Senin, 02 Februari 2015

Jingga untuk Matahari #fanfiction-13

Tari membuka pintu rumah. Senyumnya merekah melihat siapa yang berdiri di depannya. Ari. Pagi ini, cowok itu telah berdiri di teras, mengenakan seragam sekolah rapi seperti biasa saat menjemputnya. Motornya hitam besarnya terparkir manis di depan pagar.
“Kak!” Tubuh Tari seperti bergerak sendiri, melangkah maju dan memeluk Ari. “Lo kemana, sih? Gue kangen.”
Tapi Tari merasakan ada yang aneh dengan tubuh yang dipeluknya. Kedua lengan Ari bergeming, tidak membalas pelukan itu. Ari juga tidak bersuara sedikit pun. Ragu-ragu Tari melepas pelukannya dan mendongak untuk menatap Ari. Satu hal lagi yang membuatnya kaget. Ternyata cowok itu tengah menangis! Air matanya bergulir turun tanpa suara.
“Kak...” Tari tercekat, terlalu kaget dengan keadaan ini.
“Maafin gue, Tar,” bisik cowok itu serak. “Maaf.”
“Maaf buat apa? Lo kenapa nangis?”
Kedua lengan Ari terulur, menangkup kedua pipi Tari. Ia menatap dalam-dalam gadis itu dengan matanya yang sembab. Tersirat kesungguhan yang amat sangat dalam nada suaranya ketika kemudian ia berbisik, “Kita putus.”
Kedua mata Tari membelalak. “Tapi....” Gadis itu menggeleng-geleng, berusaha menolak. “Gue nggak ngerti, Kak.”
Ari tak menjawab kebingungan yang terpancar jelas di hadapannya. Cowok itu tiba-tiba melepaskan pipi Tari, lalu balik badan dan berlari ke motornya.
“Kak! Kak Ari!” Teriakan Tari kalah oleh raungan mesin motor Ari, yang sepersekian detik kemudian melesat kencang meninggalkannya.
“Kak Ariii!” Tubuh Tari terduduk mendadak seiring dengan jeritan itu. Ia terengah-engah di atas tempat tidurnya. Matanya menatap nyalang ke sekeliling. Ternyata ia masih di dalam kamarnya yang gelap. Ternyata tadi itu hanya mimpi. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat meleleh di pipinya.
Kejadian itu terlalu menyakitkan, bahkan untuk menjadi mimpi sekalipun. Alasan kenapa Ari menangis, juga atas keanehan sikapnya, yang kemudian berujung pada kata putus. Tari menggeleng-geleng, ingin mengenyahkan mimpi itu dari benaknya. Ia tak sanggup harus mengingat kembali mimpi itu, yang seolah mengisyaratkan perpisahan dengan seseorang yang ia cintai. Dengan Matahari-nya. Ia menghapus air matanya cepat-cepat.
“Sial, kenapa gue nangis, sih?” gumam Tari. “Itu kan cuma mimpi.”
Ketika kembali membaringkan diri, Tari menjadi gelisah. Benarkah itu sekadar mimpi biasa seperti kata-katanya tadi? Ataukah, ada makna tersembunyi di baliknya? Apakah mimpi itu sebuah pertanda?

