Selasa, 14 Oktober 2014

Jingga untuk Matahari #fanfiction-5

Saat melihat mamanya, tak urung rasa bersalah berkelebat di hati Tari gara-gara membolos sekolah hari ini. Apalagi mamanya tidak marah dan menyambut Ari dengan senang hati, bahkan mengajaknya makan malam bersama. Ari menolaknya dengan sopan, lalu berpamitan.
“Selamat malem, Tante. Malem, Tar.”
Tari balas tersenyum. Begitu Ari berlalu dengan Alphard-nya, ia bergegas masuk ke kamar.
“Tari, ada kiriman buat kamu tadi siang,” kata Mama tepat sebelum Tari membuka pintu kamar.
“Kiriman apa?”
“Liat sendiri di meja belajar kamu. Mandi sana. Trus makan.”
Buket bunga. Besar. Berisi rangkaian mawar merah. Sesuatu yang langsung menarik perhatian Tari karena keberadaan buket bunga itu terlalu mencolok di dalam kamarnya yang didominasi warna oranye.
“Dari siapa, Ma?” teriak Tari. Kaget.
“Nggak tau. Belum Mama buka kertasnya,” sahut Mama dari ruang keluarga.
Kakinya melangkah cepat menghampiri buket bunga tadi. Memang ada sepucuk surat kecil terselip di dalamnya.

Gimana? Asyik jalan-jalannya sama Ari?

Tari tercekat. “Ini...” Tidak mungkin! Kepanikan seketika menghantam pikirannya. Pengirim bunga ini tahu dia membolos sekolah. Tahu dia sedang berjalan-jalan bersama Ari. Siapa? Siapa yang mengirim buket bunga ini? Tari bersyukur Mama belum membaca surat yang terselip tadi. Tari tahu Mama cukup menjaga privasinya.
Tangannya bergetar mencabut setangkai mawar merah. Tiba-tiba saja otaknya memunculkan dua nama yang kemungkinan besar menjadi si pengirim. Angga, atau Ata. Entah apa alasannya, Tari yakin itu adalah salah satu dari mereka. Satu-satunya hal yang ia tahu pasti adalah buket bunga ini mempunyai satu isyarat. Peringatan.
Melewati sisa malam ini dengan menatap buket bunga tadi membawakan mimpi buruk untuk Tari. Pagi harinya saat mendapati sekeliling matanya hitam dan berkantung, ia menyesali kebodohannya tidak membuang buket bunga misterius itu sejak awal.
“Bakal bilang apa ke Ari?” desahnya bingung, sementara sudah tak ada waktu yang tersisa untuk mengompres matanya.
Ari menjemputnya menggunakan motor hitamnya yang biasa, beberapa menit setelah Tari menunggu dengan gelisah. Ia bahkan tak mampu menghabiskan sarapannya.
“Ma, Tari berangkat dulu. Udah dijemput. Oh ya, jangan lupa buang buket bunga di meja belajar Tari ya, Ma. Buang yang jauh! Ato bakar aja sekalian!”
“Iya. Ati-ati, Tar,” sahut Mama yang sedang sibuk mencuci piring di dapur.
“Pagi, Tar,” sapa Ari, yang kelihatannya suasana hatinya sedang bagus hari ini, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan suasana hati Tari.
Terlambat. Sebelum Tari menyembunyikan wajahnya yang kacau, Ari menangkupkan tangannya di kedua pipinya. “Lo kenapa? Mata lo...”
“Nggak pa-pa. Cuma kurang tidur.” Dengan lembut, Tari melepaskan tangan Ari dari pipinya.
“Kecapekan gara-gara gue ajakin main kemaren?”
Tari tertawa. Digandenganya tangan Ari ke motor untuk menghindari tatapan cowok itu. “Nggak, lah. Cuma dapet mimpi buruk semalem, jadi nggak bisa tidur. Udah yuk, berangkat.”
Tanpa berkata-kata lagi, Ari naik ke motornya, disusul Tari. Sebisa mungkin Tari tidak menunjukkan kegelisahannya di hadapan Ari.
Tapi itu terjadi lagi. Selesai pelajaran olahraga, Tari menemukan sesuatu yang tak biasa. Setangkai mawar merah tanpa identitas tergeletak di mejanya. Membuat hatinya kacau balau seketika.
“Dari siapa, Tar?” seru teman-temannya ingin tahu.
Tari menggeleng. “Palingan dari Ari,” katanya tidak yakin. Dibiarkannya teman-temannya bercia-cie menggoda dan berkata sesuka hati.
“Ucapan lekas sembuh dari Ari. Kemaren kan Tari sakit, nggak masuk sekolah,” kata Fio kepada teman-temannya, sekaligus melemparkan sindiran untuk sahabatnya itu.
Tari tersenyum kecut. “Thanks, Fi.” Karena masih ada lima belas menit tersisa sebelum jam olahraga habis, ia menyeret Fio ke gudang tempat persembunyiannya, masih sambil membawa mawar tadi.
“Ada apa?” tanya Fio. Otaknya yang jeli langsung bisa menangkap adanya sesuatu yang tidak beres.
Tari jatuh merosot dengan bersandar pada dinding. Tubuhnya lemas. “Kira-kira, siapa yang tadi masuk ke kelas kita, trus ngasih mawar ini ke meja gue?”
“Kak Ari, kan? Lo bilang sendiri tadi.”
Tari menggeleng. “Ini bukan dari Ari.”
“Apa?”
“Mawar ini bukan dari Ari,” ulang Tari.
“Trus, dari siapa?”
Tari menggeleng lagi. “Mana gue tahu,” erangnya bingung.
“Lo tanya Kak Ari dulu gih. Siapa tahu emang dari dia.”
“Gue takut, Fi. Gue takut dia bakalan berpikiran yang macem-macem kalo gue bilang gue dapet kiriman mawar. Kemaren juga gitu. Gue dapet buket bunga, nggak tau dari siapa. Yang jelas, tu orang tau kalo gue lagi bolos bareng Ari. Gimana gue nggak panik, coba? Itu artinya kemaren ada yang liat gue bolos.”
“Ya makanya lo tanya Kak Ari,” kata Fio gemas. “Gimana kalo emang dari dia?”
“Nggak, ah. Gue yakin bukan dari Ari. Dan, gue ngerasa ada keterlibatan Angga di sini.”
Kening Fio kontan berkerut mendengar nama itu. “Angga?”
Tari menceritakan kedatangan Angga kemarin ke rumahnya. Sampai tiba-tiba matanya melebar dan mulutnya berhenti bicara. “Oh!” teriaknya, seolah baru menyadari sesuatu. “Mawar-mawar ini pasti dari Angga! Iya! Pasti! Pasti tadi Gita yang masuk ke kelas kita dan naruh mawar ini ke meja gue.”
“Tapi Gita kan juga lagi pelajaran.”
“Ijin ke toilet, dong.”
“Bawa-bawa mawar?” debat Fio lagi.
“Bisa aja ni mawar dititipin Angga di pos satpam, trus tadi diambil Gita. Iya, kan?”
Kemungkinan itu muncul begitu saja. Memang terdengar masuk akal. “Iya, sih.” Fio mengakui argumen Tari ada benarnya. “Trus, mawar ini mau lo apain?”
“Enaknya diapain? Dibuang?”
“Iya, lah. Kalo Kak Ari sampe liat, bisa ngamuk dia. Lebih baik lo buang.”
Itu benar dan harus segera dilakukannya. Tapi begitu yakin mawar ini dari Angga, kenapa hati Tari menyangkal keharusan itu? Kenapa ia merasa sayang untuk membuang mawar di tangannya ini? Ya. Tidak akan dibuangnya secara utuh. Satu persatu, ia mencabut kelopak mawar sampai habis, kemudian memungutinya lagi. “Yuk, balik,” ajaknya. Sampai di dekat tong sampah, ia membuang kelopak dan tangkai mawar tadi. Namun tanpa sepengetahuan Fio, Tari menyisakan satu kelopak di genggamannya, berharap bisa menyimpannya.
Begitu hampir tiba di pintu kelas, tubuh Tari menegang mendapati siapa yang tengah menunggunya di sana. Ari.

