Sabtu, 14 Maret 2015

Jingga untuk Matahari #fanfiction-15

Akhir-akhir ini Ari terlihat sibuk. Itu yang Tari pikirkan semenjak terakhir kali mereka jalan bersama mencari mesin jahit. Ari tidak menjawab pertanyaan tentang tujuan ia membeli mesin jahit waktu itu, jadi Tari hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Cowok itu juga sekarang jarang mengunjungi kelas atau rumahnya, meski setiap pagi dan siang Ari masih setia menjadi ojek pribadi.
“Sibuk?” tanya Tari suatu siang saat naik ke boncengan Ari.
“Lumayan,” jawab Ari, tidak menyangka Tari mengamati kegiatannya belakangan ini. Cowok itu menoleh ke belakang. “Kenapa?”
“Heran aja. Sibuk ngapain, sih?”
“Lo lupa? Gue kan udah kelas 12, harus rajin belajar. Nggak boleh bolos-bolos lagi. Udah? Pegangan.”
Kening Tari jadi keriting. Sejak kapan Ari sadar lahir batin kalau dirinya udah kelas 12? Maksudnya, Ari mau tobat gitu? Mau berubah jadi anak teladan? Sungguh ajaibnya hidup ini kalau itu memang terjadi!
Tanpa bertanya-tanya lagi, Tari melingkarkan lengan ke perut Ari. Nggak masalah deh kalo Ari mau tobat. Alhamdulillah, malah. Yang penting mereka masih bisa bersama, itu udah cukup.
Karena gue nggak mau kehilangan elo, Kak. Seiring dengan pikiran itu, tanpa sadar Tari mengetatkan pelukannya, bahkan menempelkan pipinya ke punggung Ari, bersandar sepenuhnya pada cowok itu.
Ari jelas kehilangan konsentrasi. Ia mengurangi kecepatan motor, lalu menoleh sekilas ke belakang. “Kenapa sih, Tar? Tiba-tiba nempel-nempel gitu?”
“Eh,” Tari langsung menegakkan badan. “Sori, Kak. Ngantuk, hehe..”
Ari tersenyum, meski ia tahu Tari tak bisa melihat senyumnya. “Sabar. Jangan tidur dulu, ntar jatoh. Lain kali kalo ngantuk bilang aja, biar gue pinjem mobil Ridho buat nganterin elo.”
Ini dia. Bentuk perhatian seperti ini yang Tari suka dari seorang Ari. Kelembutan yang jarang ditampakkan di depan orang lain. Kehangatan yang berhasil menyentuh hatinya hingga Tari yakin keputusannya untuk menerima sosok Matahari ini tidak salah. Tari ingin menjadi satu-satunya gadis yang tidak dipertontonkan segala macam bentuk kemunafikan dari Ari. Tari ingin menjadi satu-satunya gadis yang bisa menemani hati yang terluka itu. Tari ingin menjadi satu-satunya gadis yang menjadi tempat cowok itu menumpahkan air mata. Karena bagaimanapun, setelah apa yang mereka berdua lewati selama ini, Tari merasa yakin bahwa tempatnya memang di sini, bersama Ari. Tidak mungkin Tuhan menyinggungkan garis takdir mereka tanpa maksud apa-apa. Tidak mungkin teori kesamaan nama mereka hanya omong kosong belaka. Tidak ada kebetulan yang begitu dalam dan bertubi-tubi seperti ini. Pasti ada benang tak kasat mata yang memang menghubungkan mereka, entah bagaimana.
“Tar?” panggil Ari, agak terlalu kencang.
“Eh, ya, Kak?” sahut Tari kaget.
“Oooh, syukur, deh. Gue kira lo tidur beneran. Kok diem? Lagi mikirin gue ya?”
“Ih, sembarangan,” cibir Tari, meski dalam hati membenarkan dugaan Ari. Ia sendiri juga heran kenapa mendadak menjadi melankolis dan memikirkan hal-hal seperti itu tadi.
Ari tertawa kecil. “Pegangan yang kenceng. Mau ngebut nih, biar cepet sampe rumah.”

***

Hari ini ada pelajaran olahraga. Tari dan teman-temannya sedang melakukan pemanasan sementara Pak Adang memberi instruksi pembagian kelompok untuk pertandingan basket. Tatapan Tari jatuh ke gerombolan cowok kelas dua belas di salah satu tepi lapangan. Ada sekitar 7 atau 8 orang yang mengumpul di sana, salah satunya adalah Ari. Cowok itu ternyata juga tengah menatapnya, lalu melempar senyum.
“Nggak pelajaran?” tanya Tari tanpa suara.
Ari menangkap gerakan bibir Tari. Cowok itu menggeleng. “Kosong,” balasnya, juga tanpa suara.
Hebat memang keduanya, bisa berkomunikasi jarak jauh gitu hanya dengan gerakan bibir. “Belajar sana!” balas Tari dengan wajah galak sambil mengangkat satu kaki untuk meregangkan ototnya.
Ari tertawa kecil. “Ntar,” jawabnya.
Tari mendengus. Gimana sih tu cowok? Katanya udah harus rajin belajar? Giliran pelajaran kosong kok nggak buat belajar, malah nongkrong di pinggir lapangan. Tapi Tari tak ingin ambil pusing.
“Hei, Tar! Kita sekelompok!” teriak Fio.
Tari memutar lehernya untuk mencari sumber suara itu. “Ha? Sekelompok apa?” tanyanya bingung setelah menemukan Fio yang sedang mencoba men-drible bola.
Fio memutar bola mata. Pasti deh Tari nggak konsentrasi sama wejengan Pak Adang tadi. Tiba-tiba ia melihat sosok Ari dan teman-temannya di seberang lapangan. “Oooh, pantesan,” kata Fio. “Sekelompok basket sama gue, Neng. Konsentrasi, dong! Mentang-mentang ada Kak Ari.”
Tari cuma nyengir. Ternyata kelompoknya maju pertama, melawan kelompoknya Nyoman. Ia mengambil posisi yang diinstruksikan Maya, yang memang lebih jago basket. Tari mah ngikut aja, secara dia nggak paham blas soal strategi basket.
Setelah lima menit berlalu, Tari mendapat operan bola. Karena Nyoman dan Lia mendesaknya, tanpa pikir panjang Tari melempar bola ke arah Maya yang berada di pinggir, bebas dari lawan. Meleset! Lemparan Tari melambung jauh dari jangkauan Maya yang tidak siap, melayang keluar dari lapangan, dan...
Dug!
“Aauu!” Mendarat persis di kepala seorang cowok! Cowok yang sedang berjalan membelakangi lapangan itu kontan menghentikan langkah dan mengusap kepalanya.
Saat berlari menghampiri cowok tadi, Tari menoleh sekilas ke tempat Ari. Dilihatnya cowok itu menahan senyum geli sambil menggelengkan kepala. Tari meringis agak bersalah.
“Maaf, Kak,” katanya pada cowok yang kepalanya sempat jadi tempat landing si bola oranye. Dari perawakannya sih keliatan banget dia kakak kelas, jadi Tari manggil dia “Kak”. “Saya nggak sengaja. Kakak nggak pa-pa, kan?”
Begitu cowok tadi membalikkan badan, Tari terperangah. Ari? Tapi bukankah tadi Ari masih di seberang lapangan bersama teman-temannya? Kok bisa tiba-tiba ada di sini?
Ari yang berdiri di depannya itu tersenyum. Tangan kanannya memegang bola basket tadi. “Gue nggak pa-pa. Nyut-nyutan dikit doang. Tapi ntar juga ilang.”
Tari membalikkan badan dengan kaku, mencari Ari di tempatnya. Lho? Cowok itu masih di sana, di seberang lapangan, memperhatikannya dengan senyuman tertahan. Tari sampai menyipitkan mata untuk memastikan bahwa itu benar-benar Ari. Ya. Tentu saja cowok di seberang sana adalah Ari. Tidak ada cowok yang telinganya bertindik di sekolah ini selain cowoknya yang urakan itu. Tidak ada cowok yang seragamnya berantakan selain cowoknya yang bandel itu. Jadi, siapa Ari yang berdiri di belakangnya ini...
Surprise,” bisik cowok tadi, tepat di belakang daun telinganya.
Tari tersentak, dan lagi-lagi membalikkan badan. Kesadaran itu menghantamnya seketika. “Kak Ata?!”