***

Tari melangkah dengan lesu menuju halte. Ari tidak muncul pagi ini di depan rumahnya. Berarti cowok itu masih berada di antah berantah dan belum ingin pulang. Tapi sebenarnya Tari juga merasa lega, karena ia tidak harus menghadapi kejadian seperti di mimpi buruknya semalam.
Tiba di halte, bus yang menuju sekolahnya belum kelihatan. Tempat duduk di sekitarnya penuh, jadi gadis itu berdiri beberapa meter dari halte. Mungkin untuk kesejuta kalinya pagi ini, Tari menunduk sambil menghela napas, merenungkan kemungkinan Ari berada. Memang sepertinya dugaan Ridho kemarin tidak salah. Ari tengah berada di Malang saat ini bersama Mama dan Ata. Pertanyaannya, apa cowok itu akan pulang? Satu hal yang ditakutkan Tari, Ari pergi meninggalkannya untuk menetap di Malang tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal, dan untuk selamanya ia tidak akan melihat wajah cowok itu lagi. Tari kembali menghela napas. Ia tidak ingin hal itu terjadi. Sejujurnya, ia tidak pernah ingin berpisah dengan Ari, bagaimana pun kelakuan cowok itu kepadanya selama ini.
“Tar?”
Tari terlonjak kaget. Saking seriusnya ia terlarut dalam pikiran, suara motor yang berhenti tepat di depannya pun tak terdengar.
“Serius banget ngelamunnya,” kata Angga sambil membuka helm.
Tari hanya menggeleng kecil, tak ingin menanggapi kata-kata Angga. Ngapain sih ni cowok nongol mulu? gerutunya dalam hati.
“Keliatannya lo sedih banget. Kenapa? Ada masalah?”
Kejengkelan Tari mulai terbit, tapi ia tetap tak ingin membuka mulut untuk cowok ini. Jadi ia hanya memasang tampang cemberut sambil menggeleng lagi.
“Tar, ini gue serius nanyanya.” Kali ini Angga turun dari motor dan berdiri di hadapannya. “Sumpah, muka lo udah kayak orang mau bunuh diri. Ada masalah apa, sih? Lo bisa cerita ke gue. Mungkin gue bisa bantu.”
Satu-satunya hal yang bisa lo lakuin untuk membantu adalah pergi dari hadapan gue. “Nggak, makasih,” sahut Tari sambil tersenyum kecut. “Gue masih punya telinga orang lain buat dengerin masalah gue.”
“Apa bedanya telinga gue sama telinga mereka?”
“Jelas beda, lah. Telinga mereka tulus, sementara telinga lo pasti banyak maunya ntar. Udah deh, nggak usah sok perhatian.”
Angga menghela napas begitu kebaikannya ditolak. Dituduh sok perhatian pula. Tapi cowok itu pantang menyerah. “Berangkat bareng, yuk? Lo nggak dijemput Ari, kan?”
“Nah ini, nih,” dengus Tari. “Yang kayak gini yang tadi gue bilang banyak maunya. Lo suruh gue cerita, trus ujung-ujungnya lo suruh gue naik ke boncengan lo. “Cerita sambil jalan aja,” gitu kan pasti? Sori, gue udah tau.”
“Ya ampun, Tar. Elo kenapa, sih?”
“Masih berani nanya gue kenapa?!” bentak Tari dengan mata melotot.
Angga menggeleng-geleng pelan. “Sesusah itu ya lo percaya sama gue sekarang? Gue sama sekali nggak ada niat jahat sama elo, Tar,” katanya dengan raut putus asa. Mendadak, cowok itu berlutut di depannya. Karena kaget plus malu jadi tontonan di pinggir jalan, Tari mundur setengah langkah. “Apa-apaan sih lo? Berdiri!” desis Tari.
“Apa kesalahan gue waktu itu emang terlalu berat buat lo maafin?” Tanpa peduli keadaan di sekelilingnya, Angga bicara sambil menunduk seolah sedang melakukan pengakuan dosa. “Gue udah nggak tau gimana caranya minta maaf ke elo, Tar. Mungkin gue emang udah lukain lo berkali-kali. Gue pernah ninggalin elo saat lo membutuhkan gue, sehingga lo harus ngadepin Ari sendirian. Bilang aja, gue emang pengecut. Dan yang terakhir ini yang paling parah. Gue culik lo demi bikin perjanjian itu sama Ari. Gue akuin, cara itu emang keterlaluan. Gue sebenernya nggak mau libatin elo dalam masalah. Gue nggak pernah berniat lukain lo kayak gitu.” Angga menarik napas panjang. Detik berikutnya, ia mengangkat wajah dan menatap langsung ke mata Tari, untuk menunjukkan seberapa dalamnya ia bersungguh-sungguh. “Karena gue sayang sama elo, Tar. Dari dulu, sampe sekarang.”
Tari sebenarnya tidak kaget. Ia mengakui, dirinya juga pernah menyayangi cowok ini. Sampai sekarang pun kalau kejadiannya tidak seperti ini, bisa saja rasa itu masih ada. Sebenarnya apa yang berbeda? Apa yang berubah dari cowok yang tengah berlutut di hadapannya ini dengan cowok yang dulu selalu melindunginya dari Ari? Tari tak menemukan perbedaan itu. Angga yang ia kenal masih seperti dulu. Cowok yang ramah dan selalu baik kepadanya. Tapi hanya karena satu kesalahan! Hanya satu! Dan rasa yang tersisa di hatinya untuk cowok itu langsung musnah.
“Maaf, Ga,” sahut Tari lirih. “Tapi gue sayang sama Ari.”
Jawaban atas pertanyaan Angga berhari-hari yang lalu terjawab sudah. Gadis ini memang menyayangi rivalnya. Penolakan langsung dari gadis itu terhadap dirinya kembali menambah retakan di hati. Namun Angga sudah terlalu kebal menahan sakit yang ditimbulkan retakan seperti itu. Jadi cowok itu malah menyunggingkan senyum, lalu berdiri. “Gue tau, Tar. Gue bisa lihat kok gimana sayangnya elo sama dia.”
Angga menaiki motornya, lalu memakai helm. Tapi ia tidak langsung pergi. Setelah menghidupkan mesin, diangkatnya kaca helm dan menoleh lagi ke Tari. “Gue cuma mau lo tau yang sebenernya aja. Makasih udah bersedia dengerin pengakuan gue. Dan sekarang, lo percaya kan kalo gue nggak sejahat itu? Naik, yuk? Gue anterin sampe depan sekolah.”
Melihat Tari yang masih ragu, Angga kembali menambahkan, “Tar, kalo lo emang maafin gue, naik ke boncengan gue sekarang.”
Angga masih menunggu sementara Tari tetap berdiri di tempatnya. Gadis itu tengah berperang melawan dirinya sendiri. Sebagian dirinya ingin sekali memaafkan cowok itu, tapi sebagian dirinya lagi menolak dan tetap bersikukuh kalau cowok itu masih menyimpan niatan jahat. Ia merasa tubuhnya seperti didorong ke depan namun kakinya terpaku di tanah.
“Tar?” panggil Angga. “Lo masih belom yakin?”
Tari menarik napas dalam-dalam. Akhirnya gadis itu menyerah. Kakinya maju dua langkah mendekati motor Angga. Tangannya sudah menyentuh jok motor saat tiba-tiba pinggangnya diseret ke belakang.
“Jangan coba-coba, Tar,” bisik orang yang tadi menyentakkannya menjauhi motor Angga. Tari menoleh. “Kak Ridho?” bisiknya kaget.
Ridho menoleh ke arah Angga yang kini tengah menatapnya tajam. “Apapun rencana lo kali ini, gue nggak akan biarin itu terjadi. Lebih baik lo jauhin Tari,” katanya dengan nada ancaman yang berbahaya.
Tari mendengar Angga menggeram di balik helmnya. Cowok yang baru saja mengucapkan sayang padanya itu balas menatap Ridho dengan penuh amarah, tapi memilih untuk pergi tanpa berkata-kata lagi. Motornya meraung keras sebelum melesat meninggalkan tempatnya terparkir tadi.
Ridho menarik tangan Tari ke arah sedannya. Cowok itu juga terlihat geram. Ia membukakan pintu penumpang depan untuk Tari. “Tunggu di sini. Pakai seatbelt lo. Kunci pintunya,” katanya setelah gadis itu duduk di dalam mobil.
Ridho berjalan menjauh. Begitu mencapai tempat yang tidak terjangkau pandangan Tari, suara Ari sudah terdengar dari ponsel yang menempel di telinganya.
“Halo?”
“Di mana lo, kuya?!” bentak Ridho langsung. “Cewek lo nih, pagi-pagi udah digangguin Angga. Kalo lo nggak segera balik, gue nggak tanggung jawab kalo dia kenapa-kenapa nantinya.”
“Dia kenapa?” sahut Ari seketika panik. “Dia diapain sama Angga?”
“Nggak diapa-apain. Maksud gue, belom diapa-apain. Mungkin baru dicolek-colek dikit,” jawab Ridho pedas. “Coba aja kalo gue nggak jemput dia pagi ini di halte, udah ilang tu cewek dibawa si Angga. Dia udah hampir naik ke boncengannya Angga, tau.”
Jawaban Ridho membuat Ari semakin panik. “Di mana dia sekarang?”
“Aman di mobil gue,” jawab Ridho sambil melirik ke arah mobilnya di kejauhan.
Ari tercenung mendengarnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Tari nanti kalau saja Ridho tidak menyelamatkan gadis itu. “Makasih, Dho. Gue bener-bener utang budi sama elo.”
Ridho mendesah. “Gue sih nggak keberatan, Ri. Tapi lo mikir juga dong kalo mau minggat. Sekarang lo udah punya Tari di sini. Lo nggak bisa seenak jidat ninggalin dia. Dia cewek elo, bukan cewek gue. Jadi sebenernya gue nggak punya hak buat seret-seret dia kayak tadi. Gue juga nggak bisa terus-terusan ngawasin dia. Bisa-bisa gue dicap cowok tukang nikung ntar, mau embat punya temen sendiri.”
“Oke, oke, gue ngerti,” jawab Ari berat. “Gue usahain balik secepetnya.”
“Bagus,” kata Ridho singkat sebelum memutuskan sambungan. Cowok itu balik badan, kembali melangkah ke mobilnya. Begitu duduk di sebelah Tari, ia menggeleng-geleng pelan. “Gue nggak ngerti, Tar,” katanya. “Baru kemaren kita ngomongin ini. Tapi kalo kayak gini caranya, gue harus nanya sekali lagi. Lo beneran selingkuh sama Angga?”
“Apa? Nggak, Kak! Bukan seperti itu,” tukas Tari. “Tadi dia cuma... cuma mau nganterin ke sekolah, kok.”
“Dan lo mau?” Ridho mengangkat kedua alisnya.
“Nggak segampang itu, dong,” dengus Tari. “Tadi dia ngemis-ngemis ke gue, tau. Malah sampe berlutut juga. Malu-maluin nggak tuh?”
Ridho menghidupkan mesin mobilnya. Sudah ia duga kejadiannya memang tidak seperti bayangan awalnya. “Trus? Dia ngomong apa aja?” tanyanya saat mobil mulai berjalan. “Kenapa akhirnya lo mau dianterin sama dia?”
“Ng... dia minta maaf soal kejadian dulu itu,” sahut Tari, tentu saja memilih untuk menyimpan pengakuan sayang Angga untuk dirinya sendiri.
“Lo maafin dia?” tanya Ridho lagi, kali ini agak pelan.
“Gue belom tau,” jawab Tari jujur. “Gue nggak bisa terus-terusan benci sama Angga. Bikin gue capek sendiri. Dan sebenernya gue udah kenal Angga sejak dulu. Dia baik.” Tari menatap keluar jendela. Penjelasannya berhenti sampai di situ.
Suasana di dalam mobil mendadak hening sampai sedan yang mereka tumpangi berhenti di parkiran sekolah.
“Makasih, Kak,” kata Tari. Tepat sebelum tangannya membuka pintu, Ridho mencekalnya. “Tar?”
Tari menoleh. “Kenapa?”
“Lo sayang sama Angga? Dulu, maksud gue.”
Tari tertegun mendengar pertanyaan Ridho. Ridho memang bukan orang yang berhak memaksanya menjawab, namun entah kenapa Tari memilih untuk tidak lagi menutupi kebenaran. “Gue dulu emang pernah sayang sama dia, Kak. Dan... dia juga sayang sama gue. Sampe sekarang.”