***

Berbeda dengan apa yang ditampakkannya di depan Tari, suasana hati Ari sebenarnya tidak begitu baik pagi ini. Ayahnya masih di rumah sampai sekarang, dan Ari selalu berusaha menghindarinya. Atmosfer rumah mereka terasa ganjil. Ada semacam ketegangan yang menggantung di udara, membuat Ari tambah tidak betah di rumah. Sebisa mungkin dia bertahan dengan menjaga untuk tidak bertatap muka langsung dengan ayahnya, tapi tetap berusaha terlihat. Ia tidak mau ayahnya mendadak memblokir semua ATM dan haknya untuk keluar rumah. Karena bisa dipastikan ayahnya akan langsung menuduh dirinya pergi bertemu dengan Mama dan Ata kalau sampai dia menghilang tiba-tiba.
“Pagi, Bos,” sapa Oji saat Ari meletakkan tas di meja.
Ari meliriknya sedikit, kemudian duduk di sebelah sohibnya itu. Tangan kanannya bergerak membuka kancing teratas kemejanya dengan resah.
“Kemaren cabut ke mana?” tanya Ridho yang tiba-tiba sudah menghampiri meja mereka.
“Jalan-jalan sama Tari,” sahut Ari acuh tak acuh.
“Tari ikutan bolos?” seru Oji, kemudian mendecakkan lidah beberapa kali. Takjub. “Wah, hebat, hebat. Lain kali ajak gue juga, Bos.”
“Lo bener-bener nularin pengaruh buruk buat tu cewek, Ri,” ucap Ridho yang otaknya masih bisa berpikir waras.
Ari tertawa mendengus. “Dia nggak keberatan, kok,” kilahnya sambil mengibaskan tangan, lalu bangkit berdiri.
“Mau kemana?” tanya kedua sahabatnya serentak.
“Keluar. Gue masih belom punya mood buat pelajaran. Ikut?”
Oji dan Ridho menggeleng. Bukannya mereka nggak minat ikutan cabut, tapi ada tugas mahapenting yang harus mereka laksanakan di jam pertama ini. Merayu guru kesenian dan bersikap baik agar nilai kesenian mereka terjamin baik, setelah beberapa waktu yang lalu nilai mapel yang satu itu membuat rata-rata mereka anjlok.
Ari sendiri tak pernah ambil pusing dengan nilai-nilainya. Karena kedua temannya menolak ikut, ia berjalan sendirian menuruni gedung kelas dua belas, melangkah ke arah tepi lapangan, mengambil tempat tersembunyi di sana untuk menyulut sebatang rokok. Tapi niatnya langsung goyah ketika melihat Tari berjalan masuk ke lapangan. Ternyata pagi ini cewek itu ada pelajaran olahraga. Ari mendesah. Dimasukkannya kembali batang rokok yang belum sempat tersulut api ke saku kemeja.
Bel masuk berbunyi. Kelas Tari mulai membentuk barisan, dan sepasang mata Ari tak pernah lepas dari sosok gadis yang selalu bernuansa oranye itu, yang selalu terlihat mencolok di antara teman-temannya.
Tak terhitung sudah berapa kali gadis itu ia lukai. Dalam kali yang tak terbilang ia menjadi alasan gadis itu menangis dan sakit hati. Namun sampai sekarang gadis itu masih bisa tersenyum dan tertawa kepadanya, bahkan bersedia menjadi satu-satunya orang yang berada di sampingnya di saat ia membutuhkan sandaran.
Ari bangkit berdiri, berniat untuk berpindah tempat setelah sekali lagi memperhatikan Tari yang tengah melakukan pemanasan, memastikan gadis itu baik-baik saja dan akan selalu ada untuknya. Ia berjalan pelan, menelusuri koridor yang sepi dan menyapa guru-guru yang berpapasan dengannya. Daripada capek-capek mengurusi siswa yang satu itu dan membuat mood rusak di pagi hari di mana mereka masih harus bekerja beberapa jam ke depan, yang hasilnya pasti sia-sia saja, para guru memilih diam. Tidak akan mengomel apalagi membalas salam Ari. Mereka angkat tangan.
Ari baru saja meringis lebar ke Pak Yusuf ketika matanya menangkap sebuah motor yang berhenti di dekat pos satpam. Sekilas, Ari mengenali motor itu. Ia memicingkan mata untuk mempertajam pandangan. Pengendara motor tadi turun, dan mengeluarkan sesuatu yang tak ia duga. Setangkai bunga mawar. Merah dan segar. Tak berhasil mengenali si pengendara motor, Ari memilih untuk terus memperhatikan. Dan kekagetan seketika menghantamnya begitu si pengendara menaikkan kaca helm. Angga. Cowok itu menyerahkan bunga mawar tadi kepada satpam yang berjaga di sana dan berbicara beberapa saat. Pak Satpam terlihat mengangguk-angguk mengerti.
Ketika Angga menoleh ke dalam sekolah. Ke arahnya. Ketika kedua pasang mata mereka bertemu. Dalam ketersimaan yang bertahan sekejab, Ari menangkap sinar dendam itu masih menyorot di sana. Sekarang ditambah dengan senyum mengejek.
“Brengsek!” umpat Ari begitu tersadar, dan langsung berlari ke motornya. Dalam waktu yang harus dihabiskan Ari mulai dari berlari ke motor dan mengeluarkannya dari lapangan parkir, Angga telah menghilang dari tempatnya tadi.