***

“Jadi itu cara lo nyambut murid baru di sini? Lemparin bola ke kepalanya? Wonderful.”
Tari tak bisa berkata-kata untuk membalas candaan Ata. Kegiatan di lapangan jadi terhenti setelah mereka mendengar pekikan Tari yang menyebut nama kembaran Ari. Bisikan-bisikan kaget pun meledak di udara.
“Itu Kak Ata? Kembarannya Kak Ari itu?”
“Dia kok di sini? Kok pake seragam?”
“Dia pindah ke sekolah ini!”
“Apa?! Yang bener? Sejak kapan?”
Was... wes... wos... Seruan-seruan tertahan dari teman-teman sekelasnya bagai angin ribut di telinga Tari, bikin pusing. Dia sendiri masih berusaha mencerna kehadiran Ata di depannya ini. Ya! Ata! Seorang kembaran dari Matahari Senja, siang ini berdiri di depannya, di lapangan SMA Airlangga, sekaligus mengenakan seragam SMA yang komplit dan rapi! Surprise?! Are you kidding me? Tari nyaris menjerit.
“Nggak usah melotot gitu, Tar. Gue bukan makhluk astral, kok. Gue emang Ata. Ato perlu gue kenalin diri lagi, hm?” Ata melipat tangan di depan dada sambil mengangkat satu alisnya. “Kayaknya nggak perlu sih, soalnya lo nggak bakal lupa nama gue yang cuma kebalikan dari nama elo, Jingga Matahari.”
Tatapan Ata berpindah ke belakang Tari. “Cewek lo kaget banget, Ri. Syok malah. Jangan salahin gue kalo dia kena serangan jantung. Ini ide elo.”
Tari merasakan seseorang merangkul bahunya. Ia menoleh. Ari telah berdiri di sana dengan cengiran lebar. “Sori, Tar. Kaget, kan? Berarti kejutan gue berhasil, dong!”
“Berhasil?!” Tari meledak. “Jadi ini yang lo rahasiain dari gue?! Nyebelin banget lo, Kak! Rese!” Entah kenapa cewek itu tiba-tiba emosi. Tari mengenyahkan tangan Ari dari bahunya dengan kasar, lalu merebut bola dari tangan Ata.
“Apa liat-liat?” sentak Tari pada teman-teman ceweknya yang sekarang tengah bergerombol sambil mengagumi kedua Matahari yang berdiri di tepi lapangan. Gimana nggak bengong coba kalo ada dua insan yang nyaris sempurna seperti Ari dan Ata berdiri di satu tempat? Satu aja rasanya udah kayak mimpi di siang bolong. Lah ini ada dua? Kayaknya cewek-cewek SMA Airlangga emang lagi disayang Dewi Fortuna.
“Ayoooo, main lagi!” seru Tari jengkel karena teman-temannya tidak beranjak.
“Lo main sendiri deh sono,” sahut Nyoman tak acuh.
Tari yang sudah berdiri di tengah lapangan kontan melotot. Suruh main sendiri? Emang tuh si Nyoman minta ditimpuk pake bola. Sekilas, ia melihat Ari berbisik di telinga Ata. Saudara kembarnya itu mengangguk, lalu mendadak mereka berdua lari ke arah Tari.
Eh, mau apa mereka?! Tari jadi panik. Ia sudah bersiap kabur saat bola di tangannya direbut begitu saja. Dan dalam sekejab, Ari dan Ata mengambil alih lapangan. Tari mundur perlahan, menghindari kedua kembar yang kini asyik berduel basket. Ia hanya bisa terperangah tak percaya di pinggir lapangan.
Cewek-cewek pun tak tahan lagi untuk tidak menjerit. Bahkan kini bukan hanya anak-anak dari kelas Tari saja yang berkerumun. Siapapun yang lewat di tepi lapangan akan segera menghentikan langkah untuk menonton pertandingan basket dadakan itu. Cewek-cewek kembali menjerit histeris saat Ari membuka kemeja dan membuangnya begitu saja.
Demi seluruh makhluk hidup ciptaan Tuhan di alam semesta! Sumpah, tu cowok emang keren tingkat dewa! Bertelanjang dada, bermandi keringat di bawah terik matahari sambil menggiring bola dengan lincah, lalu melakukan tembakan demi tembakan yang tak pernah meleset. Rambutnya yang panjang dan mulai basah karena keringat sering dikibaskan dari dahi agar tak menutupi pandangan. He’s damn sexy!
Tak lama Ata pun ikut-ikutan buka kemeja. Cowok itu masih mengenakan singlet di dalamnya. Tapi itu sama sekali tak mengurangi kadar kegantengannya. Looks so cool malah. Singlet itu melekat ketat di badannya yang berotot. God! It’s really kind of You to send beautiful angels like them to this life! Penonton bergender cewek sampai mangap semangap-mangapnya disuguhi pemandangan terindah yang baru mereka lihat seumur hidup, hampir-hampir meneteskan air liur, tak sanggup menjerit lagi karena napas rasanya tersangkut di tenggorokan.
“Kak Ariii!!! Love you, Kak!” teriak entah siapa.
“Hush, ada ceweknya gitu,” tegur seseorang, juga entah siapa. Tari sampai tidak bisa membedakan suara teman-teman sekelasnya sendiri maupun orang-orang di sekitar.
“Eh, iya, ding. Kalo gitu Kak Ata aja, deh. Semangat Kak Ataaaa!!”
“Gue sih bodo amat. Kak Ari tetep numero uno pokoknya! Kak Ariiiii!! Semangaaaaat!!”
“Kak Ataaaa!!”
“Kak Ariiiii!!! Kyaaaaaa!!!”
“Kak Ataaaa!! Kak Ariii!! Love both of youuuu!!”
Tari rasanya mau pingsan aja saking pusingnya. Penonton semakin menggila setelah mereka berhasil menemukan kembali suara mereka. Menjerit-jerit heboh, meneriakkan nama cowok pujaan mereka, dan berlomba-lomba untuk bersorak paling keras. Suasananya sudah mengalahkan keramaian pertandingan basket internasional. Histeria ini sudah nyaris mencapai puncak ketika terdengar sempritan panjang yang memekakkan telinga dan menghentikan segala macam teriakan tadi. Seperti tombol pause yang ditekan, seketika langsung hening dan tidak ada yang bergerak.
“Ada apa ini? Kok berhenti main? Sedang apa kalian bergerombol di situ?” teriak Pak Adang. Tatapannya terarah ke lapangan, dan seketika langsung mendapat jawaban. “Ari!!” bentaknya.
Ari melompat sambil melempar bola ke ring. Masuk! Three points! “Eh, iya, Pak. Maaf. Udah selesai, kok. Cabut, Ta.” Cowok itu berlari mengambil kemejanya, lalu kembali ke teman-temannya yang dari tadi setia menonton di tepi lapangan. Tak lama, gerombolan anak kelas 12 itu pun berlalu.
Pak Adang menggelengkan kepala. Entah akan jadi seperti apa sekolah ini kalau ada dua orang “Ari”. Ia yang baru saja dari ruang guru, juga baru mendapat kabar kalau saudara kembar Ari pindah ke sini. Dan ternyata objek pembicaraan hangat para guru itu malah sudah menampakkan diri di lapangan, mengganggu jam mengajarnya. Ia lalu mengalihkan perhatian ke anak-anak didiknya yang masih megap-megap terpesona.
“Jangan pada bengong! Ayo lanjutkan pertandingannya!” teriaknya tegas.