***

“Mau ikut gue kerja lagi nggak?” tanya Ata setelah sarapan.
Ari menggeleng. “Gue musti pulang sekarang juga, Ta. Tapi nggak tanpa lo dan Mama.”
Keduanya terdiam saat mendadak Mama masuk ke ruang keluarga. “Ata, belom berangkat kamu, Nak?”
“Lo yang ngomong ke Mama. Dan apapun jawaban Mama, kita harus terima, oke?” bisik Ata, lalu menoleh ke Mama. “Ini baru mau berangkat. Dah, Ma.” Cowok itu mencium tangan dan pipi Mama seperti biasa, lalu berjalan keluar rumah.
“Nggak ikut lagi, Ri?” goda Mama. Begitu Ari menggeleng, wanita itu tertawa kecil. “Pasti bosen kan di sana? Mending juga nemenin Mama di sini.”
Sebelum Mama melangkah ke ruangan menjahitnya, Ari menggandeng wanita itu ke sofa. “Ma, duduk dulu sebentar. Ari mau ngomong sesuatu.”
Kening Mama berkerut bingung saat dirinya didudukkan di sofa sementara Ari berlutut di hadapannya. “Ada apa, Ri? Ada masalah?” tanyanya cemas saat menyadari raut wajah Ari yang berubah keruh.
“Ari harus pulang, Ma.”
Mama terdiam sesaat. Perlahan, kepalanya mengangguk. “Ya. Mama ngerti. Memang kamu seharusnya pulang, Ri. Kamu nggak bisa ninggalin kehidupan kamu di Jakarta gitu aja.”
“Tapi Ari nggak mau pisah lagi sama Mama sama Ata.” Ari meletakkan kepalanya di pangkuan Mama, persis seperti anak kecil. “Ari takut Ari nggak bisa liat kalian lagi selamanya.”
“Sst, Ari kok ngomong gitu, sih?” Mama mengusap kepala anak bungsunya. “Kita tetep bisa saling ketemu, kok. Kalo Ata lagi ada libur, pasti nanti kami nengokin kamu ke Jakarta. Kamu juga kalo libur bisa ke sini, Ri. Kita masih bisa telepon-teleponan.”
“Ari kesepian di Jakarta, Ma,” kata cowok itu serak. Air matanya kemudian jatuh, juga di pangkuan Mamanya. “Selama sembilan tahun Ari kangen sama Mama. Papa nggak pernah ada saat Ari butuh orang tua. Ari hidup sendiri di Jakarta, tanpa orang tua dan saudara. Plis, Ma. Ari nggak mau hidup kayak gitu lagi.”
Air mata Mama ikut mengalir. Hatinya sakit saat harus mendengar kenyataan pahit anak bungsunya, sampai anak itu menangis di pangkuannya seperti ini. “Maafin Mama, Nak,” isak wanita itu. “Maafin Mama udah ninggalin kamu. Maafin Mama udah bikin hidup kamu kayak gini.”
Untuk sesaat, hanya air mata keduanya yang saling bicara. Tapi dalam hati, Ari telah bertekad untuk membawa Mama dan Ata ke Jakarta, bagaimana pun caranya. Cowok itu mengangkat kepala. Tangannya mengusap sisa air matanya, kemudian bergerak juga mengusap air mata yang mengalir di pipi Mama. “Ma, ikut Ari ke Jakarta, yuk?”
“Ata kan lagi nggak libur, Sayang.”
Ari menggeleng-geleng. “Ini bukan cuma mampir, Ma. Maksud Ari, Mama dan Ata ikut tinggal di Jakarta sama Ari.”
Mama terperangah. “Kamu tau itu nggak mungkin.”
“Plis, Ma.” Ari meraih kedua tangan Mama dan menggenggamnya. “Nggak ada yang nggak mungkin. Ari udah ngomong ini ke Ata. Dia mau-mau aja asal Mama juga ikut. Jadi, sekarang tinggal keputusan Mama yang Ari tunggu.”
“Tapi itu keputusan yang berat, Ri.” Mama menghela napas dan menatap Ari. Betapa sesungguhnya ia ingin selalu bersama kedua anaknya di sisa hidupnya. Ia ingin membagi kasih sayangnya secara adil pada kedua kembar itu. Dan di atas semuanya, ia sebenarnya ingin menebus sembilan tahun waktu yang ia lewatkan tanpa Ari.
“Kalo Mama nggak mau ikut Ari ke Jakarta, Ari yang akan tinggal di sini selamanya. Nggak peduli apapun yang terjadi,” tegas Ari sungguh-sungguh.
“Jangan bodoh, Ri. Kamu masih harus sekolah di Jakarta.”
“Pokoknya Ari nggak peduli,” tukas Ari, membungkam mamanya. “Ayolah, Ma. Justru karena Ari harus selesaiin sekolah, Mama juga harus nemenin Ari di sana. Paling nggak sampe lulus SMA. Bentar lagi, kok. Nggak ada setahun. Ata juga bisa nerusin sekolah di sana. Jadi dia bisa dapet ijazah SMA. Bisa lanjut kuliah. Bisa jadi orang yang lebih sukses. Coba Mama bayangin itu.”
Mama terdiam. Ari menunggu sambil harap-harap cemas. Kalau Mama tetap tidak berubah pikiran, apa yang harus dilakukannya? Ia harus pulang secepatnya, tapi ia tidak bisa meninggalkan Mama.
Saat Mama menatapnya, Ari menahan napas. Apa yang akan dikatakan Mama setelah ini adalah penentuan masa depannya. Jakarta, atau Malang? Keluarga, atau Tari? Sekolah, atau bekerja?
“Ri,” kata Mama pelan. Tangannya mengusap kepala Ari. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. “Dulu saat kita masih hidup terpisah, Mama pernah berjanji pada diri Mama sendiri. Suatu hari nanti saat Mama berhasil ketemu sama kamu lagi, Mama akan ngabulin apapun yang kamu mau.”
Harapan dan rasa optimis mulai tumbuh di hati Ari. “Jadi?” tanyanya tidak sabar sekaligus bersemangat.
Senyuman Mama semakin terkembang. “Jadi, untuk kali ini, mungkin Mama akan turuti keinginan kamu. Mama ikut kamu ke Jakarta.”
Ari hampir tidak memercayai pendengarannya sendiri. Mama akan ikut ke Jakarta! Dan kali ini tidak akan pulang lagi ke Malang tanpa ijin darinya! Mereka akan tinggal bersama! Refleks Ari berdiri dan menarik Mama untuk ikut berdiri, lalu memeluk wanita itu erat. “Ini bukan mimpi kan, Ma?” bisiknya dengan air mata yang sulit dibendung, yang kemudian tumpah di bahu mamanya. “Ari bakal punya Mama lagi setiap pulang sekolah? Ari bakal punya Mama lagi setiap Ari kesepian?”
“Sekarang Mama akan selalu ada buat kamu, Sayang,” Mama balas memeluk Ari erat. Sudut bibirnya tak kuasa ditarik turun dan air matanya tak berhenti mengalir. Ya, untuk sekarang dan selamanya, ia tidak akan melepaskan dan membiarkan Ari hidup menderita lagi.

