, bersiap menerima ledak amarah teman mereka itu. Tapi ternyata Ari hanya melipat foto tadi menjadi dua, kemudian menyelipkannya asal-asalan ke saku celana. Bibirnya menyunggingkan senyum miring.
Thanks,” katanya singkat kepada kedua sahabatnya sebelum ia berlalu dari situ, meninggalkan Oji dan Ridho yang kembali bertatapan bingung.

***

Ari memacu motornya kencang, membelokannya tak tentu arah. Pikirannya kacau. Kalau saja kenyataan ini memang sekadar kesaksian dari Oji atau Ridho, lebih mudah untuk tidak memercayainya. Tapi ini semua tergambar jelas dalam sebuah foto! Ari yakin foto itu seratus persen bukan hasil editan. Dia mendengar sendiri kemarin siang saat menelepon Tari, suasana di sekeliling gadis itu sangat ramai oleh obrolan orang-orang dan musik yang keras, suasana khas foodcourt di mal. Dan tiba-tiba saja Tari tidak menanggapi perkataannya, kemudian malah menutup telepon dengan alasan mau menemani Fio memborong kaset drama Korea.
Sebenarnya segala macam bentuk kecurigaan telah bermunculan di benak Ari sejak terakhir kali ia menelepon Tari. Pelan-pelan, Ari bisa melihat benang-benang yang makin terjalin secara jelas, alasan-alasan yang melatarbelakangi keanehan sikap gadis itu. Tari selingkuh dengan Angga, entah kenapa, bagaimana, dan sejak kapan. Kemarin siang ia jalan dengan cowok itu di mal. Karena nyaris ketahuan, Tari tidak berani menemui Ari sehingga memutuskan untuk menginap di rumah teman. Jelas saja bukan rumah Fio, karena alamat pencarian kedua yang pasti didatangi Ari adalah rumah sahabatnya itu.
Ari menggeram. Berani banget tu cewek! desisnya dalam hati. Ketika ia menemukan cewek itu nanti, ia bersumpah akan membuat Tari menceritakan kenyataan yang sesungguhnya dengan cara apapun, meski itu berarti ia harus mengikat Tari dan menginterogasinya ala penjahat kelas kakap.
Sementara pikirannya melantur kemana-mana, Ari tidak sadar motornya kini berhenti di depan rumah Tari.
“Sialan, kenapa gue ke sini?” gerutunya. Ia sudah bersiap akan pergi lagi saat pintu depan terbuka.
“Ari?” panggil Mama Tari, agak kaget juga.
Ari menoleh, dan mau tak mau ia turun dari motor untuk menyapa Mama Tari. “Pagi, Tante.”
Mama Tari melangkah mendekat ke pagar. “Pagi. Mau nyariin Tari lagi? Tari belom pulang dari kemarin. Kan dia bilangnya mau nginep dua malem.”
“Ooh, gitu. Tapi... dia bener-bener nggak ngomong di mana dia nginep?”
Mama Tari menggeleng. “Nggak. Tapi yang jelas sih sama Fio. Soalnya semalem waktu Tante telepon, yang ngangkat Fio, katanya Tari lagi di kamar mandi. Kamu udah coba ke rumahnya Fio?”
“Udah, Tante. Tapi Tari nggak ada di sana,” jawab Ari, sambil diam-diam otaknya menyusun rencana untuk membalas keberanian Fio hingga cewek itu kapok dan tidak akan pernah lagi ikut melarikan diri bersama Tari.
“Yah, kalo gitu Tante bener-bener nggak tau dia di mana, maaf.” Mama Tari kembali menggeleng. “Oh iya, kebetulan kamu ke sini. Ini, Tante nitip ini buat Mama kamu.”
Ari menerima tas kertas berukuran medium yang disodorkan Mama Tari. “Apa ini?” tanyanya penasaran sambil melongok isi tas tadi. Ada beberapa toples plastik bening yang tersusun rapi di dalamnya. Sepertinya berisi kue-kue kering.
“Oh, itu oleh-oleh kecil buat Mama kamu sama Ata. Katanya mereka mau pulang hari ini? Maaf, Tante cuma bisa bawain itu.”
Tas kertas itu nyaris terjatuh dari tangan Ari. Ia mendongak menatap Mama Tari dengan mulut ternganga. “Mereka mau pulang hari ini? Pulang? Maksud Tante... ke Malang?”
Mama Tari mengangguk. Keningnya berkerut heran. “Kamu belum tau?”