***

Tari kira setelah jam olahraga dia bisa menemui Ari untuk meminta penjelasan. Tapi cowok itu tak terlihat berkeluyuran di area kelas 10. Kemungkinan besar dia masih di gedung kelas 12, entah sedang belajar atau sedang mencari masalah. Tari ogah kesana lagi setelah insiden pin matahari yang melibatkan dirinya dengan geng The Scissors. Cari mati namanya kalau dia sampai menginjakkan kaki ke gedung dua belas sendirian untuk kedua kalinya.
“Tar! Kok nggak cerita sih kalo saudara kembar Kak Ari pindah ke sini?” tuntut teman-temannya begitu mereka kembali ke kelas.
Tari melotot, sampai urat matanya serasa mau putus saking seringnya dia melotot hari ini. “Ya jelas gue nggak cerita, orang gue juga baru tau!” serunya. “Jangan dikira gue nggak kaget tadi. Lagian kalo gue tau, ngapain juga gue musti koar-koar tentang kepindahan Kak Ata? Toh ntar kalian tau sendiri.”
“Iyee, iyee, nggak usah sewot gitu kaleeee...” kata Nyoman.
Tari mendengus. Mood-nya sedang jelek pagi ini gara-gara kejutan dari Ari dan Ata. Sialan emang mereka. Sekongkol bikin gue kaget. Awas aja!

***

“Permisi, minta tisu, dong.”
Kanya jelas langsung menyerahkan tisunya satu bungkus begitu Ata meminta. “Silahkan, silahkaaan. Bawa aja. Oh ya, kenalin, gue Kanya.” Cewek itu menyodorkan tisu sekaligus tangannya.
Ata tersenyum tipis. “Ata,” jawab cowok itu singkat sambil menjabat tangan Kanya. “Sori, tangan gue keringetan. Thanks tisunya. Ntar kalo sisa gue kembaliin, deh.”
“Oh, nggak usaah, ambil aja,” sahut Kanya sambil mengedip-ngedipkan mata genit.
Thanks,” kata Ata lagi, lalu kembali ke tempat duduknya di meja paling depan, di sebelah Ari. “Ih, tu cewek kelilipan kali ya. Kedip-kedip gitu ke gue,” bisik Ata.
Ari tertawa. “Ati-ati, bro. Kanya salah satu fans fanatik gue. Bisa pindah ke elo, tuh. Pasti tadi dia mikir, jangankan tisu, jiwa raga pun rela gue serahkan ke elo, Ataaaa.” Ari pura-pura menirukan suara cewek.
“Hiii..” Ata bergidik tak kentara, membuat Ari tertawa lagi. Ia kemudian mengelap tubuhnya yang berkeringat menggunakan tisu, baru memakai kemejanya. Sementara Ari sendiri tak mau repot-repot mengelap keringatnya. Cowok itu telah memakai kemejanya tanpa ada satupun kancing yang dipasang, menampakkan kulit dadanya yang masih sedikit berkilat karena keringat.
“Gimana kontrakannya? Nyaman?”
“Lumayan,” jawab Ata. “Gue masih tidur sekamar sih sama Mama. Udah kebiasaan. Apalagi di rumah baru kayak gitu.”
“Ntar lama-lama pasti betah. Kalo ada apa-apa langsung bilang gue.”
Ata mengangguk sambil mengancingkan kemejanya.
“Ri, ke kantin nggak?” tanya Ridho di ambang pintu. Ia sudah berdiri bersama semua teman cowoknya, bersiap meninggalkan kelas lagi. Ari menoleh, lalu mengangguk. “Ikutan, Ta?”
Ata menggeleng. “Gue mau belajar aja di kelas.”
“Duilee, rajin amat.”
“Tau sendiri, laah.” Ata membuka buku paket matematika. “Gue udah ketinggalan pelajaran jauh banget. Masih nol malah. Kudu ngejar kalian.”
“Oke, good luck kalo gitu.” Ari berjalan menghampiri teman-temannya, tapi baru dua langkah dia balik lagi mendekati Ata. “Oh ya. Hampir aja gue lupa mau bilang,” bisiknya. “Selalu waspada sama cewek-cewek di sini. Bisa dilalap abis lo sama mereka kalo kaum cowoknya tinggal sebiji gini di kelas. Apalagi lo masih anak baru. Gue nggak mau gitu balik ke sini sodara kembar gue tinggal tulang belulang.”
Wajah Ata mengernyit tidak suka. “Ikut kalo gitu,” putusnya segera dan langsung berdiri.
Ari terbahak keras. Dirangkulnya bahu Ata dan menggiringnya keluar, diikuti tatap kecewa cewek-cewek penghuni kelasnya.
“Sialan tuh si Ari! Bawa-bawa Ata pergi. Padahal kita-kita kan mau PDKT!” begitulah kira-kira jeritan hati mereka.

***

Ari baru menemui Tari saat pulang sekolah. Cowok itu menjemputnya di kelas seperti biasa setelah seharian ini sama sekali tidak menampakkan diri usai kejadian tadi pagi. Dan seperti biasa pula, sama sekali tak ada rasa bersalah di wajahnya.
“Gue ada urusan, lo duluan aja,” sambut Tari dengan wajah ditekuk, masih menyimpan kejengkelan kepada cowoknya ini.
“Urusan apa, Say? Gue harus pulang sendiri, nih?”
“Iyaaaa, udah sono pulang!” Tari mendorong-dorong bahu Ari, ingin cepat-cepat menjauh dari cowok itu.
“Ada urusan apa, sih? Gue bisa tungguin.”
Gigih banget ni orang! “Nggak usah ditungguin! Ntar lo lumutan di sini. Gue mau ngerjain tugas kelompok, banyak. Sampe malem pokoknya. Udah deh, pergi aja! Cepetaaan! Biar gue pulang sendiri ntar.”
“Kenapa sih ngusir-ngusir? Masih bete ya gara-gara kejutan gue tadi pagi?” Ari mulai tersenyum jahil.
Tari balik badan hendak masuk ke kelasnya. Males harus ngeladenin Ari lebih jauh. Lama-lama bisa darah tinggi! Orang lagi kesel malah disenyum-senyumin kayak gitu!
“Lo nggak butuh penjelasan gue?” pancing Ari. “Tentang Ata? Tentang apa yang gue sembunyiin dari elo?”
Hampir saja Tari menghentikan langkah. Tapi... “Nggak!” tolak gadis itu tegas tanpa membalikkan badan. Padahal dalam hati ia butuh banget penjelasan. Tapi gengsi, deh. Ntar-ntar aja penjelasannya.
“Oke kalo gitu. Pulangnya jangan malem-malem. Telepon gue kalo ada apa-apa ato butuh jemputan.”
“Bodo,” sungut Tari dan langsung menutup pintu kelas dengan bantingan.
“Eh, eh, kenapa ditutup pintunya?” tanya Jimmy.
“Ada demit di luar, biar dia nggak bisa masuk!” sahut Tari dengan geregetan. “Jangan dipikirin! Yuk mulai kerja!”