***

Seharian itu, tidak ada sedikitpun materi pelajaran yang masuk ke otak Tari. Semuanya masuk telinga kanan dan langsung keluar lagi lewat telinga kiri. Apalagi Tari duduk di sebelah jendela. Sebentar-sebentar ia melamun sambil menatap keluar jendela, membuatnya berkali-kali kena peringatan dari guru-guru.
“Tar, lo kenapa, sih?” tanya Fio saat istirahat. Dia yang duduk semeja dengan Tari lama-lama heran juga. Tari menggeleng, bikin sahabatnya itu gemas. “Dari tadi ditanyain geleng mulu jawabnya. Padahal jelas banget lo kenapa-napa. Soal Kak Ari lagi?”
Tari kembali menggeleng. Ia menelungkupkan tubuh ke meja dengan kepala bersandar di lengan. “Gue pusing, Fi.”
“Kalo pusing ke UKS aja. Yuk gue anterin.”
Lagi-lagi Fio mendapat gelengan kepala. “Fi, kenapa sih gue harus kenal Ari, Angga, dan mereka-mereka itu yang bikin hidup gue jadi ruwet? Gue cuma mau jadi anak SMA biasa, yang bebas dari masalah. Eh... nyatanya sekarang malah “masalah” tuh jadi makanan gue sehari-hari. Nggak ada masalah dikit aja, gue mati kali ya? Ato jangan-jangan gue kena kutuk, lagi.”
Fio menghela napas. “Udah takdir, Tar. Elo juga sih, pake nama Jingga Matahari segala. Coba kalo nama lo Tukiyem, ato Sarinah, ato siapa lah yang nggak pake Matahari-Matahari. Mana mungkin cowok-cowok itu tertarik, apalagi Kak Ari. Mungkin bener nama lo emang kena kutuk. Ganti nama aja deh, jadi Tukiyem. Kali aja hidup lo jadi adem ayem.”
“Nggak lucu, ah,” gerutu Tari, tambah pusing sendiri mendengar opini Fio yang ngawur tentang namanya. Fio tertawa, tapi tawanya langsung hilang begitu melihat siapa yang sudah duduk di bangku depannya. Oji. Cowok itu tengah menatapnya sambil menyeringai lucu. “Bukan gitu caranya ngehibur orang, Fi.”
“Eh, mau apa lo ke sini?” ketus Fio.
Oji mengelus-elus perutnya. “Gue sama Ridho kelaperan. Bayarin makan dong di kantin. Sekalian tuh bayarin Tari makan. Begitu baru cara yang bener buat ngehibur orang.”
Tari menegakkan tubuh. “Bener tuh, Fi. Yuk ke kantin! Traktir yaaa!!”
“Ih, elo kok ikut-ikutan Kak Oji malakin gue, sih?!” jerit Fio. “Tau gitu gue tinggal aja tadi ke kantin!”
“Udaaah, yuk ah. Keburu masuk.” Tari menarik Fio hingga berdiri dan mendorongnya menuju pintu.
“Nyoman mana, sih? Heh, Nyomaaan!! Jangan kabur looo! Tanggung jawab lo juga ini!” teriak Fio begitu melihat Nyoman yang baru saja mencapai ambang pintu kelas sehabis dari kantin, langsung balik badan dan lari saat menyadari situasi yang sedang terjadi.
“Daaaaaah,” teriak Nyoman, berlari sambil ngakak, lalu dengan cepat menghilang di balik koridor.
Fio sudah akan mengejar, tapi langsung dicekal berbarengan oleh Oji dan Tari. “Eits, nggak usah dikejar. Ntar malah lo ikutan si Nyoman kabur,” tegur Oji.
“Sialan! Awas lo ya Mamaaan!” seru Fio dengan tinju teracung.
Oji dan Tari saling tatap. Bibir keduanya meringis lebar. Sepertinya Fio abis ini bakalan tekor, dan akibatnya, Nyoman tidak akan selamat sampai rumah.

***

Hari itu terjadi kegemparan di rumah Ari dan Ata di Malang. Setelah Ari mengumumkan rencana kepindahan Mama dan Ata ke Jakarta, seluruh anggota keluarga mendukung keputusan itu. Jadi Ari akan pulang ke Jakarta besok pagi untuk mencarikan rumah kontrakan sebagai tempat tinggal Mama dan Ata. Setelah urusan di Jakarta selesai, barulah Mama dan Ata menyusul ke sana.
“Gue nggak sabar, Ta,” kata Ari kepada Ata yang duduk di sebelahnya. Malam ini mereka duduk di atas atap rumah sambil menatap langit malam.
“Nggak sabar apa?” tanya Ata yang sibuk mengunyah apel.
“Nggak sabar nungguin kalian di Jakarta.”
Ata mendengus. “Lo sendiri belom nyampe Jakarta, Ri. Udah nggak sabar aja.”
Ari tertawa kecil. Tangan kanannya merangkul bahu Ata. “Tenang, bro. Gue urusin kepindahan lo ke sekolah gue. Siap-siap aja jadi seleb baru di sana.”
“Yoi, dan siap-siap aja ketenaran lo di sekolah tenggelam gara-gara ada seleb baru yang jauh lebih keren kayak gue.”
Giliran Ari yang mendengus. “Belagu amat. Biar lo kembaran gue, tetep harus ada yang nomor satu di sekolah itu. Dan nggak akan ada yang bisa gantiin posisi itu sampe gue lulus dari sana.”

Yakin banget, Ri? tantang Ata dalam hati. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Fine! Kita liat besok! Permainan baru aja mulai, bro.





Bersambung....