Ari terpaku sesaat sebelum akhirnya menggeleng pelan. Mama Tari menatapnya prihatin. “Ya udah, kamu ke rumah Tante Lidya aja dulu. Ini masih pagi. Mereka pasti belum berangkat.”
Ari tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia melangkah ke motornya, lalu tanpa pamit, ia memacu motornya melewati gang kecil menuju rumah Tante Lidya.

***

Tante Lidya yang sedang menyiram bunga di halaman depan rumahnya seketika menghentikan kegiatannya saat melihat motor Ari berhenti di depan pagar rumahnya dan si pengendara langsung berlari menerjang ke arahnya.
“Mana Mama sama Ata?” tanya Ari tanpa basa-basi.
“Eh, ng.. itu, Mama sama Ata...” Tante Lidya mendadak gugup. Memang bukan kewajibannya untuk memberitahu Ari soal kepulangan Mama dan saudara kembarnya ke Malang, sehingga ia tidak tahu harus berkata apa tentang masalah ini ke Ari saat tiba-tiba ditodong pertanyaan seperti itu.
“Tante! Jangan bilang mereka...” Ari tercekat, tidak sanggup meneruskan kalimatnya.
Tante Lidya menghela napas berat. “Maaf, Ri. Mereka udah berangkat ke bandara satu jam yang lalu.” Ia menepuk pelan bahu Ari.
Tubuh Ari meluruh jatuh, seolah tepukan pelan Tante Lidya menggoyahkan seluruh tulang dan sendinya. Cowok itu terduduk di atas rumput, masih membutuhkan waktu untuk mencerna semua ini. Tante Lidya ikut berlutut di sebelahnya. Kini tangannya meremas bahu Ari dan mengusap-usapnya.
“I.. ini, ada kue... buat Mama... buat Ata.” Tangan Ari yang bergetar mengulurkan tas kertas pemberian Mama Tari. Namun sedetik kemudian, tas itu jatuh dari tangannya sebelum Tante Lidya sempat menerimanya. Toples di dalamnya berserakan, beberapa ada yang terbuka dan menumpahkan isinya.
Akhirnya Tante Lidya merengkuh tubuh Ari. Cowok yang sudah dianggap anaknya sendiri itu kini terguncang di pelukannya seperti anak kecil. “Ssst, kamu nggak perlu sedih. Mama, Ata, dan Tante Lidya emang sengaja nggak mau ngasih tau kamu, karena Mama nggak mau satupun dari kalian ngucapin selamat tinggal. Tapi mereka janji akan kembali ke Jakarta lagi kapan-kapan.”
Tante Lidya memahami betapa Ari kehilangan sosok ibu. Wanita itu juga tahu Ari begitu kesepian dalam hidupnya tanpa ada saudara kembarnya. Selama beberapa saat, ia membiarkan Ari menangis. Diusapnya dengan lembut kepala cowok itu. “Kamu selalu boleh kembali ke sini, Ri. Kamu bahkan boleh tinggal di sini kalo mau. Kamu boleh nganggep Tante Lidya sebagai mama kedua kamu, kayak waktu dulu kita masih tetanggaan. Jadi kamu nggak perlu ngerasa kesepian. Lagian kamu sekarang udah bisa telepon-teleponan lagi kan sama Mama dan Ata. Kalian nggak bener-bener pisah kok.”
Perlahan, Ari berhasil menenangkan diri. Seiring dengan otaknya yang kembali bisa berpikir jernih, ia menyusun rencana dadakan yang akan dilaksanakan sekarang juga!

***

Hari Senin! Tari, Fio, dan Nyoman benar-benar ready to war. Meski persiapan mereka belum benar-benar matang, ketiga cewek itu yakin rencana yang telah mereka susun paling tidak bisa menghindarkan mereka dari Ari. Hanya keajaiban dari Tuhan Yang Maha Esa-lah yang bisa menyelamatkan mereka hari ini.
Sesuai kesepakatan, ketiganya akan berangkat sekolah sangat pagi, karena hari ini ada upacara bendera dan mereka tidak ingin mengambil resiko terlambat kalau berangkat pas udah mepet bel. Sambil menunggu bel masuk di gudang persembunyian, mereka akan sarapan dengan bekal yang sudah disiapkan Mama Nyoman. Sudah pasti dengan berangkat sangat pagi mereka belum sempat sarapan di rumah.