“Buka gerbangnya! Cepetan!” teriak Ari kepada Pak Satpam yang tengah meletakkan mawar titipan Angga ke dalam pos. Untuk sesaat, satpam itu bingung, apakah dia harus membukakan gerbang, atau lebih baik menelepon kepala sekolah dan menahan Ari sampai kepala sekolah mereka menjemputnya? Sampai Ari tiba-tiba membunyikan klakson motornya panjang-panjang, kehabisan kesabaran. Akhirnya pintu gerbang dibukakan. Motor hitam besar itu langsung melesat kencang meninggalkan sekolah, berusaha mengejar Angga yang sudah hilang tak meninggalkan jejak. Di kepala Ari hanya ada satu tujuan saat ini. SMA Brawijaya.
Sekolah musuh itu sudah sepi karena pelajaran tengah berlangsung. Ari menghentikan motor di dekat pos satpam penjaga gerbang utama.
“Mas! Liat Angga?” bentaknya kepada mas-mas sekuriti yang berjaga di sana.
“Anggada?” tanya salah satu satpam, yang jelas-jelas mengenal Angga karena cowok itu pentolan sekolah di sini. Sama seperti Ari yang begitu terkenal di sekolahnya, hingga seluruh pedagang kantin sampai tukang kebun pun mengenal nama dan segala tindak-tanduknya. Dan satpam di sini juga mengenal Ari sebagai musuh utama dari pentolan sekolah mereka, yang tidak jarang datang kemari untuk melakukan perhitungan.
“Iya! Di mana dia?” bentak Ari lagi.
“Saya belum lihat dia lewat sejak pagi tadi. Mungkin nggak masuk. Mas ada perlu apa?”
Jadi Angga tidak ke sini. Ari mengumpat-ngumpat dalam hati. Sialan! Kemana tu anak? Sementara otaknya tidak bisa menebak kemana Angga pergi.
“Tolong Mas bilangin ke dia, kalo ada urusan di sekolah gue, langsung ketemu sama gue! Nggak usah nitip-nitip satpam di sana. Ngerti?”
Semua kontan mengangguk-angguk melihat wajah angker Ari. Ari membawa motornya dan bersembunyi di tempat yang tak terlihat dari jalan masuk SMA Brawijaya, menunggu Angga datang dan memastikan cowok itu tidak kabur. Tapi hingga bermenit-menit ia duduk di atas motor di tempat persembunyiannya, Angga tidak muncul. Kembali Ari mengumpat dalam hati, kemudian memutuskan pergi dari sana. Ia rasa percuma menunggu Angga. Kemungkinan besar rivalnya itu telah mengetahui dia akan datang ke sini, lalu sengaja membuatnya kesal dan kelabakan dengan tidak menampakkan diri.
“Pengecut!” desis Ari ke arah bangunan sekolah tak jauh di depannya sebelum meluncur pergi. Saat tiba kembali di SMA Airlangga, mawar di dalam pos satpam sudah raib.
“Mas, kemana mawar yang tadi?”
Satpam di sana menggeleng. “Udah diambil kayaknya. Tadi baru saya tinggal ke kelas XI IPA 6, pas balik ke sini udah nggak ada.”
Ari memarkirkan motor. Siapapun itu yang mengambilnya, ia yakin untuk siapa mawar tadi ditujukan. Dengan langkah cepat, nyaris dikategorikan berlari, Ari menghampiri kelas X-9. Siswa-siswi yang sedang berleha-leha sehabis olahraga langsung duduk tegak begitu Ari masuk ke kelas mereka. Sepasang matanya yang tajam memindai ke penjuru kelas, tapi tak berhasil menemukan orang yang ia cari.
“Mana Tari?” tanyanya tidak sabar.
Semua kontan menggeleng-geleng. “Tadi keluar sama Fio, Kak,” jawab Jimmy pelan.
Ari baru melangkah keluar ketika dilihatnya Tari dan Fio berjalan ke arahnya. Sesaat, ia melihat Tari menghentikan langkah dan menatapnya kaget.
“Ehm, Tar, gue masuk kelas dulu ya,” bisik Fio saat Ari melangkah menghampiri mereka.
Ari menunggu sampai Fio masuk ke kelas, kemudian kembali menatap Tari penuh selidik. “Lo dapet mawar?” tanyanya langsung, seperti biasa, tidak butuh basa-basi.
Mau tak mau Tari mengangguk. “Merah? Iya.”
“Dari siapa?”
“Gue nggak tahu. Tadi pas balik ke kelas selesai olahraga tu mawar ada di meja gue. Gue pikir dari elo,” kilah Tari, dalam hati bersyukur dia telah membuang mawar tadi dan menyimpan kelopak terakhirnya di kantong celana.
“Bukan,” jawab Ari serius, dan tanpa sadar suaranya jadi lirih. “Itu dari Angga.”
Tari tersentak. Ia tahu hal ini. Tapi bagaimana Ari juga tahu mawar tadi dari Angga?
“Di mana mawar itu sekarang?”
“Eh, itu, ng... udah gue buang barusan.”
“Bagus.” Ari mengangguk-angguk, tampak terkesan dengan keputusan Tari untuk membuang mawar pemberian Angga tanpa disuruh.
“Ehm, Kak?” panggil Tari, menghentikan langkah pertama Ari yang sudah akan meninggalkannya.
Ari berhenti dan menoleh lagi. Alisnya terangkat, menunggu pertanyaan Tari.
“Lo tau dari mana itu mawar dari Angga?”
“Tadi Angga ke sini. Tapi nggak berhasil gue kejar.” Ari mengangkat bahu sedikit.
Ari liat Angga ke sini? Tari mulai mencium adanya bahaya.
“Tar, lo harus ati-ati,” kata Ari lagi, memperjelas bunyi alarm dalam kepala Tari.
“Gue akan ati-ati,” angguk gadis itu.