Selasa, 06 Januari 2015

Jingga untuk Matahari #fanfiction-12

Senin pagi. Ata membuka matanya yang berat. Tubuhnya sangat lelah setelah perjalanan jauh dari Jakarta ke Malang, ditambah ia tidak bisa langsung beristirahat karena seluruh anggota keluarganya beramai-ramai menanyakan tentang keadaan Ari di Jakarta. Ata membiarkan Mama untuk tidur lebih dulu, dan dia yang dengan terpaksa menanggapi setiap pertanyaan yang terlontar, yang kebanyakan ia jawab dengan, “Ari sehat dan baik-baik aja. Serius!”
Tengah malam, barulah anggota keluarganya “melepaskannya” dari banjiran pertanyaan. Ata menyeret tubuh ke kamar di mana ia harus berbagi dengan Mama. Dilihatnya Mama telah terlelap tanpa sempat mengganti baju. Ata menyelimuti wanita itu dan mengecup keningnya lembut, setelah itu ia ikut terlelap di samping mamanya. Ia bahkan lupa mengabari saudara kembarnya tentang kepulangan mereka.
“Ata? Kamu udah bangun? Yuk, sarapan.”
Ata bangkit duduk. Mama sepertinya telah mandi dan sekarang berdiri di ambang pintu. Sejak pertama kali mereka menginjak rumah ini, inilah pertama kalinya Ata melihat wajah Mama begitu berseri.
“Oke, Ma. Ata mandi dulu,” sahutnya agak curiga.
“Cepet ya. Jangan lama-lama mandinya. Semuanya udah nunggu di ruang makan,” seru Mama tertahan, kemudian berlalu dari hadapannya.
Ata semakin curiga, jadi ia memutuskan untuk segera mandi dan turun ke ruang makan. Sambil melangkah ke kamar mandi, ia memijit tengkuknya yang pegal. Sebenarnya dia ingin tidur seharian ini, tapi ia harus berangkat bekerja. Bosnya sudah begitu baik memberi toleransi waktu untuk cuti selama sebulan, jadi Ata tidak ingin membuang-buang waktu kerjanya lagi karena keuangan mereka menipis.
Ata mandi secepat yang ia bisa, lalu turun setelah berpakaian. Di tengah tangga pun ia bisa mendengar ramainya suara keluarga mereka dari arah ruang makan. Biasanya memang ramai, tapi sepertinya tidak pernah seheboh ini sampai Mbah Kakung tertawa-tawa dan Mbah Uti berceloteh panjang lebar. Tanda tanya di benaknya semakin besar.
Dengan melompati setiap dua anak tangga sekaligus, Ata tiba di ambang pintu ruang makan setelah beberapa langkah lebar. Matanya mengamati keramaian yang tercipta tidak wajar di ruangan itu, mencoba mencari sebabnya. Sampai kemudian “sebab” itu sendiri yang menoleh ke arahnya.
Ata terpaku. Beberapa meter di depannya, duduk di bangku yang biasa ia duduki saat makan, seseorang yang menyerupai dirinya menoleh, kemudian tersenyum. “Eh, Ta. Udah selesai mandinya? Ayo, makan. Ditungguin lama banget,” panggil orang itu.
Ata justru terpaku. Tidak memercayai pengelihatannya. Ari ada di sini? Di rumahnya? Di Malang?? Mustahil! Tapi siapa lagi di dunia ini yang memiliki wajah begitu serupa dengan dirinya selain Ari?
Ata sadar semua orang di ruangan itu sekarang tengah menatapnya, tapi Ata tidak peduli. Tatapannya tidak lepas dari Ari. Ia yakin mulutnya menganga lebar dan ekspresinya jadi tidak keruan.
“Ata?” tegur Mama, menyentakkan Ata hingga cowok itu tergeragap. “Eh, iya, Ma.” Tubuhnya bergerak kaku mengambil kursi plastik yang kemudian ia letakkan di sebelah Ari. Diam-diam saudara kembarnya itu tersenyum geli.
“Kaget banget ya?” tanyanya.
“Bukan kaget lagi, Ri,” gerutu Ata yang sudah berhasil mengendalikan diri. “Gue yakin jantung gue jatoh ke lantai tadi.”
Ari tertawa, diikuti beberapa anggota keluarganya, sementara Mama tersenyum sambil mengambilkan nasi di piring Ari.
“Kapan nyampe?”
“Baru aja. Pas lo masih molor.”
“Kenapa nggak bilang-bilang sih kalo mau ke sini?”
“Lo sendiri nggak bilang-bilang kalo lo sama Mama mau pulang,” protes Ari. “Lo nggak tau gue kagetnya kayak apa pas tau kalian udah balik ke sini. Kenapa nggak kabar-kabar dulu?”
“Maafin kami, Ri,” sahut Mama. “Ari mau makan pake apa?” tawarnya tanpa meneruskan permintaan maafnya barusan.
Ari menatap ke meja makan makan. Tempe dan tahu bacem, tumis kangkung, sawi rebus, sambal terasi, juga kerupuk. Memang begitu sederhana, namun berhasil membuat bibirnya terkembang lebar. “Apa aja boleh, Ma. Ari nggak bakal nolak.”
Mama mengambilkan lauk pauk, kemudian meletakkan piring di hadapan Ari.
“Nggak sekalian minta disuapin?” sindir Ata. “Asal kalian tau. Di Jakarta, Ari selalu minta disuapin Mama.”
“Nggak, deng. Bo'ong tuh,” tukas Ari.
“Idih, kapan gue bo'ong? Tanya aja Mama kalo nggak percaya.”
Seluruh anggota keluarganya lagi-lagi tertawa. Ari menghela napas. “Terserah, deh. Pokoknya beberapa hari ini Mama jadi milik gue.”
“Ee, udah, udah. Ayo makan. Ata mau Mama ambilin juga?” Mama menengahi.
“Nggak usah, Ma.” Ata mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk. Baru saja akan menyuapkan sesendok nasi ke mulut, cowok itu menyadari sesuatu. “Beberapa hari? Maksudnya, lo mau tinggal di sini beberapa hari?”
Ari mengangguk. “Boleh, kan?” tanyanya, bukan kepada Ata, melainkan kepada anggota keluarga yang lain.
Mbah Uti yang pertama menyahut, “Kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu mau, Nang. Tapi ya kayak gini ini rumah Mbah Kakung sama Mbah Uti, sederhana. Ndak kayak rumah kamu di Jakarta. Tidurnya juga desek-desekan. Kamu betah ndak?”
“Jangan khawatir. Ari nggak keberatan disuruh tidur di lantai asal serumah sama kalian,” jawab Ari. Ditatapnya Mbah Uti yang juga balas menatapnya dengan haru. Betapa ia merindukan sosok tua ini. Tadi saat tiba di sini, orang kedua yang dipeluknya paling erat dan paling lama setelah Mama adalah Mbah Uti. Ari sempat takut wanita tua ini terkena serangan jantung saat ia mengucapkan kata-kata, “Ini... Ari... Uti. Ini bukan Ata. Ini Ari. Dari Jakarta.” Ari bersumpah ia tidak merasakan jantung Mbah Uti berdetak saat mereka berpelukan. Tapi kemudian Mbah Uti terisak sambil menyebut namanya, membuat dirinya juga tidak bisa menahan air mata.
“Nanti Ari tidur sama Ata di kamar Mama. Biar Mama tidur sama Budhe Yani. Kebetulan Pakdhe Heru lagi tugas di Medan beberapa minggu,” kata Mama, dan seperti kebiasannya di Jakarta, tangannya dengan lembut mengusap-usap punggung Ari di sebelahnya.
“Siap, Ma!” Ari mengangguk patuh.
Suasana kembali riuh. Mereka menikmati sarapan sambil mengobrol dan bercanda. Ari merasa dadanya sesak oleh kehangatan. Suasana seperti ini yang setengah mati ia rindukan. Makanan paling sederhana pun bisa menjadi sangat lezat di lidahnya. Ia tidak akan melepaskan lagi kebahagiaan ini. Tidak akan pernah!

***

“Ma, Ata berangkat kerja dulu.” Ata mencium tangan dan kening Mama yang masih mengobrol dengan Ari di ruang keluarga.
Mama balas mencium kedua pipi Ata. “Ati-ati, Sayang.”
Ata mengangguk. Kemudian beralih kepada Ari. “Gue berangkat dulu, bro.”
“Gue ikut!” Mendadak Ari berdiri dari sofa.
“Ikut? Ikut kemana?”
“Ikut ke tempat kerja elo, lah.”
Ata membelalak. “Serius, nih? Gue kerja sampe malem hari ini, Ri. Lo bisa mati bosen di sana.”
“Gue bisa jalan-jalan ntar kalo bosen.”
“Emangnya kamu tau daerah Malang?” tanya Mama sangsi. “Ntar kesasar, lho.”
Namun Ari tetap bersikukuh. “Bisa nyari taksi. Ari kan tau alamat sini.”
“Dasar ngeyel,” dengus Ata, membuat saudara kembarnya nyengir. “Ya udah. Ntar gue anter jalan-jalan sebentar pas makan siang.”
“Yes! Yuk berangkat. Daah, Ma!” Ari menyeret tangan Ata keluar rumah. Mama hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.