Lalu ketika bel masuk berbunyi, mereka akan keluar dan berbaur dengan arus siswa-siswi yang berjalan ke lapangan upacara. Tari terpaksa menyimpan semua pernak-pernik oranyenya kalau tidak ingin membuat mereka ketahuan dalam hitungan detik. Mereka akan mengenakan topi sekolah untuk menutupi wajah mereka. Dan di lapangan, mereka terpaksa bergabung dengan barisan kelas X-1 yang posisinya paling jauh dari barisan kelas mereka, karena bisa saja Ari mengadakan inspeksi di barisan kelas X-9 dan sekitarnya. Kemudian begitu upacara selesai, mereka akan langsung ngibrit ke gudang lagi.
Segalanya berjalan lancar sesuai harapan dan nyaris berhasil. Nyaris! Ketiganya telah bersembunyi di gudang hampir satu jam lamanya, tiba di lapangan dengan sehat walafiat tanpa berpapasan dengan Ari, dan melaksanakan upacara bendera dengan khidmat. Sampai ketika mereka kembali ke gudang persembunyian, dua sosok yang tak diharapkan ternyata telah menunggu mereka di sana.
Ridho dan Oji duduk di tempat mereka meninggalkan tas tadi. Tari, Fio, dan Nyoman hampir saja balik badan untuk melarikan diri, tapi batal begitu menyadari Ari tidak hadir bersama dua sahabatnya.
“Tar,” panggil Oji.
“Kalo kalian disuruh Ari ke sini, lebih baik kalian pergi sekarang. Karena gue lagi nggak mau berurusan sama dia ato lo berdua,” kata Tari sedingin mungkin.
“Kami nggak disuruh Ari,” tukas Oji. Sekarang cowok itu bangkit dari lantai dan mendekati Tari yang masih berdiri di ambang pintu gudang. Fio dan Nyoman diam-diam melangkah mundur. “Ari bahkan nggak masuk hari ini.”
Kening Tari berkerut. “Kenapa?”
“Dia ngilang, nggak ada kabar sejak kemaren,” sahut Ridho yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Oji. Tepatnya sejak dia liat foto lo sama Angga, tambah cowok itu dalam hati.
“Kami ke sini mau nanya sesuatu sama elo,” kata Oji lagi.
“Duilee, serius amat, Kak. Jarang-jarang gue liat Kak Oji serius gini,” celetuk Fio, yang bisa menghela napas lega setelah mengetahui Ari tidak masuk sekolah.
Sepasang mata Oji menyambarnya. “Dho, apa gue belom bilang kalo kita diberi mandat sama Ari buat ngurusin ni cewek dua?” tanyanya sambil tersenyum menggoda ke arah Fio.
Ridho pura-pura berpikir. “Kayaknya belom, Ji.” Matanya kini ikut menatap Fio dan Nyoman yang wajahnya langsung pada tegang. Kedua cewek itu sepertinya harus say goodbye lagi sama kelegaan yang baru saja mereka rasakan. “Sesuai pesan yang kami terima pagi ini dari Ari, dia mau kita ngasih pelajaran ke dua cewek yang bernama Fio dan Nyoman, yang dari kemaren bantuin Tari ngumpet dari Ari.”
“Ka... kami nggak bantuin, Kak,” kata Nyoman terbata.
“Nah, kan! Ujung-ujungnya emang lo berdua disuruh Ari ke sini!” Tari menatap dua cowok di depannya dengan sebal. “Jangan libatin Fio sama Nyoman! Mereka nggak salah.”
“Oh, nggak bisa,” sahut Oji santai. “Mau mereka salah apa nggak, sekarang gue sama Ridho udah punya kuasa penuh buat ngasih pelajaran ke mereka.”
“Dan sekali lagi gue tegasin kata-kata Oji, kami nggak disuruh Ari nyamperin kalian bertiga ke sini. Ari cuma ngasih hak istimewa itu ke kami pagi ini, lalu setelah itu dia ngilang lagi.”
“Jadi, untuk hukuman pertama kalian...” Oji mendadak merengsek maju ke arah Fio dan Nyoman, setelah menyingkirkan Tari dari hadapannya.
“Ampun, Kak! Ampun! Nggak lagi deh kami bantuin Tari,” Nyoman memeluk Fio ketakutan, menjadikan tubuh temannya itu sebagai tameng. Fio malah melirik Nyoman dengan heran. “Apaan sih lo? Cuma Kak Oji gini. Mana berani dia nyakitin cewek.” Tatapannya pindah ke Oji. Dipelototinya cowok itu. “Apa lo, Kak? Mau ngajak berantem? Ayo di lapangan! Jangan dikira gue takut!”