***

Jam istirahat pertama, Tari berjalan terburu-buru ke kelas Gita. Dia ingin memastikan dan memperingatkan cewek itu untuk tidak lagi ikut campur dalam hubungannya dengan Ari dan Angga. Tari tidak ingin Gita masuk ke dalam bahaya. Langkah cepat Tari terhenti beberapa meter dari pintu kelas Gita saat melihat siapa yang baru saja keluar dari sana. Ari juga balas melihatnya. Cowok itu kemudian melangkah mendekat sambil menggeleng.
“Gue udah nanya barusan. Gita nggak masuk.”
“Nggak masuk?” Tari tercengang. “Trus siapa yang ngasih mawar itu ke meja gue? Pak Satpam?”
“Sekuriti itu tadi lagi pergi pas mawarnya diambil. Lagian dia nggak mungkin tau meja lo yang mana, kan?”
Keduanya terdiam. Tanya yang sama tercipta dalam benak mereka. Kalau bukan Gita yang mengambil mawar dari pos satpam dan meletakkannya di meja Tari, lalu siapa?
“Ada orang di sekolah ini yang berani bantu si Angga. Awas aja tu orang kalo sampe ketangkep,” geram Ari.
“Kak,” panggil Tari, terdengar ragu setelah beberapa saat terdiam. “Bisa nggak, kali ini lo nggak libatin Gita?” tanyanya kemudian.
“Apa?” Ari menyipitkan mata, seolah tak mempercayai pendengarannya.
Tari buru-buru meneruskan kalimatnya sebelum keberaniannya menguap habis. “Jangan lo libatin Gita lagi. Lo tau mawar ini dari Angga. Buat gue. Dan lo tau bukan Gita yang bantuin Angga tadi, tapi orang lain. Jadi jangan bawa-bawa Gita dalam masalah kita. Dia nggak salah apa-apa.”
Masih sambil menyipitkan mata, Ari menyahut dengan suara mendesis berbahaya yang membuat Tari menelan ludah, “Pertama, gue tau bukan Gita yang bantuin Angga kali ini. Kedua, lo bilang Gita nggak salah apa-apa? Kalo lo mau tau, kesalahan terbesar Gita adalah sekolah di sini. Satu gedung sama gue. Dia ada di bawah teritori gue.”
“Tapi...”
“Oke, oke,” sela Ari sebelum Tari sempat memprotes. “Gue nggak akan libatin Gita, asal lo janji satu hal sama gue.”
“Apa?”
“Jangan terlibat sama Angga lagi.”
Keputusan telah dijatuhkan. Dan apapun itu akan menjadi tak terbantahkan kalau yang menjatuhkan adalah Ari. Tapi Tari tidak bisa mengangguk begitu saja. Kelopak mawar yang sekarang tersimpan manis dan rapat di dalam tas menjadi bukti kalau dirinya masih terlibat dengan Angga.
“Oke?” desak Ari, meminta persetujuan.
Tapi ini demi Gita. Perasaan bersalah selalu mengganggu Tari setiap kali ia menatap Gita. Gadis itu berada dalam zona tidak aman di sekolah ini, karena selalu menjadi incaran Ari, menjadi tawanan yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan. Tidak mungkin Tari membiarkannya hidup dalam gelisah selama Ari masih ada di sekolah ini.
“Tar?”
“Oke,” jawab Tari akhirnya, berusaha tidak terdengar keberatan. “Gue setuju.”