***

Ari dan Ata berjalan kaki menyusuri kompleks perumahan yang agak kumuh itu. Sepanjang jalan, beberapa tetangga yang disapa Ata hanya bisa melongo saat melihat cowok itu mendadak ada dua. Berkali-kali pula Ari dan Ata menahan tawa melihat ekspresi orang-orang tadi.
“Gila, mereka kayak abis liat hantu aja,” komentar Ari setengah tertawa saat untuk kedua kalinya “kejutan” dari mereka hampir membuat orang nyaris terjungkal dari sepeda.
“Elo sih, maksa ikut. Gue bakal jadi berita nih di penjuru kampung,” gerutu Ata pura-pura jengkel.
Ari merangkul bahu Ata. “Tenang aja, bro. Kita adepin bersama.”
Keduanya tiba di depan kompleks, kemudian naik angkutan umum. Harus berganti angkutan umum sekali lagi untuk tiba di tempat Ata bekerja. Ata berjalan memasuki bengkel yang lumayan besar itu, sambil mengisyaratkan agar Ari mengikutinya. Ia menepuk pundak seorang laki-laki bertubuh besar yang sedang membungkuk mengerjakan sesuatu di dalam kap depan sebuah mobil. Orang itu berdiri dan menoleh.
“Bos, kenalin. Ini saudara kembarku dari Jakarta. Namanya Ari.”
Ari mengulurkan tangan, yang segera disambut ramah oleh laki-laki gondrong dengan lengan penuh tato itu. “Ooh, jadi ini toh saudara kamu itu. Hei, panggil aja aku Gerry, bos saudara kamu ini.”
Ari mengangguk-angguk. Kemudian ia diperkenalkan juga dengan teman-teman Ata yang lain.
“Ya udah, Bos. Ada kerjaan?” tanya Ata sambil melepas kausnya, hingga ia hanya mengenakan kaus dalam.
“Tuh, ada sedan. Baru aja masuk.”
“Oke.” Ata menoleh ke arah Ari yang masih sibuk melihat-lihat sekeliling. “Ri, sekarang terserah elo mau ngapain. Gue mau kerja. Kalo mau pergi kabar-kabar dulu.”
Ari kembali mengangguk-angguk. “Gue tunggu lo aja deh di sini.”
Ata mengangkat bahu sambil menggumamkan kata “terserah”. Ia melangkah ke sedan yang sudah terparkir di salah satu sudut bengkel. Setelah menyiapkan peralatannya, Ata membuka kap mesin depan. “Lo kenapa tiba-tiba ke sini, sih?” tanya cowok itu setelah beberapa saat mengutak-atik mesin di depannya. “Bukannya gue nggak seneng lo tinggal di sini, sumpah. Tapi gimana dengan kehidupan lo di Jakarta? Sekolah lo? Bokap? Tari?”
Ari yang sejak tadi berdiri bersandar pada jeep di sebelah sedan yang sedang dikerjakan Ata, merenungkan pertanyaan saudaranya beberapa saat. “Jujur aja, waktu gue berangkat ke sini, gue nggak mikirin itu semua. Yang gue tau, gue harus nyusul kalian saat itu juga.”
Gerakan Ata terhenti. Ia menegakkan badan menatap Ari. “Lo nggak pamit sama Tari?”
Ari menggeleng. “Gue bahkan belom sempet bicara sama dia sejak hari Sabtu.”
“Kenapa? Lagi berantem?”
Ari tercenung sejenak, lalu menggeleng-geleng lagi. “Nggak. Kami nggak berantem,” jawabnya, enggan menyinggung permasalahan yang sedang terjadi antara dirinya dan gadis itu di depan Ata. Ari sendiri juga sebenarnya belum memahami betul apa permasalahan itu.
Ata kembali membungkuk untuk meneruskan pekerjaannya. “Mungkin lo harus segera kabarin dia. Dia pasti khawatir kalo lo mendadak ngilang gini.”
Ari terdiam. Matanya menatap kosong ke lantai sementara pikirannya berkecamuk hebat. “Ta?” panggilnya pelan setelah beberapa saat.
“Hm?”
“Gue mau mutusin dia.”
“Apa?! Adauw!” Ata meringis sambil mengusap kepalanya yang terantuk kap mobil saking mendadaknya ia menegakkan punggung. “Lo serius, Ri?” serunya kaget. “Nggak, nggak mungkin. Lo pasti lagi bercanda, kan?”
Ari menghela napas berat. “Gue belom yakin, sih. Tapi gue sempet berpikir kalo gue bakal tinggal di Malang selamanya. Jadi nggak mungkin kan gue nahan Tari tetep sama gue, cowok yang tega ninggalin dia gitu aja?”
Ata ternganga. “Gila lo. Lo tau kalo itu nggak mungkin terjadi, Ri. Kok lo nggak mikirin konsekuensinya, sih? Bokap bakal nyariin elo, dan masalahnya tambah berbuntut-buntut ntar.”
“Kalo gitu lo aja yang balik ke Jakarta!” ucap Ari tajam. “Lo mau hidup sama Bokap, kan? Silahkan aja lo gantiin gue di sana. Gue nggak keberatan kalo harus kerja di sini. Gue nggak keberatan kalo harus putus sekolah.”
Ata semakin ternganga. Matanya menyipit. “Ri, tarik ucapan lo!”
“Nggak bakal!” bentak Ari. Kemudian cowok itu kembali menghela napas sambil membuang muka. “Gue tau ini gila, Ta. Tapi apa lo nggak mau coba? Gue bisa belajar hidup di sini. Sementara lo yang lebih pinter bergaul bakal bisa nyesuaiin diri di sana. Lo nggak harus ngobrol dengan Bokap biar kalian serumah. Bokap nggak akan ngira kalo itu adalah elo, bukan gue...”
“Oke, oke. Cukup,” potong Ata. “Gue nggak mau denger apa-apa lagi. Lebih baik lo diem, dan pikirin kembali keputusan sinting lo itu.”
Kedua kembar itu lalu saling diam. Ari kembali menatap kosong ke lantai, menuruti perintah Ata untuk berpikir ulang sementara saudara kembarnya itu kembali bekerja. Mendadak ponselnya bergetar. Ari menatap layar ponselnya dalam diam setelah meraih benda itu dari saku celana. Nama Tari tertera di sana.
“Kenapa nggak diangkat?” tanya Ata yang mendadak sudah berdiri di depannya dan ikut menatap layar ponsel Ari.
Ari menggeleng, kemudian mematikan ponselnya.

***

“Nggak diangkat, Kak,” lapor Tari pada Ridho yang masih duduk di depannya. Tari mencoba menghubungi nomor Ari sekali lagi, tapi nihil. Ia menggeleng lemas. “Sekarang malah nggak aktif.”
Ridho menjambak rambutnya sendiri dengan gemas. “Apa sih yang dipikirin tu anak? Bikin khawatir aja.”
Tari menyandarkan punggungnya ke dinding. Tangannya mengetik pesan singkat untuk Ari, yang entah kapan akan dibaca oleh cowok itu.
“Tar?”
“Hm?”
“Gue minta maaf. Gara-gara gue ngasih foto itu ke Ari, dia jadi salah paham.”
Tari menghembuskan napas perlahan. “Nggak perlu minta maaf. Bukan salah elo sama Kak Oji, kok. Yuk, Kak. Kita ke kantin aja nyusulin Kak Oji.” Setelah memasukkan ponsel ke dalam tas, Tari bangkit berdiri sambil menyandang tasnya.
“Lo nggak mau balik ke kelas? Lo kan nggak kena hukuman juga dari gue sama Oji?” Ridho ikut berdiri sambil menenteng tas milik Fio dan Nyoman.
Tari lagi-lagi menggeleng. “Nggak. Ini namanya setia kawan, Kak. Kalo sahabat lagi kena bencana, ya kita musti ikutan susah, dong.”
Senyuman geli kontan terbentuk di bibir Ridho. “Halah, ngeles mulu. Bilang aja lo lagi males pelajaran.”
“Nah, itu lo tau!”
“Emang dasar lo ya!” Senyuman Ridho berubah menjadi cengiran lebar. “Udah bener-bener ketularan Ari. Ati-ati deh, Tar. Jangan bandel-bandel kayak dia. Apalagi lo tuh cewek, masih kelas sepuluh pula.”
Mau tak mau Tari ikutan nyengir. “Mau gimana lagi, Kak? Gue emang lagi males pelajaran, sih. Salah Kak Ari juga bikin gue cemas kayak gini. Udah, yuk ah, ke kantin.”