***

Tugas kelompok itu baru selesai sore hari. Sekitar pukul 5, Tari membereskan alat-alat tulisnya dan memasukkannya secepat kilat ke dalam tas. Rasanya pingin segera sampe rumah trus mandi. Badannya lengket semua setelah kegiatan olahraga hari ini.
“Tari!” panggil seseorang saat ia menyeberangi lapangan menuju gerbang.
Tari tahu siapa si empunya suara itu. Ia melengos dan mempercepat langkah. Mendadak tangannya dicekal dari belakang.
“Apa, sih?!” Tari membalikkan badan sambil menyentakkan tangannya. “Kan udah gue bilang, duluan aja! Kenapa lo masih...” teriakan Tari terhenti begitu menyadari siapa yang kini berdiri di depannya. “Eh, Kak Ata? Sori, Kak. Gue kira Kak Ari.”
Ata tersenyum tipis. “Kok baru pulang?”
“Abis ngerjain tugas kelompok. Kak Ata sendiri kenapa masih di sekolah sore-sore gini?”
“Masih ada beberapa urusan di Tata Usaha sama di perpustakaan tadi. Biasa, murid baru. Si Ari juga kagak bantuin.”
“Emang brengsek tuh sodara kembar lo. Dimarahin aja nanti!” Tari melipat kedua tangan dengan bibir monyong lima senti. Kejengkelannya mulai terbit lagi.
Ata tertawa geli. “Kalo menurut lo, gue brengsek nggak?” tanyanya seiring dengan tawanya yang mendadak lenyap.
“Eh?” Tari menatapnya bingung.
Ata membungkukkan badan sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Tari. “Jangan bilang lo lupa apa yang pernah gue bilang ke elo.”
Aura Ata berhasil mengintimidasinya. Tari jadi tergeragap. Tapi otaknya langsung menangkap apa yang dimaksud Ata. Karena jelas Tari nggak akan pernah lupa apa yang pernah Ata katakan padanya saat awal-awal cowok itu tiba di Jakarta. “Soal... peringatan lo dulu itu? Ng... gue nggak ngerti, Kak. Sebenernya apa sih rencana lo?”
Ata tersenyum lagi. Kali ini terlihat dingin dan di matanya ada kilatan licik. Tubuh Tari membeku begitu satu tangan Ata terangkat mengusap pipi kirinya. “Rencana gue? Lo nggak perlu ngerti. Cukup liat aja. Yang jelas gue udah di sini sekarang, nggak akan kemana-mana lagi. Itu salah satu rencana gue yang udah berhasil.”
“Gue nggak mau terlibat apapun rencana lo, Kak!” Tari menepis tangan Ata dengan kasar.
Ata menggeleng. “Sori, Tar. Tapi sayangnya lo harus terlibat. Karena lo punya hubungan sama adik kembar gue.” Cowok itu menegakkan badan. “Jadi lo siap-siap aja. Tapi tenang, kayak yang udah gue bilang dulu, gue udah berusaha biar cara gue nggak terlalu keras buat elo.” Sekilas, cowok itu mengusap kepala Tari, lalu melangkah pergi.
“Jangan sakiti Kak Ari!” teriak Tari tiba-tiba, membuat Ata menghentikan langkah. Gadis itu membalikkan badan dan menatap Ata lurus ke matanya. “Gue peringatin elo, jangan sekali-sekali sakiti Kak Ari!”
Mendengar peringatan itu, Ata justru menyeringai. Dibalasnya dengan santai tatapan menusuk Tari. “Coba aja lindungi dia,” sahutnya dengan nada mengejek. “Dan elo yang bakal nanggung sakitnya.”

***

Tubuh Tari menggigil melihat seringai licik di bibir Ata. Bahkan ketika cowok itu kemudian meninggalkannya tanpa menoleh lagi, Tari masih menggigil. Seolah suhu di sekolah yang sudah sepi dan mulai gelap ini turun beberapa derajat. Gadis itu terlalu ketakutan dengan ancaman Ata kali ini.
Dulu semuanya masih berupa dugaan-dugaan tak jelas. Ancaman dari Ata terasa seperti mimpi yang bisa dengan mudah tak ia pikirkan. Cowok itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda berbahaya. Jadi Tari tak punya alasan untuk merasa takut. Tapi sekarang, saat Ata sudah resmi menjadi warga SMA Airlangga, saat dia sudah berada satu gedung dengannya, dan berdiri tepat di hadapannya, ancaman ini jelas begitu nyata. Cowok itu ternyata mempunyai rencana tersendiri yang ia bawa bersama kepindahannya ke Jakarta.
Coba aja lindungi dia. Dan elo yang bakal nanggung sakitnya...
Tari merasa Ata seperti tengah memelihara singa. Sekarang Tari hanya bisa mendengar geramannya yang melontarkan peringatan. Dan suatu hari nanti, ketika Ata merasa singa itu sudah cukup kuat, akan ia lepaskan hewan buas itu untuk mencabik-cabik dirinya, dan juga Ari, hingga habis tak bersisa! Tunggu dulu. Ari. Mengapa rencana Ata justru mengarah ke saudara kembarnya sendiri? Siapa yang dulu pernah berceramah tentang menjaga hati Ari yang telah terluka itu? Apa Ata berniat menjilat ludahnya sendiri?
 “Ya, Tar?” sahut Ari begitu Tari meneleponnya.
“Kak, jemput gue. Sekarang. Gue tunggu di halte,” kata Tari lirih, tak mampu menyembunyikan getaran dalam suaranya. “Gue butuh penjelasan soal kepindahan Kak Ata.”

***

Ari tertegun melihat Tari yang duduk dengan pucat di halte yang hampir gelap dan kosong. Firasatnya memang tidak enak setelah Tari menelepon. Tadi siang cewek itu masih baik-baik saja, masih galak padanya, masih gengsi dianterin pulang. Dan ketika Tari menelepon minta dijemput, ditambah suara gadis itu yang terdengar ketakutan, Ari seketika dilanda panik. Ia tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres.
Ari bergegas turun dari motor. Begitu memegang pipi Tari, kulit cewek itu pun terasa dingin. “Tar? Elo kenapa? Sakit?” tanyanya cemas. Ia lepas jaketnya dan melingkupkannya ke tubuh Tari. Seperti belum cukup, tanpa pikir panjang dipeluknya tubuh cewek itu, berusaha memberinya kehangatan.
Tari menyandarkan kepala ke dada Ari, lalu mendesah. Nyaman sekali. Seolah dengan begitu saja dia sudah membagi bebannya. “Gue nggak pa-pa,” sahutnya lirih.
“Jangan bohong, Tari!” geram Ari dengan gigi gemeretak. Ia mendongakkan wajah gadis itu, memaksanya menatap matanya, lalu menilai sesuatu dari sana. Gadis ini bahkan tidak ketakutan membalas tatapannya. Biasanya Tari akan memalingkan wajah kalau Ari mulai memberinya tatapan tajam seperti ini. Tapi kali ini, hanya ada sorot hampa dari kedua mata gadis itu. “Ada yang macem-macem sama elo?” geramnya lagi. Rahangnya mulai terkatup keras.
“Nggak.”
“Bohong!”
“Tolong, Kak. Jangan teriak-teriak gitu.”
Ari seketika tersadar. Ia menghembuskan napas berat, lalu memeluk Tari lagi. “Maaf,” katanya pelan sambil mengusap-usap punggung Tari. “Yuk, pulang.”
“Nggak, tunggu dulu.” Tari menarik lengan Ari yang sudah akan menggandengnya ke motor. “Jelasin dulu ke gue tentang kepindahan Kak Ata.”
Ari mengerutkan kening. Kenapa Tari tiba-tiba begitu tertarik dengan penjelasannya? Ia menggeleng pelan. “Udah malem, Tar. Bisa sampe pagi kalo gue cerita di sini. Pulang dulu, nanti setelah lo istirahat, baru gue cerita. Janji.”
“Nggak bisa, Kak!” Tari nyaris menangis. “Gue pingin tau sekarang!”
“Elo kenapa sih, Tar?” Ari tak bisa menyembunyikan kebingungannya.
Setetes air mata bergulir turun di pipi Tari. Gadis itu begitu ketakutan. Tidak. Ia tidak takut Ata akan menyakitinya, bagaimanapun cara cowok itu nanti. Ia lebih takut Ata menyakiti cowok di depannya ini. Memikirkan kemungkinan itu membuatnya tambah terisak. Tapi ia tidak bisa menjelaskan ini semua kepada Ari.
“Tari, plis jangan bikin gue takut,” suara Ari mulai panik. Direngkuhnya tubuh Tari erat-erat, menekan kepala gadis itu ke dadanya, membiarkan ia menumpahkan air mata di sana. “Ssst, jangan nangis. Udah ya? Tolong, jangan nangis. Jadi ikutan sedih nih gue.”
“Gue... takut, Kak,” isak Tari dengan suara teredam.
“Ssst, apa sih yang lo takutin? Ada gue di sini. Lo aman sama gue.”
Setelah Tari agak tenang, dilepaskannya pelukan itu. Ia mengusap jejak air mata di pipi Tari. “Sumpah, Tar. Lo bikin gue bingung,” katanya di ambang frustasi. “Tapi gue nggak akan maksa lo cerita. Yuk, pulang.”
Tari menurut ketika tangannya digandeng dan Ari membantunya naik ke boncengan. Dipeluknya pinggang cowok itu erat. “Ngebut aja ya, Kak. Gue ngantuk.”
Ari tertawa kecil. “Tumben banget minta ngebut. Biasanya pinggang gue memar-memar dicubitin elo kalo gue ngebut dikit aja. Oke kalo gitu. Jangan tidur dulu ya. Sandaran ke punggung gue kalo capek.”
Sebentuk senyuman melengkung di bibir Tari, bersamaan dengan setetes air mata yang kembali jatuh.





Bersambung....