***

Sementara itu di waktu yang sama namun latar tempat yang berbeda, motor Angga memasuki halaman parkir SMA Brawijaya. Cowok itu melepas helm dan segera mengeluarkan ponsel.
“Halo?”
“Gimana? Udah baikan?” tanya Angga lembut.
Di seberang sana, dengan posisi terlentang lemah di tempat tidur dan tertutup selimut tebal, Gita meraba keningnya sesaat, kemudian menekannya kuat-kuat, berusaha meredakan sakit di kepalanya. “Belom,” jawabnya singkat.
“Udah ke dokter? Kalo belom gue bisa anter lo sekarang.”
“Udah, barusan dianterin Mamah.”
“Minum obatnya kalo gitu. Istirahat yang cukup.”
“Iya, iya. Lo nggak mau jenguk gue siang ini?”
Angga berpikir sesaat. “Kayaknya gue nggak bisa ntar siang. Ada urusan. Mungkin malem gue ke rumah elo.”
“Ooh, iya deh. Udah sono, belajar dulu. Eh, lagi jam istirahat ya sekarang? Jajan dulu, deh.”
Angga tertawa kecil. “Oke. Bye.”

Gita sakit. Suatu keberuntungan tersendiri untuk Angga hari ini. Rencana pertamanya berhasil. Bahkan lebih dari yang ia duga. Saat menitipkan mawar di pos satpam SMA Airlangga tadi pagi, tak ia sangka Ari melihatnya. Bisa dipastikan rivalnya itu akan langsung memburunya, tapi dengan mudah ia meloloskan diri. Kalau saja Gita masuk sekolah, sasaran Ari pasti akan langsung berpindah ke cewek itu. Berhubung tidak mempunyai tawanan hari ini, Angga tidak bisa membayangkan akan seperti apa wajah Ari. Diam-diam ia tersenyum geli. Sekarang tinggal menyiapkan rencana untuk siang nanti. Ia berharap semoga keberuntungan selalu berpihak kepadanya.




Bersambung...

Kamis, 09 Oktober 2014

Jingga untuk Matahari #fanfiction-4

Nyawanya masih berada di perbatasan alam mimpi dan alam nyata ketika ponsel di samping bantalnya bergetar. Dengan mata setengah tertutup, Tari meraba-raba dan meraih ponsel itu.

Ntar bw baju ganti

Hah? Apaan, sih? Tari memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali lebar-lebar, berusaha memfokuskan pandangannya. Ternyata SMS dari Ari. Bawa baju ganti? Buat apa? Ia menjatuhkan kepala lagi di bantal sambil mengetik balasan.

Bwt apa?

Bukan jawaban atas pertanyaannya barusan yang ia dapatkan kemudian, tapi malah perintah dari Ari yang selalu tak terbantahkan.

Siap2
Bntar lg gw brgkt

Tari mengerang. Dengan malas, disibakkannya selimut dari kakinya yang melindunginya dari hawa dingin semalaman. Masih pukul setengah lima pagi. Terhuyung-terhuyung Tari berjalan ke kamar mandi.
“Dingiiiiiin!” pekiknya begitu menyentuh air dari bak mandi yang terasa sedingin es. Selesai mandi, dengan gigi bergemeletuk hebat, Tari berlari ke kamarnya. Tanpa peduli dirinya hanya mengenakan mantel handuk, ia meringkuk di balik selimut yang tebal, menutup tubuhnya rapat-rapat.
“Hiiih, dingin banget. Mau apa sih Ari berangkat pagi-pagi gini?” omelnya. Selama beberapa saat, dibiarkannya hangat selimut melingkupi tubuhnya. Rasanya nyaman. Matanya jadi berat. Tari hampir saja jatuh tertidur lagi kalau ponselnya tidak bergetar.