Tak disangka, Oji malah nyengir. Semua sifat seriusnya menghilang. “Ciee, ternyata temen lo ini tangguh juga kayak elo ya, Tar? Baru tau. Gile, mungkin kalian ini para supergirl penentang kakak kelas. Ngeri juga gue.” Cowok itu mendecakkan lidah. “Tapi omongan lo bener, Fi. Gue paling pantang nyakitin cewek. Karena gue cowok berhati mulia, jadi bersyukurlah kalian Ari ngasih tugas ini ke gue, bukan dia sendiri yang turun tangan langsung.”
Memang sebenarnya Fio dan Nyoman bersyukur dalam hati atas kebenaran kata-kata Oji. Untung Oji dan Ridho yang jadi eksekutor. Coba kalo Ari! Cowok itu bakal jadi eksekutor dalam arti sesungguhnya, yang memastikan Fio dan Nyoman disiksa sampai tewas!
“Ya udah, jadi hukuman pertama buat kalian berdua adalah...” Oji sengaja menggantung kalimatnya sejenak. “Bayarin kami makan hari ini. Mulai dari sarapan, makan siang, dan makan malam.”
“Apa??” Fio dan Nyoman melotot kaget.
“Oooh, jadi nggak mau, nih? Perberat aja hukumannya, Ji!” kata Ridho memanas-manasi.
“Gimana? Hm?” Oji mengangkat alis. Geli juga dia melihat Fio dan Nyoman yang saling sikut sambil membisikkan pertanyaan, “Bawa uang berapa lo?”
“Hukuman macam apa itu!” Mendadak Tari meneriakkan komentar atas ketidakadilan yang menimpa kedua temannya. “Kalo itu mah namanya pemerasan! Dasar cowok-cowok nggak tau malu! Masa minta dibayarin cewek? Adik kelas, lagi!” Cewek itu mencak-mencak tidak terima.
Oji membalikkan badan menatap Tari dengan tersinggung. “Eh, suka-suka kami, dong, mau ngasih hukuman apa. Lo mending keep silent deh daripada gue telepon Ari dan minta hak juga buat ngehukum elo.”
“Berani lo?” tantang Tari sambil mencondongkan tubuh ke Oji.
“Berani! Kenapa gue mesti takut?!”
“Emang dasar lo cowok jadi-jadian! Udah minta dibayarin cewek, tukang ngadu, pula!”
“Eh, makin kurang ajar lo, ya! Gue telepon Ari beneran, nih!”
“Silahkan aja!”
“Eeeh, malah pada berantem. Udah, Ji. Lo sekarang ke kantin aja pesen sarapan buat kita sambil ngawasin ni cewek dua biar nggak buron. Biar gue yang selesaiin urusan sama Tari.”
Tari dan Oji masih adu pelototan. Sampai kemudian Oji mengalah. “Oke, oke. Ayo, kalian ikut gue ke kantin.” Cowok itu mendorong bahu Fio dan Nyoman.
“Sekarang, Kak?” tanya Nyoman.
“Ya sekarang! Masa taun depan? Kalo taun depan gue udah lulus, kali. Mana ada kesempatan dijajanin sama kalian lagi.”
“Tapi pelajaran udah mau mulai, Kak. Nanti kami telat masuk. Gimana kalo jam istirahat pertama aja?” Nyoman mulai memelas.
“Nggak! Gue sama Ridho tuh lapernya sekarang. Nggak bisa ditunda lagi. Kami nggak bakal bisa belajar dengan perut keroncongan. Kalo nggak konsen belajar, ntar kami nggak bisa lulus. Itu artinya, kalian masih harus ketemu lagi sama kami tahun depan. Dan hukuman kalian kami perpanjang. Mau?”
“Hiiih,” Fio mendelik gemas. “Bawel amat sih jadi cowok. Iya, iyaa, nggak usah dorong-dorong! Gue sama Nyoman bisa jalan sendiri!” Fio mengenyahkan tangan Oji dari bahunya, kemudian menoleh ke Tari. “Gue ke kantin dulu ya, Tar.”
Mau tak mau Tari mengangguk, membiarkan Fio dan Nyoman digiring pergi. Sesaat, Tari masih menatap ketiga orang yang semakin menjauh itu.

***

“Tar?” panggil Ridho, membuat Tari menoleh. “Duduk dulu. Ada beberapa pertanyaan yang harus lo jawab.”