***

Sesuai janji nih, malem minggu upload :D
Duuh, sampe kipas-kipas bikin scene basket antara Ari sama Ata. Mereka berdua “panas” sih, hihi
Itu yg teriak “Gue sih bodo amat. Kak Ari tetep numero uno pokoknya! Kak Ariiiii!! Semangaaaaat!!” kayaknya Aul deh, hahaha...
Sumpah, Tar! Tukeran posisi yuk? Ato Fio deh, Fi. Aul mau kok jadi di posisinya Fio, ato siapa aja deh cewek-cewek Airlangga boleh! #ngarep
Desperate banget pingin liat sosok Kak Ari :(
Jarang-jarang nih ide lancar, semoga untuk part 16-nya ide juga lancar, amiiiin

Yuuuk yuuuk komeeen ^^

Sabtu, 07 Maret 2015

Jingga untuk Matahari #fanfiction-14

Jam istirahat kedua, Tari dan Fio langsung ngacir ke kantin. Perut mereka keroncongan sejak ulangan Matematika sekaligus Kimia yang dilaksanakan berturut-turut tanpa ampun. Sementara energi cadangan habis tak bersisa, otak mereka serasa mengepulkan asap saking kerasnya dipaksa bekerja. Istirahat pertama tadi mereka tidak sempat menginjakkan kaki ke kantin karena sibuk belajar.
“Ya ampun, gila banget soal-soal Kimia tadi. Gue cuma bisa ngerjain setengahnya, Tar! Itu aja nggak tau bener apa kagak.” Fio mengempaskan pantat ke bangku kantin yang masih kosong tanpa semangat, ngenes kalau harus mengingat soal ulangan tadi.
Tari menggeleng. “Lo mending bisa setengahnya. Lah gue? Bener satu soal aja berkah, Fi. Elo juga, sih! Kenapa nggak ngingetin gue kalo hari ini ada ulangan Matematika sama Kimia? Gue lupa belajar tadi malem.”
Fio meringis. “Makanya, lo jangan mikirin Kak Ari mulu, dong. Inget sama pelajaran juga, Tar.”
Tari jadi mendadak lesu. Kak Ari lagi, Kak Ari lagi. Cowok itu masih belum ada kabar sejak terakhir mereka berbicara di telepon. Semua SMS maupun panggilan Tari kembali tidak ditanggapi. Tari mendesah saat soto pesanan mereka datang. Nafsu makannya mendadak lenyap. Ia mengambil sendok, kemudian mengaduk-aduk sotonya tanpa gairah.
Tari melayangkan pandangan ke sekeliling. Matanya berhenti di satu titik, kepada seseorang yang tengah melangkah ke arahnya. Tari memejamkan mata, berusaha mengenyahkan bayangan orang itu. Nggak mungkin, nggak mungkin, nggak mungkin! Sadar, Tar! Dia cuma khayalan elo! Khayalan, khayalan, khayalan, enyahlah, enyahlah, enyahlah, rapal Tari dalam hati sembari berkomat-kamit seperti sedang mengusir setan. Tapi begitu membuka mata, orang itu masih ada, bahkan sekarang sudah berdiri tepat di belakang punggung Fio, menatapnya sambil menyunggingkan senyum. Sekujur tubuh Tari membeku. Tidak mungkin orang ini ada di sini! Senyum yang begitu dirindukannya ini tidak mungkin nyata!
“Fi,” Tari memijit pelipisnya dengan mata kembali terpejam. Keningnya berkerut seolah sedang menahan sakit. “Kayaknya efek ulangan tadi parah banget, deh. Gue mulai berhalusinasi, Fi.”
Fio menghentikan kegiatan makannya. “Berhalusinasi apa?”
“Masa gue...” Tari melirik sedikit ke orang di belakang Fio. “Gue liat...”
“Lo pikir gue cuma halusinasi lo, Tar?” potong Ari. Cowok itu kemudian duduk di sebelah Fio, masih dengan senyum rupawannya yang kali ini bercampur dengan cengiran jahil. “Segitu kangennya lo sama gue?”
Fio nyaris keselek sotonya yang belum sempat tertelan, sementara Tari menganga mendengar suara Ari. Jadi bener cowok itu ada di sini? Ari yang sekarang duduk di hadapannya ini bukan cuma khayalan?
“Daritadi gue perhatiin sotonya cuma diaduk-aduk. Sayang, kan? Sini, mending buat gue.” Mangkuk soto di hadapan Tari tiba-tiba digeser ke hadapan Ari. Tari melongo ketika cowok itu kemudian melahap sotonya dengan wajah tanpa dosa.
Berbagai macam perasaan membuncah di dada Tari. Tapi yang terasa dominan adalah rasa jengkel. Bisa-bisanya ni cowok main sikat soto gue dengan wajah innocent kayak gitu setelah menghilang tanpa kabar beberapa hari! Tanpa permisi dan minta maaf, lagi! Kurang ajaaar! Cewek itu berdiri sambil mengentakkan kaki kuat-kuat ke lantai, dan tanpa babibu langsung berderap pergi.
“Ck, ngambek, kan,” desah Ari. Ia mendorong mangkuk sotonya menjauh. “Minta ya, Fi.” Tanpa menunggu persetujuan yang punya, ia menyedot setengah dari es jeruk milik Fio. “Thanks, nih buat bayar.” Sambil berdiri, Ari menyerahkan selembar uang berwarna merah, yang diterima Fio dengan ragu-ragu. “Udah, anggep aja traktiran. Gue mau ngomong sama Tari. Ntar kalo dia telat balik kelas, bilang aja lagi di UKS. Oke?”
Fio tak sempat bereaksi saat Ari meninggalkannya begitu saja, mengejar Tari yang sudah lenyap dari kantin. Tatapannya kemudian jatuh ke selembar uang di tangannya.
“Rejeki nomplok!” serunya tertahan. Bibirnya mengembang lebar. Siang bolong, panas-panas, abis bertempur sama Kimia dan Matematika yang bikin otak mau meledak, eh tiba-tiba dapet duit seratus ribu. Buat bayar soto sama es jeruk doang mah masih sisa buanyak. Fio sudah bersiap mengantongi uang tadi saat dilihatnya dua makhluk paling jelek di muka bumi ini. Bukan, bukan tampang mereka yang jelek, secara wajah dan bodinya aja cakep-cakep gitu, satu tingkat di bawah Ari. Tapi niatan kedua makhluk itulah yang tentu nggak ada bagus-bagusnya buat kesehatan jiwa, raga, apalagi dompetnya.
Fio hampir menjerit begitu muka Oji dan Ridho mendadak sudah ada tepat di hadapannya. Cengiran kedua cowok itu seperti senyuman iblis di mata Fio.
“Mau ngapain lagi? Gue nggak ada duit! Pergi! Pergi!” Fio mengibaskan tangannya, berharap setengah mati agar dua makhluk menjengkelkan ini enyah dari hadapannya. Sori sori aja, sampai mati beneran pun Fio nggak bakal rela bagi-bagi duit seratus ribunya buat dua makhluk itu.
“Jangan bohong, Fi. Gue liat kok Ari bagi-bagi rezeki ke elo barusan. Kayaknya lumayan banyak tuh. Boleh dong, lo juga bagi-bagi rezeki ke kami,” sahut Oji.
Fio langsung lemas. Niatnya sih ini uang dari Ari mau dipakainya untuk membeli salah satu kaset drama Korea yang dari kemarin belum kesampaian mau dibawa pulang. Tapi sepertinya harapan itu harus kandas lagi. Eits! Tunggu dulu. Fio tidak akan menyerah begitu saja. “Jangan, plis, Kak,” ujarnya memelas. Tampangnya udah kayak napi mau dihukum mati yang lagi memohon pengampunan. “Gue lagi butuh uang ini. Butuuuh banget. Ada buku pelajaran yang harus gue beli. Itu harus, kudu, dan wajib. Nggak boleh nggak. Ini kata Bu Sam, Kak. Asli, gue nggak ngada-ada.” Padahal sih aslinya ngada-ada banget. Mana pernah guru yang udah kayak papan peraturan berjalan itu ngasih kewajiban membeli buku pelajaran. Bodo amat deh kalo besok-besok ketauan bohong, yang penting duit ini aman sekarang, batinnya.
“Kalian tega liat gue dihukum gantung sama Bu Sam gara-gara nggak punya buku itu? Tega, Kak?! Cuma buat ngeliat kalian kenyang gue harus ngorbanin nyawa gue, gitu hah?! Nggak berperikemanusiaan!” Tiba-tiba saja Fio akting penuh emosi. Pinginnya sih sambil gebrak meja sekalian atau lempar gelas-piring sambil nangis-nangis, tapi takutnya malah dia diseret ke rumah sakit jiwa.
Oji dan Ridho saling tatap dengan kening berkerut. Ini cewek ngibul nggak? Kok sampe histeris gitu? Begitulah kira-kira pertanyaan yang mengambang di benak mereka. Tapi dari tampangnya kok kayaknya beneran. Walau agak berlebihan, sih. Kedua cowok itu akhirnya membatalkan niat mereka. Rada feeling guilty juga kalo liat ekspresinya si Fio yang udah desperate banget.
“Ji, tega bener lo. Tanggung jawab gih,” kata Ridho kemudian. “Sampe mau nangis dia.”
“Ih, tanggung jawab apaan?” Oji langsung belagak bego. “Gue cowok baik-baik, Dho. Nggak mungkin gue ngelakuin hal bejat kayak gitu. Fi, bilang ke Ridho, kita nggak pernah ngapa-ngapain kan ya? Lo nggak hamil sama gue, kan?”
Giliran Fio yang melongo. Ini lagi ngomongin apa, si Oji jawabnya apa. Emang sarap nih antek-anteknya Ari!