***

“Bos, aku keluar dulu. Jalan-jalan sebentar.”
Gerry mengangguk mengizinkan. Ari dan Ata berjalan keluar bengkel, kemudian mencari angkutan umum.
“Mau ke mana, Ta?” tanya Ari setelah mereka mendapatkan sebuah angkutan.
“Nyari makan, lah.”
“Ya gue tau kalo itu. Makan di mana maksud gue?”
“Lo minta makan di mana?”
“Kalo gue sih terserah. Warteg juga nggak masalah,” sahut Ari yang masih terus menatap ke luar jendela untuk melihat-lihat suasana kota Malang saat siang hari.
“Oke. Kita ke warteg langganan gue aja. Lo mau nambah nasi sebakul sama minum segalon juga gratis.”
Butuh waktu lima menit naik angkutan umum untuk tiba di warteg langganan Ata. Setelah masing-masing memesan seporsi nasi rames, mereka mengambil tempat duduk di pinggir jendela.
“Ta?” panggil Ari, membuka percakapan. “Gimana dengan sekolah lo?”
Tatapan Ata menerawang ke depan. “Sebenernya gue udah cabut sekolah sejak beberapa bulan yang lalu. Gue nggak bisa fokus sekolah sementara gue harus nyari penghasilan buat gue sama Mama. Lo tau sendiri, lah. Lagian juga gue udah punya kerjaan dan gaji tetap.” Ata menepuk bahu Ari di depannya. “Makanya, lo yang masih punya kesempatan nerusin sekolah, manfaatin baik-baik, Ri. Gue tau lo juga pusing sama keadaan keluarga kita. Tapi cobalah, tahan dikit lagi. Lo udah kelas 12, udah mau lulus. Paling nggak lo tamatin SMA, setelah itu lo bebas mau ngapain aja. Lo boleh nerusin kuliah di Malang, kalo itu keinginan elo. Tapi jangan cabut sekarang. Pikirin juga perasaan Tari.”
Ari tercenung mendengarnya. Sampai nasi pesanannya datang, cowok itu masih tetap bergeming memikirkan kata-kata Ata.
“Udahlah. Tuh, dimakan dulu nasinya, sebelom dikerubutin laler.”
Ari meraih piringnya, kemudian mengambil sendok. “Gue awalnya juga mikir gitu, Ta,” kata Ari pelan sambil mengelap sendoknya menggunakan tisu. “Gue musti kelarin dulu SMA di Jakarta, baru setelah itu pindah ke Malang. Tapi begitu lo sama Mama balik ke sini, gue takut. Gue takut kalian bakal pergi lagi dan nggak pernah kembali, dan gue udah bersumpah nggak akan biarin kita pisahan lagi.”
Keduanya lalu meneruskan makan dalam diam. Saat nasinya tinggal setengah piring, tiba-tiba sebersit ide lain timbul di benak Ari. Gerakan makannya terhenti. Bahkan cowok itu mendadak meletakkan sendok dan mendorong piringnya menjauh.
“Ta, dengerin gue.”
Ata jadi ikut berhenti makan. Ia mendongak menatap Ari dengan kedua alis terangkat.
“Telen dulu, deh. Gue takut lo keselek kalo denger permintaan gue,” kata Ari.
Ata menuruti kata-kata Ari, karena dia sendiri takut Ari bakalan membuatnya kena serangan jantung dengan pikiran-pikirannya yang akhir-akhir ini semakin tidak masuk akal.
“Udah? Oke, jadi gini. Lo mau gue tetep nerusin sekolah? Lo mau gue balik ke Jakarta? Fine, gue turutin. Tapi dengan satu syarat.”
“Apaan?”
“Lo ikut gue balik ke Jakarta. Juga Mama. Lo tinggal di sana, dan nemenin gue sekolah juga di sana sampe kita berdua lulus. Setelah itu kita bisa balik lagi ke Malang.”
Tanpa ada makanan di mulut pun Ata nyaris keselek mendengar syarat yang diajukan Ari. Cowok itu mencoba mencerna permintaan saudara kembarnya. “Tapi...”
“Soal biaya... plis, Ta. Sekali ini aja. Kita pake duit Papa. Karena itu juga sebenernya udah jadi duit gue karena masuk di rekening gue. Kita beli rumah di sana. Ato paling nggak nyari kontrakan dulu buat elo sama Mama. Gimana? Ini ide udah lebih masuk akal, Ta, dibanding ide gue yang tadi.”
“Ck, lo ternyata masih nggak ngerti juga ya.” Ata menggelengkan kepala. “Nggak bisa segampang itu, Ri.”
“Ayolaah...” Ari mengibaskan tangan. “Apa lagi sih masalahnya?”
“Lo lupa sama anceman Papa? Gimana kalo dia mergokin kita ketemuan lagi? Malahan, kalo dia tau lo ke Malang saat ini, mungkin lo udah dikirim ke luar angkasa, Ri.”
Rahang Ari mengeras. “Dia nggak punya hak buat ngatur hidup gue!” desisnya berang begitu diingatkan akan ancaman ayahnya. “Gue bebas ketemu sama siapapun yang ingin gue temui. Termasuk kalian. Dan kalo emang dia udah nggak mau nganggep gue sebagai anak lagi, silahkaan. Gue dengan senang hati ngelepasin jabatan itu.”
“Ari, lo kalo ngomong dipikir dulu, deh,” sahut Ata kesal.
“Tapi beneran, Ta.” Ari menatap Ata dengan sorot lelah. “Tinggal sama Papa itu sama aja rasanya kayak nggak punya ayah. Kita bakal sering ditinggal, dibiarin hidup sendiri. Apa sih yang bisa dipertahanin kalo kayak gitu?”
Ata menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya begitu perlahan. “Gue nggak bisa mutusin secepat ini. Semua ini masalah yang menyangkut masa depan kita, juga Mama. Mungkin lo yang harus bilang sendiri ke Mama.”
“Oke. Kalo misal Mama mau...”
“Mama nggak mungkin mau.”
“Misal, Taaa. Misal! Kalo misal Mama mau, lo sendiri gimana?”
Ata mengangkat bahu. “Mau gimana lagi? Ngebiarin Mama diangkut ke Jakarta sama lo sementara gue tinggal di Malang tanpa orang tua? No way! Gue ikut! Tapi beneran, deh. Mama nggak bakal setuju.”
“Liat aja ntar,” sahut Ari dengan senyum penuh keyakinan.

***

Tari menghabiskan hari itu dengan pikiran tidak tenang. Belum ada kabar dari Ari. Ia memang belum mencoba menghubungi cowok itu lagi sejak mengirim SMS terakhir tadi pagi. Ia tahu menelepon cowok itu akan menjadi hal sia-sia. Hingga kini malam harinya, ia masih duduk di depan meja belajar meski sudah pukul sebelas malam. Matanya memelototi layar ponsel. “Lo kemana sih, Kak?” desisnya pelan.
Sementara itu di waktu bersamaan, ratusan kilometer jauhnya dari kamar Tari, Ari juga tengah duduk di tempat tidur yang digunakannya bersama Ata. Ata sudah terlelap sejak tadi, sementara Ari masih menatap layar ponselnya yang menampilkan SMS dari Tari belasan jam yang lalu.

Kak, lo kmn? Plis, gw mau ngmong

Ari meraih selembar foto dari saku celananya. Foto yang selalu ia bawa kemana-mana. Hatinya kembali terbakar setiap melihat foto itu. Ia memang butuh penjelasan. Ia memang ingin Tari bicara. Tapi tidak lewat telepon. Ia ingin melihat langsung ke mata cewek itu untuk mengetahui kebenarannya.
Tari menggigit bibir gelisah. Setelah berpikir keras, akhirnya ia mengambil sebuah keputusan. Diketiknya sebuah pesan dan dikirimnya pesan itu ke Ari. Ia yakin isi dari SMS itu akan membuat Ari menelponnya saat itu juga.
Ponsel di tangannya bergetar pelan, menandakan pesan masuk. Seperti dugaannya, pesan dari Tari. Ari membuka pesan itu.