Tari mengeluh dalam hati. Kalo sama Oji, dia masih berani melawan. Tapi kalo sama Ridho, entah kenapa Tari merasa lebih baik menuruti perintah cowok itu. Tari bukannya takut, namun ada sesuatu dalam ucapan dan tindakan Ridho yang bikin dia segan. Mungkin itu yang membuat Ridho memutuskan lebih baik dirinya yang berurusan dengan Tari, daripada masalah ini nggak kelar kalo Oji yang menangani. Bisa-bisa Oji dan Tari ribut tidak habis-habis.
Tari duduk bersila di lantai di dekat tasnya. Ridho menutup pintu gudang, lalu duduk di depannya. “Oke, langsung aja. Tapi janji sama gue, lo bakal jawab pertanyaan gue dengan jujur. Dan kalo emang lo ngelarang, gue nggak akan cerita ke Ari.” Ridho baru meneruskan perkataanya setelah gadis di depannya ini mengangguk ragu. “Lo kemaren Sabtu ke mana?”
“Ng... gue nginep di rumah Nyoman, Kak.”
“Bukan malem harinya. Tapi siangnya, Tar. Lo ke mal, kan?”
Ridho berhasil menangkap sinar kekagetan yang kemudian berubah menjadi kepanikan di mata Tari. “Kok Kak Ridho tau?”
“Sama siapa?” tanya Ridho lagi tanpa menjawab pertanyaan Tari. “Jangan bilang sama Fio! Karena gue tau pasti bukan dia yang nemenin lo ke mal.”
Tari tergeragap. Mampus! Kok Kak Ridho tau, sih?? Musti jawab apa coba!?
“Tar,” kata Ridho lagi karena Tari terdiam. “Lo ke mal sama Angga?”
“Apa?” Tari menyipitkan mata. “Nggak! Gue nggak ke sana sama Angga.”
“Jangan bohong, Tar!”
“Beneran, Kak! Sumpah samber geledek!” Tari mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V. Ridho akan membantah lagi, tapi Tari sudah lebih dulu menjelaskan, “Gue emang nggak sengaja ketemu sama Angga di mal. Dia yang nyamperin gue duluan pas di foodcourt. Suer deh, kami nggak jalan bareng.”
Giliran Ridho yang menyipitkan mata dengan kening berkerut. Sepertinya Tari tidak berbohong. Tapi dia masih membutuhkan kepastian. “Tar, jujur aja. Kalo lo emang selingkuh sama Angga, gue nggak bakal bilang-bilang ke Ari...”
“Selingkuh sama Angga??” Tari menjerit. Ini kedua kalinya ia dituduh selingkuh sama Angga. Lama-lama bisa darah tinggi, nih! “Plis, deh! Kenapa sih semuanya nyangka gue selingkuh!? Sama Angga, lagi! Gue bahkan benci sama cowok itu, Kak.”
“Oke, oke.” Ridho mengangkat kedua tangannya, menenangkan. “Gue cuma mau negasin aja, Tar. Lo nggak selingkuh, kan?”
“Nggak! Lo boleh masukin gue ke rumah sakit jiwa kalo sampe gue selingkuh sama si Angga!”
Ridho mengangguk-angguk. Tari tidak selingkuh. Sekarang ia meyakini itu. Tapi kalo memang benar mereka berdua hanya kebetulan bertemu di mal, kenapa Angga dan Tari saling mendekatkan wajah seperti itu di dalam foto? “Ng... Tar,” Ridho menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, merasa kurang enak dengan pertanyaan yang akan dia ajukan. “Waktu kalian duduk berdua di foodcourt... apa Angga... sempet cium elo?”
“CIUUM??” Kembali Tari menjerit, kali ini lebih histeris. Sampai Ridho harus menempelkan telunjuknya ke bibir Tari. “Ssst, nggak usah kenceng-kenceng, kali. Ntar kalo ada guru yang lewat bisa ketauan.”
Tari menyingkirkan telunjuk Ridho dari bibirnya. “Apa maksud lo dengan pertanyaan itu?” tanya gadis itu tajam.
Ridho menghela napas, kemudian mau tak mau ia menceritakan perihal foto yang didapatnya kemarin. Tari mendengarkan dengan ekspresi tidak percaya. “Itu nggak bener, Kak! Fitnah! Ih, lo dapet fotonya dari mana, sih?”