***

Cewek itu cuma berjarak 3 meter di depannya. Tapi Ari sengaja tidak menyamakan langkah atau mencekal pergelangan tangan cewek itu. Ia biarkan Tari berjalan ke tempat tujuannya. Cewek itu langsung terbirit-birit setelah menoleh sekilas ke belakang. Ari tersenyum geli.
Sementara itu Tari yang memimpin jalan mulai memutar otak. Di mana tempat yang bisa membuat Ari berhenti mengikutinya? Aha! Toilet cewek! Jangan harap bisa nangkep gue! Tari menyeringai puas. Toilet cewek terdekat tinggal beberapa meter lagi. Langkahnya sudah nyaris berlari menyambut pintu kebebasan.
Ari segera menyadari kemana kaki cewek di depannya ini berlari. Ia mendengus. Ketika Tari sudah hampir memasuki pintu toilet cewek, cowok itu melesat maju. Tubuh Tari serasa dihantam angin dan seketika ambang pintu toilet lenyap dari hadapannya, berganti dengan dada bidang Ari. Cowok itu mencekal kedua pergelangan tangannya erat-erat. Tari mendongak, bersiap menyaksikan wajah Ari yang marah atau geram. Namun yang didapatnya justru senyum menawan di wajah tampan itu, membuat pipinya panas seketika. Ia berusaha memberontak. “Lepasin! Gue mau ke toilet!”
“Ngapain ke toilet? Gue tau lo nggak lagi kebelet,” sahut cowok itu. Tangannya semakin ketat mencekal tangan Tari. Sudut bibirnya berkedut menahan tawa. “Kenapa sih lari-lari? Katanya kangen sama gue?”
“Gue nggak kangen sama elo! Nggak usah kepedean ya jadi orang! Lepasin!” Tapi dalam hati Tari mengakui kalau ia begitu merindukan sosok ini. Wangi maskulinnya membuat cewek itu hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh ke pelukan Ari. Heh, gue mikir apa sih! rutuk cewek itu dalam hati.
“Bener?” Tiba-tiba Ari menariknya mendekat. Tatapannya menajam. “Nggak akan gue lepasin kalo lo nggak ngaku.”
Ancaman Ari membuat Tari berpikir keras. Ogah banget kalo dia harus ngaku. Gengsi dong kalo dia bilang kangen sama cowok muka badak ini. Tapi Tari tau Ari akan merealisasikan ancamannya kalau dirinya keras kepala. Ia tidak akan pernah menang melawan Ari. Gue harus gimanaaaaa?
Tuhan Yang Maha Esa mendengarkan doa Tari, dan menjawabnya sekaligus! Dia yang bertahta atas seluruh kehidupan dan alam semesta menurunkan pertolongan lewat kehadiran guru paling menyebalkan di muka bumi. Mendadak sebuah pukulan keras mendarat di punggung Ari. Cekalan cowok itu terlepas seketika karena kaget.
“Ari!” bentak Bu Sam.
Ari membalikkan badan, menyembunyikan Tari di balik punggungnya. Bibirnya langsung membentuk cengiran lebar. “Eh, Ibu. Apa kabar, Bu?”
“Apa kabar, apa kabar! Dari mana aja kamu? Bolos terus tanpa ijin! Kamu mau dikeluarkan dari sekolah ini?”
“Aduh, Bu. Jangan. Pliiis. Saya udah kelas 12. Udah mau lulus. Lagian saya pinter kok, Bu. Masa Ibu tega ngeluarin anak berprestasi kayak saya? Dan juga, cukup Tari aja deh yang kangen sama saya. Bu Sam nggak usah ikut-ikutan kangen, sampe pingin tau saya dari mana segala.”
Gila emang ini orang! Tari mendelik ke punggung Ari di hadapannya, berharap cowok itu tidak bikin Bu Sam naik darah. Tapi bukan Ari namanya kalau tidak hobi mencari gara-gara.
“Saya bolos buat refreshing, Bu. Anak pinter itu butuh udara segar buat otaknya. Nggak melulu belajar di kelas. Makanya Ibu perhatiin kebutuhan siswa juga, dong! Masa disuruh duduk di kelas terus? Sekali-sekali diajak main, kek. Nggak heran siswa-siswi di sini banyak yang geblek gara-gara nggak pernah refreshing. Apalagi di kelas saya. Ibu tau sendiri lah, anak-anaknya pada gila semua.”
Wajah Bu Sam merah padam mendengar ocehan Ari. Tangannya terulur menjewer telinga anak bandel itu. Tak dilepaskannya meski cowok itu mengaduh-aduh.
“Kamu ikut saya ke ruang guru! Coba bicara seperti itu lagi kalau berani!” Tatapan mematikan Bu Sam jatuh ke Tari. “Kamu, kembali ke kelas, sudah mau bel! Saya sita cowok kamu sampai pulang sekolah nanti.”
Walaupun dipelototi seperti itu, Tari nyaris ngakak mendengar kata-kata Bu Sam. Ari mau disita? Silahkan ajaaaaa. Rasa geli Tari tersalurkan oleh tawa meledak Ari. Meski tubuh cowok itu dalam posisi miring berkat jeweran Bu Sam yang tubuhnya jauh lebih pendek, ia tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa ketawa?!” Bu Sam menarik telinga Ari lebih keras.
“Aduh, aduh, ampun, Bu. Kuping saya bisa copot nanti. Abisnya Ibu lucu, sih. Main sita aja. Emangnya saya barang? Nggak usah rebutan saya gitu lah, Bu. Saya tetep milih Tari, kok.”
“Aaah, diam! Biar Ibu beri pelajaran nanti ya!” Ibu guru yang sudah jengkel setengah mati itu mengacungkan kepalan tinjunya.
“Daaah, Tari! Ntar pulangnya tungguin gue!” teriak Ari yang sudah ditarik menjauh oleh Bu Sam.
Tari menggelengkan kepala tak habis pikir. Mungkin Ari satu-satunya siswa SMA yang masih harus kena jewer dari guru. Tapi di dalam lubuk hatinya, sebenarnya Tari memahami keadaan ini. Ari memang menyukainya. Ari menyukai saat guru-guru memarahinya. Ari menyukai saat guru-guru memperhatikannya lebih dari siswa lain. Ari menyukai saat guru-guru memukul atau menjewer telinganya. Karena memang itu yang ia butuhkan. Perhatian.
Bel masuk berbunyi. Tari buru-buru melangkah ke kelasnya. Terpaksa ia harus menahan lapar untuk dua jam pelajaran lagi.