Otw

Mau tak mau Tari bangkit dan secepat kilat berpakaian. Teringat oleh pesan Ari, ia mengambil baju ganti dan memasukkannya ke dalam tas sekolah bersama dengan buku-buku pelajaran yang telah ia siapkan semalam. Ari tiba beberapa menit lebih cepat dari perkiraannya. Anehnya, cowok itu masih menggunakan mobil Alphard-nya kemarin, bukan motor hitam besar seperti biasa.
“Masih pagi banget,” protes Tari begitu menemui Ari di depan, tapi protesannya tidak berlanjut. Lagi-lagi Tari menemukan keanehan. Wajah dan penampilan Ari tampak kacau. Rambut agak acak-acakan, air muka keruh, dan seragam sekolah yang slebor – keluar dari pinggang celana dan dua kancing teratasnya terbuka, penampilan yang jarang ditunjukkan Ari di depan mamanya.
“Udah siap?”
“Gue belom sarapan.”
“Sarapan dulu kalo gitu. Gue tunggu.”
“Belom laper. Ntar bisa makan di sekolah.”
“Oke. Ntar gue traktir. Mana nyokap lo?”
“Masih sibuk di dapur. Udah gue pamitin. Langsung berangkat aja.” Tari juga tidak mau mamanya terkejut melihat penampilan Ari pagi ini.
“Yuk.” Ari meraih tangan Tari, menggandengnya ke mobil.
“Kenapa kita harus berangkat pagi-pagi gini, sih? Kenapa lo bawa mobil? Dan kenapa juga gue harus bawa baju ganti?”
Ari membukakan pintu penumpang depan dan mendorong lembut tubuh Tari tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan gadis itu. Segera setelah duduk di belakang kemudi, Ari menghidupkan mesin. Sejuknya AC membuat mata Tari kembali berat. Ia menyandarkan punggung dan kepala di sandaran jok. Kenyamanan membuat kantuk kembali menyergap, semakin sulit ditolak.
“Kenapa?” Ari menoleh sekilas.
“Ngantuk. Capek,” jawab Tari lemas, masih berusaha keras untuk tidak menutup matanya.
“Tidur aja kalo gitu.”
Tari tertawa kecil. Dipukulnya pelan lengan Ari. “Bercanda. Nggak mungkin gue tidur dengan elo di samping gue gini.”
Ari mencondongkan tubuhnya ke arah Tari. “Lo nggak percaya sama gue?”
Tari balas mendekatkan wajahnya. “Nggak sama sekali.”
“Lo harus percaya!”
“Kenapa gue harus percaya?”
Ari juga semakin mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. “Percaya sama gue, oke?” desisnya.
Tari memutar bola mata kesal, kemudian menjauhkan wajahnya, kembali bersandar pada jok sambil mengerjap-ngerjapkan mata, berharap dengan begitu ia bisa mengenyahkan rasa kantuk. “Nggak jadi ngantuk deh gue.”
Ari menatapnya sebentar. “Jalan yuk?”
“Kemana?”
“Kemana aja.”
“Ngaco lo. Kita kan harus sekolah.”
Ari mengangkat bahu tak peduli. “Bukan suatu keharusan, kok. Bolos sehari juga nggak bakal ngaruh apa-apa.”
Tari ternganga. Diajak bolos seharian? Gila apa? Bisa-bisa dia dihukum seumur hidup. Seakan bisa membaca pikiran gadis itu, Ari menggerakkan mobil tepat sebelum Tari membuka pintu di sampingnya.
“Ari!” teriak Tari emosi, sampai lupa memanggil cowok itu dengan embel-embel “Kak”. “Berhenti! Gue mau turun! Lo kalo mau bolos, bolos aja sendiri. Jangan ngajak-ajak gue!”
Ari menggeram. Ketenangan cowok itu runtuh. Hawa kemarahan yang melingkupi aura tubuhnya bahkan bisa Tari rasakan dengan jelas meski tempat duduk mereka tidak terlalu dekat. Matanya memicing menatap jalanan dan rahangnya mengeras. Bukannya berhenti seperti perintah Tari, ia malah menambah kecepatan mobil.
“Ari...”
“Bokap tadi pulang.”
Kalimat singkat itu cukup ampuh untuk membungkam protes Tari. Seketika ia mendapat jawaban atas keanehan Ari pagi ini. Ayah Ari pulang. Dan pasti sesuatu telah terjadi. Tari yakin kondisi hati Ari sedang buruk pagi ini, jadi mau tak mau ia harus mengikuti cowok itu kalau pingin pulang dengan selamat.
“Trus?” tanya Tari hati-hati. Untuk sesaat, karena tak ada jawaban, Tari mengeluarkan ponsel dan segera menelepon Fio.
“Ya, Tar?”
Tari menarik napas panjang sebelum menjawab, “Gue nggak masuk hari ini. Tolong ijinin dulu. Ntar suratnya nyusul.”
Di seberang, kening Fio berkerut heran. “Nggak masuk kenapa?”
“Jangan bawel, deh. Pokoknya ijinin dulu, oke?”
Fio menghela napas. Apapun itu, ia tahu pasti ada hubungannya dengan Ari. Bisa jadi Tari malah sudah bersama Ari pagi-pagi begini. Dan dugaannya memang tidak meleset. “Iya, deh. Enaknya bilang lo sakit apa?”
“Apa kek, terserah. Flu, demam, yang penting jangan diare aja.”
“Oke. Ati-ati ya, Tar.”
“Iya, iya. Thanks, Fi.” Tari menoleh ke Ari setelah menutup telepon. “Udah. Gue udah bebas. Jadi, kita mau kemana?”
Ari menghentikan mobil di salah satu ruas jalan yang sepi, kemudian melepas kancing kemejanya satu persatu. “Ganti baju dulu,” perintahnya. “Bolos sekolah pake seragam bisa gawat urusannya.”
“Ganti baju di mana?” Tari celingukan ke luar jendela mobil, mencari tempat tertutup yang kira-kira bisa digunakannya. Tidak ada. Sekeliling mereka hanya ada taman terbuka dan pepohonan.
“Di sini,” jawab Ari yang telah mengganti kemejanya dengan kaus serta merangkapnya dengan jaket putih.
Tari menoleh tersentak. “Di sini? Di deket lo? Eh, gila. Jangan harap gue mau.”
“Pindah ke jok belakang. Kaca jendela mobil ini gelap, nggak akan keliatan orang-orang dari luar. Ganti di sana.”
“Lo juga harus keluar kalo gitu.”
“Gue nggak akan ngintip.”
“Nggak percaya!” tukas Tari. “Ada spion gitu. Lo ngelirik dikit aja pasti keliatan, kan?”
Ari berdecak tidak sabar. Dengan terpaksa, ia keluar dari mobil. Tari langsung meloncat ke jok belakang. Jarinya yang sudah menyentuh kancing teratas mendadak berhenti bergerak. Gadis itu kembali ragu. Akhirnya ia membuka kaca jendela untuk memperingatkan Ari sekali lagi. “Nggak boleh ngintip. Hadap sana! Jangan berani-berani nengok ke sini biar kaca jendela ini lo bilang gelap. Awas aja kalo berani ngintip!”
Baru setelah Ari berdiri membelakanginya, bahkan menempelkan punggungnya di jendela dekatnya berganti baju, Tari melepas seragamnya dan dengan cepat berganti pakaian, masih sambil menoleh-noleh cemas, memastikan tidak ada orang yang menontonnya, terutama cowok yang sekarang tengah berdiri di samping mobil. Ia bersembunyi di balik sandaran punggung jok sopir, melesak sebisanya ketika melepas kemeja. Berganti pakaian di dalam mobil benar-benar mempertaruhkan harga diri. Untungnya hari masih terlalu pagi sehingga jalanan ini belum ramai orang.