Kak, gw diapa-apain sm Angga tadi

Tepat sasaran! Tanpa berpikir dua kali, Ari langsung menekan-nekan nomor Tari untuk menghubungi gadis itu. Begitu diangkat, yang didengarnya pertama kali adalah isakan Tari, membuatnya panik seketika.
“Tar! Tari! Lo kenapa?” seru Ari dengan nada cemas setengah mati. Tapi Tari masih menangis di seberang sana. “Tari, jawab gue!” Betapa Ari ingin berlari sampai ke Jakarta untuk memeluk gadisnya itu. Dalam hati, ia melontarkan seribu satu sumpah serapah dan umpatan untuk dirinya sendiri. Tentang begitu bodoh dan teganya ia meninggalkan Tari tanpa pengawasan, begitu gegabahnya ia pergi ke Malang tanpa memberitahu siapapun, tentang...
“Tari, plis... Lo diapain sama Angga?” suara Ari memelas. Berbagai macam pikiran buruk membanjiri benaknya. Dan kalau memang telah terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, ia tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini untuk memperbaiki keadaan, saat dirinya terpisah jauh dari gadis itu. “Tar...”
“Kak,” potong Tari setengah terisak. “Sebenernya, gue... gue nggak papa. Angga nggak macem-macem sama gue.”
“Apa?” Kening Ari kontan berkerut dalam. “Trus apa maksud lo ngirim SMS kayak gitu ke gue? Kenapa lo nangis?”
“Lo boleh marahin gue sepuasnya. Tapi gue emang bohong. Gue nggak diapa-apain sama Angga. Gue cuma mau ngomong sama elo. Gue nangis karena... lo nggak tau gimana leganya gue pas lo telepon tadi.”
Ari tertegun. Pikiran-pikiran buruk itu seketika sirna, digantikan berbagai macam perasaan yang bergejolak dalam hatinya. Marah, jengkel, geli, gemas, lega, juga senang. Kalau saja Tari ada di depannya, entah sudah dia apakan gadis itu. Mengacak rambutnya, memeluknya, atau mungkin, diberinya satu cium!
“Kak Ari, tolong jangan ditutup. Gue mau ngomong,” kata Tari dengan suara yang lebih tenang. “Gue tau lo marah sama gue. Soal foto itu... gue udah tau. Tapi lo salah paham, Kak. Gue nggak selingkuh sama Angga. Lo kok bisa mikir gitu, sih?”
“Tapi foto ini nggak bohong, Tar,” tukas Ari tajam. “Kalo emang lo nggak selingkuh, ngapain lo ke mal sama Angga?”
Tari menghela napas pelan. “Gue nggak ke mal sama Angga, Kaaak...” Dengan menahan kesabaran, penjelasan yang tadi ia ceritakan ke Ridho kembali diulangnya, dengan berbagai kata meyakinkan seperti “beneran deh, sumpah, suer”, yang ia tekankan berkali-kali.
“Kak, lo percaya kan sama gue?” tanya Tari akhirnya karena Ari diam saja.
“Untuk tau lo bohong apa nggak, gue harus liat elo langsung, Tar. Jadi, kesimpulannya, gue belom percaya sama elo.” Meski bicara seperti itu, sebenarnya dalam hati Ari memercayai setiap kata yang keluar dari mulut Tari.
Tari mendesah. “Ya udah, deh. Terserah elo. Kalo sampe gue bohong, lo boleh siksa gue dengan cara apapun.” Sedetik setelah mengucapkan itu, Tari tersadar. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Bego, keceplosan! Salah omong, nih!
Kata-kata yang terdengar pasrah dan meyakinkan tadi membuat sifat iseng Ari kumat. “Beneran? Boleh siksa elo? Itu hobi gue, lho.” Cowok itu menyeringai. “Yaah, moga-moga aja lo bohong. Jadi gue bisa siksa elo semau gue.”
“Nggak, deng. Nggak jadi. Lagian gue nggak bohong, kok. Emangnya lo mau siksa gue gimana? Lo tega sama gue? Denger gue nangis aja lo nggak tega,” cibir Tari memberanikan diri.
“Ini namanya siksaan manis, Tar. Lo nggak akan nangis sedih, tapi nangis bahagia. Jadi gue tega dengernya.”
“Mana ada siksaan yang bikin gue nangis bahagia?”
“Lulus SMA, kita nikah. Gimana?”
“Apa??” jerit Tari. “Ngimpi aja deh sana! Mana mau gue nikah sama elo.”
Ari tertawa. “Lo pasti mau, kok. Liat aja ntar. Gue lamar lo di depan Nyokap Bokap lo.”
“Apaan sih, Kak!” Diam-diam wajah Tari merah dan memanas sampai ke telinga. Sampai ia kemudian teringat sesuatu. “Kak, lo sebenernya lagi di mana, sih?”
Ari terdiam sesaat mendengar pertanyaan Tari. Sejurus kemudian, bibirnya tersenyum tipis. “Nggak perlu tau. Ntar juga gue balik, kok. Nggak usah kangen gitu lah, beb. Baru juga satu hari gue tinggal.”
“Kak Ariiiii!!”
Ari tertawa lebih keras. “Ya udah, tidur gih sono. Lo kan besok sekolah.”
“Oke. Lo juga tidur. Jangan begadang terus. Nggak sehat.”
“Iya, deh, calon istriku.”
“Nggak lucu,” ketus Tari. “Ng... Kak. Tunggu, tunggu sebentar.”
Ari yang baru saja akan memutuskan sambungan, kontan batal mendengar suara Tari yang mendadak gugup. “Ya? Kenapa lagi, Say?”
“Ng... itu... gue...”
“Iyaa, lo kenapa?”
“Gue.. gue sayang sama elo.”
Seketika hening melingkupi keduanya. Namun dalam keheningan sesaat itu, keduanya sama-sama merasakan pelukan hangat yang menyelimuti sampai ke hati. Bibir Ari terkembang lebar. “Gue tau,” katanya lembut. “Gue juga sayang sama elo, Tar.”
Senyuman Ari menular ke bibir Tari. “Daah, Kak.”
Sampai sambungan terputus pun senyuman itu masih belum mau pergi dari bibir keduanya. Tari menerjunkan diri ke tempat tidur, dan menutup wajahnya dengan bantal. Jantungnya berdebar keras hingga dadanya serasa mau meledak. Wajahnya lebih panas daripada beberapa menit yang lalu saat Ari menggodanya. Tari jadi salah tingkah, karena ini pertama kalinya mereka saling mengucapkan kata sayang.
Sementara itu Ari juga berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Gila memang kalau dia sampai melepaskan gadis itu. “Apa sih yang gue pikirin tadi?” decaknya kesal. Lalu bibirnya kembali tersenyum. “Love you, Tar,” bisiknya pelan.
Dan seolah Tari bisa mendengar, gadis itu juga berbisik pelan. “Love you, Kak.”
Ari tidak tahu, orang yang berbaring di sebelahnya dengan posisi memunggunginya, ternyata dari tadi ikut menguping pembicaraannya dengan Tari. Meski hanya mendengar percakapan secara sepihak, Ata bisa memahami keseluruhan isi obrolan mereka. Kemudian cowok itu tersenyum penuh arti.



Bersambung...


Kalo udah baca komen dulu laaah :)
Dijamin part 13-nya masih lama
Udah mulai pelajaran tambahan tiap hari -,-
Jadi sambil nunggu, kalian tebak2 sendiri deh kelanjutannya
Apa Ari dan Ata bakal beneran "tukeran posisi" (Ari tetep di Malang, dan Ata pindah ke Jakarta)?
Ato mereka semua bakal balik ke Jakarta sama Mama seperti syarat yang diajukan Ari trus Ata sekolah di Airlangga?
Apa bener Ari sama Tari nggak bakalan putus?
Sebenernya apa sih rencana Ata? Kenapa dia ngelakuin itu semua?
Imagine whatever you want, and then, just leave a comment, okay? ;)