***

“Tumben nggak nelat?” sambut Fio di kelas. “Padahal gue udah siapin alesan kalo lo telat nanti. Nggak ngobrol sama Kak Ari?”
Tari menggeleng. “Dia keburu kena ciduk Bu Sam.”
Begitu Tari duduk di sebelahnya, Fio menyikut temannya itu dengan jahil. “Gimana? Seneng? Udah nggak galau?”
“Apaan sih, Fi!” Wajah dan kuping Tari langsung memanas. “Biasa aja kali.” Fio jadi ketawa melihat ekspresi Tari yang salah tingkah.
“Eh, Fi. Punya cemilan nggak? Bagi, dong. Gue belom sempet makan tadi.”
“Nih, kebetulan gue beli roti, buat jaga-jaga. Bener kan elo kelaperan.” Fio menyodorkan sebungkus roti pisang cokelat yang ia beli di kantin.
Tari menyambutnya dengan mata berbinar. “Thanks, Fi! Elo emang sahabat paling pengertian. Bagi minum juga, dong.”
Fio pura-pura mendengus malas sambil menyerahkan botol minumnya, padahal dalam hati ia cekakakan. Ya iyalah. Tari cuma dapet sebungkus roti gitu, sementara dia bisa dapet berbungkus-bungkus kaset drama Korea! Terima kasih kembali, Tari.

***

“Aduh, Tar. Mampus gue!” Fio berbisik tegang, membuyarkan konsentrasi Tari yang sedang menyalin catatan di papan tulis.
“Apaan sih, Fi? Sst, lo jangan bikin ribut, deh. Bisa dimarahin Bu Pur ntar.”
“Lo liat deh ke pintu.”
Tari menoleh ke pintu kelas yang terbuka. Bel pulang masih sepuluh menit lagi, tapi dilihatnya Ridho dan Oji sudah berdiri di luar kelasnya. Oji bersandar pada salah satu pilar dan Ridho berdiri menghadapnya, yang itu berarti membelakangi pintu kelas Tari. Keduanya masih asyik mengobrol dengan suara pelan.
“Ngapain sih tu cowok dua ke sini?” gumam Tari heran, sementara Fio mendesis panik, “Jangan-jangan nyariin gue.”
Tari jadi menoleh. “Ngapain nyariin elo?”
Karena gue ketauan boong! “Ceritanya panjang. Tar, lo bisa nggak ngomong ke Kak Ari, suruh cabut mandat yang dia kasih ke Kak Oji sama Kak Ridho? Lama-lama jadi gila gue kalo disamperin mereka terus.”
“Lo cuma disamperin Kak Oji sama Kak Ridho, Fi. Gue malah Kak Ari! Bosnya para biang onar itu.”
“Ya mending disamperin Kak Ari lah, Tar! Kak Ari nggak pernah minta duit ke elo. Yang ada juga elo dikasih ini itu sama dia. Lah kalo gue? Hidup gue berubah sejak Kak Ari ngasih wewenang itu ke Kak Oji sama Kak Ridho. Duit gue abis, Tar.” Fio berkeluh kesah dengan wajah nelangsa. “Pokoknya lo harus tanggung jawab! Salah lo juga ini ngajak-ngajak gue nginep di rumah Nyoman, yang ternyata ngajakin kabur dari Kak Ari. Si Nyoman apalagi! Damai banget tu anak nggak pernah disamperin Kak Ridho sama Kak Oji! Malah mungkin mereka udah lupa sama yang namanya Nyoman.”
“Iya, iyaaa, ntar gue bilang ke Ari. Udah, lo jangan ribut mulu. Dipelototin Bu Pur, tuh,” bisik Tari sambil menunduk pura-pura menulis
Fio buru-buru meneruskan menyalin catatan, meski otaknya sudah tidak bisa konsentrasi dan hatinya ketar-ketir. Apalagi tiba-tiba Oji menoleh ke arahnya. Saat tatapan mereka bertemu, cowok itu tersenyum lebar. Fio bergidik, dan langsung menunduk dalam-dalam.
Untuk sekali dalam seumur hidup, Fio tidak pernah ingin bel pulang berbunyi. Tapi keinginannya jelas tidak terkabulkan mengingat harapan itu berbanding terbalik dengan doa ratusan murid lain di sekolah, yang ingin bel pulang segera berkumandang. Waktu tetap berjalan, dan tiba-tiba saja bel pulang berbunyi.
“Nggak usah takut, Fi,” kata Tari yang menyadari kegelisahan Fio. Matanya menangkap sosok Ari yang kini bergabung bersama Ridho dan Oji di luar kelasnya. “Tuh, udah ada Ari. Ntar biar gue bilang sama dia.”
“Makasih, Tar.” Fio bisa sedikit bernapas lega. Setelah Bu Pur dan teman-teman lain keluar kelas, tiga cowok yang sedari tadi menunggu di luar melangkah masuk menghampiri dua orang cewek yang masih melekat di kursi masing-masing. Tari dan Fio memang sengaja menunggu di kelas. Males kan kalau mereka yang harus nyamperin ketiga cowok yang jelas-jelas punya urusan sama mereka itu? Hanya saja posisi mereka sudah bertukar. Fio yang kini menempel pada kursi di samping jendela, sementara Tari di pinggir.
“Stop!” Tari menghentikan langkah ketiga cowok tadi beberapa meter darinya. Tatapannya lurus ke Ari. “Sebelom kalian bilang apapun yang mau kalian bilang ke kami, sebelom kalian ngelakuin apapun yang mau kalian lakuin ke kami, gue mau minta sesuatu ke Kak Ari.”
Ketiga cowok yang berdiri bingung itu kontan tertawa.
“Kenapa ketawa?” dengus Tari.
“Lo lucu deh ngomongnya. Lo pikir kami mau ngelakuin apa ke kalian, hm?” Ari melangkah mendekat, tidak tahan untuk tidak mengusap kepala gadisnya.
“Iya. Lagian posisinya nggak seimbang gini. Tiga lawan dua. Atau gimana kalau...” Oji pura-pura berpikir. Tatapannya jatuh ke Ridho. “Ah! Lo mending keluar, Dho. Biar pas, Tari sama Ari, gue sama Fio, sementara lo jadi lonely guy di luar. Ato sama Sarah aja sana.”
“Jangan sebut nama cewek itu,” gerutu Ridho. Tawanya mendadak hilang.
“Oke. Apa yang mau lo minta, beib?” Ari duduk di depan Tari, sementara Ridho dan Oji berdiri di belakangnya.
“Pertama, jangan panggil gue “beib”!” kata Tari cemberut.
Ari terkekeh. “Kalo gitu, gimana kalo “Say”?”
“Hih, apalagi ituuuu! Jangan lebay deh, Kak! Gatel kuping gue.”
“Iya, Bos. Aneh tau nggak denger lo panggil-panggil Tari pake sebutan kayak gitu. Kayak lo tuh udah menjelma jadi playboy penakluk hati cewek-cewek seantero jagat.”
“Ck, bilang aja lo sirik, Ji, nggak ada cewek yang bisa lo panggil kayak gitu,” celetuk Ridho.
“Dih, emang lo punya?” Oji langsung melotot ke Ridho di sebelahnya.
“Sori, gue emang nggak punya. Tapi itu karena gue emang belom butuh cewek. Nggak kayak elo yang hopeless nyari cewek.”
“Halah, sama-sama nggak laku dilarang saling menjelek-jelekkan, Dho,” sindir Oji mangkel.
“Kata siapa gue nggak laku? Gue berlutut di depan cewek aja pasti tu cewek klepek-klepek.”
“Kayak siapa contohnya? Sarah?”
“Udah gue bilang, jangan sebut nama dia!”
“Stop, stop! Kok malah kalian yang ribut, sih?” tukas Ari. “Sori, Ji. Tapi gue emang penakluk hati cewek-cewek seantero jagat.”
“Ah, narsis banget lo, Bos! Sok kecakepan!”
“Gue emang cakep. Iya kan, Tar?” kata Ari sambil melemparkan kedipan sebelah mata.
Oji ketawa melihat wajah Tari yang mengernyit. “Lo liat deh ekspresinya Tari. Langsung ilfil dia.”
“Iya, Ri. Tari enek kali liat muka lo,” sambung Ridho.
“Eh, udah satu kubu lagi nih kita, Dho?” Oji nyengir. “Tos dulu, dong! Kita ganyang si Bos yang sok kecakepan ini!” Lalu mereka berdua pun ber-high five.
“Duh, salah nih gue ngajak kalian ke sini,” gerutu Ari.
“Iya, Kak. Akhirnya lo nyadar juga. Bawa sohib-sohib gila lo ke sini tuh nggak akan ada abisnya. Betah aja sih bergaul sama mereka?” Tari menggelengkan kepala sambil berdecak.
“Woi, jangan salah, Tar. Gini-gini di antara kita bertiga sebenernya yang paling gila juga Ari,” kata Ridho. “Cuma kalo di depan lo aja, dia jadi agak-agak jaim.”
“Iya, Tar!” sambut Oji bersemangat. “Nggak mungkin gue panggil dia “Bos” kalo bukan dia yang paling gila.”
“Aaaah, diem lo berdua!” Ari lama-lama jengkel juga.
“Hehe, peace, Bos.” Oji mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Jadi, apa permintaan lo selanjutnya?” Ari baru bertanya lagi ke Tari setelah Ridho dan Oji tutup mulut.
“Lo liat sahabat gue di sebelah gue ini?”
Ari melirik ke arah Fio yang dari tadi diam tak bersuara. “Iya. Trus? Kenapa sama Fio?”
“Suruh sohib-sohib lo ini buat nggak gangguin Fio lagi. Lo tau? Sejak lo ngasih wewenang ke Kak Ridho sama Kak Oji buat ngehukum Fio, mereka gunain wewenang dari lo itu seenak jidat.”
“Seenak jidat gimana?” Kening Ari berkerut. Lalu dia beralih menatap Fio. “Lo diapain sama mereka?” Sedetik, pertanyaan Ari pindah ke Ridho dan Oji tanpa sempat Fio menjawab. “Kalian apain si Fio sampe ketakutan gitu?”
“Si Oji, nih!” Ridho mendorong bahu Oji. Dirinya ogah disalah-salahkan. Sementara yang didorong malah cengengesan.
“Ji, jangan bilang lo...” Ari mendesis tegang, yang terlambat disadari Tari maupun Fio bahwa itu hanya kepura-puraan. “Ji! Lo nggak mungkin segila itu, kan?” teriak Ari tiba-tiba sambil mengguncang bahu Oji. “Lo nggak mungkin setega itu, kan?”
Dan ajaibnya, Ridho dan Oji langsung mengikuti skenario dadakan ciptaan Ari. Ridho langsung menyahut, “Udah gue peringatin berkali-kali, Ri. Tapi dianya aja yang keras kepala.”
“Gue kan cuma bilang kasih dia hukuman ringan aja! Kalo itu mah namanya pelanggaran hak asasi perempuan, Ji. Dia masih di bawah umur! Lo nyadar nggak, sih?”
“Eh, iya! Gue baru sadar!” Oji mendadak melotot ngeri. “Gue kan ingetnya gue yang udah cukup umur, Bos. Suer, gue bener-bener lupa.”
“Emang lo pikir lo ngelakuin itu sendiri? Iyaaa, lo emang udah cukup umur. Lah partner lo? Tanggung jawab kalo gitu!” seru Ridho.
“Ini bukan soal tanggung jawab lagi, Dho.” Ari duduk kembali ke kursi sambil memejamkan mata, seolah dia sudah putus asa. “Gue merasa gagal mendidik dia sebagai tangan kanan gue. Temen kita ini udah melakukan sesuatu yang nggak bermoral. Mari kita hukum dia seberat-beratnya, sesuai apa yang telah dia lakukan.”
“Jangan, Bos. Pliis. Gue masih mau idup, masih mau sekolah. Gue masih sayang sama Bu Sam, kok, meski beliau enek sama gue. Tolong, jangan hukum gue, Bos. Jangaaaan,” Oji berlutut sambil memohon-mohon, nyaris merengek di hadapan Ari.
“Nggak bisa...”
“Fi!” Tiba-tiba saja Oji menatap Fio dengan sungguh-sungguh. “Lo nggak benci sama gue, kan? Kita ngelakuin itu atas dasar suka sama suka, kan? Sekarang lo bilang ke gue, lo maunya gimana? Gue nikahin, ato nunggu lulus SMA dulu?”
Tari dan Fio hampir saja berlari sambil menjerit-jerit histeris melihat kelakuan Ari dan teman-temannya. Entah mereka emang berbakat jadi aktor, atau sebenarnya mereka itu pasien yang baru lepas dari rumah sakit jiwa terdekat.