Tari mengetuk jendela tempat Ari menyandarkan punggung. Ia kembali meloncat ke jok depan, sengaja meninggalkan ranselnya di jok belakang, dan sudah duduk manis ketika Ari masuk ke mobil.
“Mau cerita, apa yang terjadi setelah bokap lo pulang?”
“Kita cari tempat yang pas dulu buat cerita.”
“Oke. Mau jalan kemana, nih?” tanya Tari lagi.
Ari menoleh ke arahnya dengan wajah curiga. “Kayaknya lo semangat banget gue ajak bolos.”
“Eh, jangan salah,” sergah Tari. “Gini-gini demi elo juga. Kalo situasinya nggak sedarurat sekarang, mana mau gue bolos sekolah.”
Ari memilih untuk tidak berkomentar. Salah-salah Tari malah marah dan tidak jadi menemaninya. Ia memutar balik mobil, kembali ke jalan raya yang mulai padat.
“Ke luar kota?” Tari masih berusaha meminta kepastian.
Ari mengangguk. “Terlalu beresiko ketemu orang yang kita kenal kalo kita cuma main di deket-deket sini.”
“Ke mana?”
“Bandung? Bogor? Terserah. Lo maunya ke mana?”
“Lo yang ngajak, jadi gue nurut.”
“Nginep yuk di Puncak?”
“Apa?!” jerit Tari. “Sintiiing! Nggak! Gue nggak mau!”
Ari tertawa kecil. Senang rasanya bisa menggoda ceweknya yang satu ini. Bisa sejenak melepas penat di kepala begitu melihat Tari yang melotot kaget atau berteriak marah.
“Kenapa ketawa? Nggak lucu, tau!” ketus Tari.
“Siapa bilang gue lagi bercanda? Gue akan bawa lo ke Puncak. Kita sewa vila buat berdua.”
Tanpa ragu, Tari membuka kunci pintu mobil, berniat meloncat turun tanpa peduli mobil tengah berada di jalan raya dan sedang melaju. Tepat sebelum tangannya mengayunkan daun pintu agar terbuka, Ari meraih pinggangnya untuk menahannya. “Bahaya,” desis cowok itu. Agak kaget juga melihat tindakan nekat Tari.
“Biarin!” teriak Tari. “Lebih baik gue mati di tengah jalan kelindes truk daripada diculik lo dan dibawa ke Puncak.”
“Eh, ati-ati kalo ngomong. Tutup pintunya!” desis Ari lagi, memecah konsentrasi antara tetap menyetir dan memegangi Tari, karena untuk saat ini tidak mungkin baginya menepikan mobil yang berada di tengah-tengah jalan yang ramai.
“Nggak! Gue mau loncat! Lepasin!”
Ari menahan pinggang Tari makin kuat, menariknya mendekat. “Bercanda doang, Tar. Tutup pintunya! Sekarang!”
Barulah Tari menurut begitu nada suara Ari yang panik naik satu oktaf. Ia menoleh ke belakang, memastikan tak ada kendaraan di dekat pintunya, kemudian membukanya sedikit, dan mengayunkannya hingga menutup.
“Lo tuh ya... Tau bahaya nggak, sih?!” bentak Ari.
Tari melipat kedua tangan di depan dada. Bibirnya cemberut. “Kok gue jadi dimarahin? Justru gue mau loncat itu biar gue selamet, tau.”
“Bercanda doang, Tar,” ulang Ari, sedikit berhasil mengendalikan emosinya. “Nggak mungkin gue kurang ajarnya keterlaluan gitu.”
“Siapa bilang nggak mungkin?” tukas Tari, masih jengkel setengah mati.
“Lo makin lama makin berani ngelawan gue ya.” Ari mengucapkannya bukan dengan nada mengancam, tapi malah terdengar geli.
“Sejak kapan gue takut sama lo?” balas Tari menggerutu, dalam hati bertanya-tanya bagaimana suasana hati Ari bisa berubah-ubah begitu cepat. Awal-awal tampak kacau dan mengerikan, kemudian bercanda dan tertawa, marah lagi, lalu sekarang geli lagi. Aneh. Tapi kemudian Tari menyimpulkan kalau Ari sekarang ini memang sedang dalam puncak kekacauannya, terlihat dari emosi yang labil seperti tadi.
“Mau sarapan dulu?” tawar Ari. Sekarang sudah benar-benar bisa menenangkan diri.
“Belom gitu laper. Ntar di tempat tujuan aja sarapannya. Oh ya. Sekarang bener-bener harus lo jawab. Kita mau kemana? Jangan bercanda yang aneh-aneh lagi! Gue loncat beneran nih kalo lo ngomong macem-macem!”
Ari mengerutkan kening sejenak. “Ke tempat favorit gue?”
“Kemaren sore baru aja ke sana. Tapi nggak pa-pa, sih. Gue juga suka tempatnya.”
“Kalo gitu kita harus bawa bekal.” Ari membelokkan mobil ke sebuah kafe yang buka 24 jam sehari. “Tunggu di sini,” katanya sebelum turun. Beberapa saat setelah Ari masuk ke dalam kafe, Tari mengeluarkan ponselnya untuk kembali menelepon Fio.
“Udah berangkat sekolah?” tanya Tari langsung.
“Lagi otw, nih. Ada apa?”
“Gue diajak Ari madol hari ini.”
“Udah gue duga,” sahut Fio, sama sekali tidak kaget. “Kenapa lo mau?”
“Yah, mau nggak mau, sih. Soalnya pagi ini lagi ada masalah. Bokap Ari pulang dan sekarang dia lagi kacau. Nggak mungkin kan gue biarin dia ngamuk di sekolah, trus bikin onar lagi?”
“Jadi, sekarang ceritanya lo lagi ngorbanin diri sendiri buat nyelametin seantero sekolah, gitu?”
Tari meringis, agak ngeri juga mendengar kata-kata ngorbanin diri sendiri. “Bisa dibilang begitu. Tapi gue ngikut juga biar gue selamet sampe rumah. Lo tau sendiri lah gimana Ari kalo gue berani nolak dia. Apalagi mood dia lagi kacau gini.”
“Kesian amat sih hidup lo.” Fio berdecak. “Oh, atau jangan-jangan lo juga seneng ya diajak bolos?” tuduhnya curiga, yang ternyata tidak salah.
“Lo tau aja,” sahut Tari ketawa. “Hari ini nggak ada ulangan, kan? Mumpung rada bebas, nih. Bolos sekali-dua kali kayaknya bukan masalah.”
“Dasar!” seru Fio. Antara geli dan kaget. “Lo sama Kak Ari ternyata nggak ada bedanya. Seotak sehati. Se-nama pula. Udah gih sono, pacaran aja terus. Kawin sekalian. Nggak usah repot-repot sekolah.”
“Kok kejem gitu sih ngomongnya? Eh, tapi tadi Ari juga sempet bilang sih kalo sekolah itu bukan suatu keharusan. Bolos sehari nggak akan ngaruh apa-apa. Gue pikir-pikir, ternyata ada benernya juga. Iya nggak? Oh, Fi, udahan dulu ya. Ari udah mau ke sini. Ntar gue kabarin lagi. Jangan lupa juga ijinin gue. Makasih. Daah.”
“Kalian mau...” pertanyaan Fio terpotong karena Tari langsung menutup telepon tanpa memberinya kesempatan menjawab. Fio memelototi layar ponselnya. “Tariiiii, Tari. Kak Ari kayaknya sekarang berpengaruh besar ya dalam hidup lo. Ck, ck, ck. Moga-moga aja lo nggak ikutan bandel. Paling nggak jangan separah dia deh, Tar. Gue nggak mau sohib gue jadi tukang bolos. Repot ntar,” omelnya pelan.