“Dari Vero,” jawab Ridho. “Dia yang ngeliat lo jalan di mal sama Angga kemaren Sabtu.”
“Kak Vero?” Sepasang mata Tari membulat. “Ah, kenapa lo percaya aja sih sama berita dari dia? Jelas-jelas dia itu cemburu sama gue, Kak.” Mendadak Tari teringat juga foto Ari yang tengah berciuman dengan Vero. “Kak, sekarang gue boleh nanya? Tentang Ari.”
“Nanya apa?”
“Ng... itu...” Tari bingung bagaimana cara menyampaikan pertanyaannya. Gadis itu menggigit bibir gelisah. Karena tidak bisa menemukan kata-kata yang pas, akhirnya ia mengeluarkan foto pemberian Angga beberapa hari lalu. “Lo bisa jelasin foto ini?” tanyanya sambil menyodorkan selembar foto ke Ridho.
“Foto ap...” Ridho membelalak sesaat begitu menerima foto tadi dari tangan Tari. Otaknya dengan cepat memutar kembali peristiwa beberapa hari yang lalu. “Lo jangan salah paham dulu, Tar,” tukasnya. “Ini nggak kayak yang lo pikirin. Lo inget waktu Ari mukulin gue sama Oji abis-abisan kemaren?”
Tari mengangguk perlahan, masih belum mengerti apa hubungannya.
“Nah, waktu itu Ari lagi ngelabrak Vero. Eh si cewek muka badak itu malah nekat cium Ari. Jadi sebelom dia abis jadi bubur di tangan Ari, gue sama Oji lepasin dia.”
Tari mencerna hati-hati setiap perkataan Ridho. Dan akhirnya cewek itu bisa menghubungkan kejadian yang sebenarnya. Tanpa sadar Tari menghela napas lega sambil menepuk-nepuk dada, saking beban yang menghimpit dadanya mendadak terangkat.
“Oke kalo gitu.” Ridho mengangguk-angguk pasti. “Clear, lo emang nggak selingkuh. Dan gue yakinkan juga, Ari nggak selingkuh. Pegang kata-kata gue. Tapi pertanyaan gue tadi belom lo jawab.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Lo ke mal sama siapa?”
Pertanyaan itu membuat tubuh Tari menegang lagi. Jujur, nggak, jujur, nggak...
“Jujur aja sama gue,” kata Ridho, seolah menjawab kebimbangan di hati Tari. “Kan udah gue bilang, gue nggak bakal ember ke Ari.”
“Gue ke mal sama Kak Ata, Kak,” jawab Tari lirih, tapi Ridho berhasil menangkap suaranya.
“Sama Ata? Ngapain?” seru Ridho heran. “Jangan-jangan lo sebenernya malah selingkuh sama Ata?!”
Tari mendengus dan bibirnya cemberut. “Stop bahas tentang selingkuh. Gue enggak selingkuh, oke? Waktu itu Kak Ata cuma mau pamit.”
“Pamit kemana?”
“Pamit pulang, lah. Masa pamit naik haji.”
Ridho menatapnya tak mengerti, membuat Tari gemas. “Pulang, Kak. Pulaaang! Pulang ke Malang.”
Begitu Tari menyebutkan nama kota itu, reaksi Ridho seperti baru saja ditampar. Ia tersentak kaget. “Tar!”
“Apaan sih, Kak?” Tari jadi ikutan panik melihat cowok di depannya mendadak memanggil namanya sambil mengguncang bahunya dengan heboh.
“Akhirnya kita tau kemana Ari menghilang!”
“Emangnya kemana?” Kening Tari berkerut.
“Ck,” Ridho mendecak tidak sabar, tapi ia sengaja memutarkan jawabannya. “Kalo nyokap sama saudara kembar lo yang baru aja lo temuin setelah pisah 9 tahun mendadak ilang lagi, lo bakal nyariin nggak?”
“Ya, iyalah. Gue cariin pokoknya sampe ketemu dan nggak akan gue biarin pergi lagi begitu aja.”
“Nah!” Ridho menjentikkan jari. “Kalo misal lo udah tau kemana mereka pergi, apa yang bakal lo lakuin?”
“Ya jelas, tinggal susul aja mereka.”
“Pinter! Sekarang lo ngerti, kan?” Ridho tersenyum puas.

Tari membeku. Ia telah mengucapkan jawaban atas pertanyaannya sendiri tadi. Kemana Ari pergi? Tentu saja menyusul Mama dan Ata ke Malang!





Bersambung...