***

Siang ini berakhir dengan ledekan-ledekan seputar Oji dan Fio. Bahkan Tari pun ikut-ikutan menggoda temannya, menjodoh-jodohkannya dengan tangan kanan Ari yang geblek tingkat dewa itu. Oji sih hepi-hepi aja, tapi Fio langsung keki abis!
“Gimana kalo lo anterin si Fio pulang? Pake motor gue aja. Biar gue sama Tari nebeng Ridho,” kata Ari saat mereka tiba di parkiran.
“Nggak usah!”
“Oke!”
Fio dan Oji adu melotot setelah meneriakkan dua jawaban bertolak belakang itu.
Ari tertawa. “Nih,” katanya sambil menyodorkan kunci. “Tapi inget, langsung dianterin pulang. Jangan mampir kemana-mana. Sampe rumah masih dalam keadaan utuh. Jangan diapa-apain. Oke?”
“Siap, Bos!” Oji menerima kunci motor Ari dengan hormat. “Yuk, Fi.”
“Ogah!” Fio langsung balik badan. “Gue mau pulang sendiri! Dah, Tar!”
“Ck, urusan lo tuh, Ji,” kata Ridho.
“Urusan gue?” Oji malah menunjuk dadanya sendiri dengan bingung.
“Kejar dia, oon! Keburu jauh, trus ngambek.” Ridho menunjuk menggunakan dagunya ke arah Fio yang sudah kabur.
“Eh iya, iya. Fi! Jangan ngambek, dong! Hei, Fio!” Oji langsung tunggang langgang mengejar Fio.
Ari, Tari, dan Ridho tersenyum geli. “Duluan aja, Dho,” kata Ari. “Gue masih punya urusan sama Tari.”
“Oke. See ya!” Tanpa bertanya-tanya lebih lanjut, Ridho melangkah ke mobilnya. Karena ia sudah tau sejak awal gelagat Ari. Setelah tak ada lagi orang di sekitar mereka, Ari menggandeng tangan Tari keluar sekolah.
“Mau kemana, Kak?”
“Jalan-jalan,” sahut Ari santai.
“Jalan-jalan kemana siang-siang gini? Masih pake seragam pula.”
“Sebenernya gue punya kejutan buat lo. Tapi sayang, kejutannya belom sampe di sini sekarang. Jadi kita jalan-jalan aja.” Ari sengaja tidak akan memberi tahu Tari tentang kepindahan Ata dan Mama ke Jakarta, juga status Ata yang sudah terdaftar sebagai murid baru di sini. Ia akan menjadikannya kejutan. “Lo tau di mana toko yang jual mesin jahit nggak?”
“Ng... tau sih, Kak. Soalnya dulu suka diminta nganterin Mama bolak-balik ke toko pas mau beli.”
“Bagus. Kita ke sana.”
“Mau ngapain, Kak?”
“Beli mesin jahit, lah.”
“Buat apa beli mesin jahit? Lo nggak ikutan kursus menjahit, kan? Soalnya mahal kalo ikutan kursus. Mending belajar ke Mama aja kalo lo emang minat jadi penjahit. Gratis, deh. Pasti langsung bisa.”
Ari jadi ketawa. “Nggak, lah. Lo mau gue kerja jadi penjahit pas kita nikah besok?”
Tari kontan menggeleng. “Siapa juga yang mau nikah sama elo?” gerutunya.
“Elo, kan?” Ari menyeringai jahil. “Yuk, ah.”
“Ng.. Kak, tapi...”
“Kenapa?” Ari menghentikan langkahnya.
“Itu... eh, gue laper, Kak. Tadi belom sempet makan.”

Ari tersenyum lebar melihat Tari yang menunduk. Digenggamnya semakin erat tangan cewek itu. “Bilang dong dari tadi. Yuk, makan!”




Bersambung...