***

Begitu duduk di belakang kemudi, Ari menyerahkan bungkusan berisi dua kotak hamburger dan dua gelas soda ke pangkuan Tari. “Telepon siapa?” tanyanya.
“Fio.”
“Oh,” jawab Ari singkat, tidak berminat untuk bertanya lebih lanjut.
Perjalanan selanjutnya mereka tempuh tanpa banyak bicara. Semakin dekat ke tempat tujuan, Tari mendengar Ari berulang kali menghela napas. Ketika menoleh, dilihatnya wajah Ari agak pucat.
“Lo baik-baik aja?”
Ari mengangguk, namun kemudian menggeleng-geleng. “Gue... nggak tau.”
Tari tertegun. Kondisi hati yang berantakan biasanya menuntun Ari kepada kemarahan, bahkan tak jarang juga amukan. Tindakan-tindakan keras untuk bisa melegakannya. Bukan teriakan frustasi yang dipendam sendiri dalam hati hingga menenggelamkannya pada keterdiaman seperti ini.
“Jangan coba-coba ngerokok.” Tari memperingatkan.
Ari mengangguk. “Gue nggak bawa rokok.” Bukannya karena dia menuruti aturan Tari untuk berhenti merokok seperti yang telah diberlakukan semenjak mereka pacaran, tapi untuk pagi ini dia memang lupa membelinya. Selama Tari tak ada di sampingnya, kerap kali Ari melanggar pantangannya. Meski ia tetap berusaha untuk meminimalisasi kebiasaan buruk itu.
“Bagus.” Tari mengangguk-angguk lega.
Mobil berhenti di tempat parkir dengan posisi sembarangan, melintang dari garis batas. Tempat parkir ini masih kosong, jadi tak ada orang yang peduli, terutama Ari. Tanpa mengajak apalagi membukakan pintu untuk Tari seperti biasa, cowok itu kali ini langsung bergegas menghampiri saung tua favoritnya, seolah kekuatannya sudah nyaris mencapai skala nol dan bisa dipastikan dia akan terjatuh kalau tidak segera diisi ulang.
Tari menggeleng-geleng pelan saat turun dari mobil. “Nggak dikunci segala. Nggak takut ilang, apa?”
Dengan langkah perlahan, Tari berjalan ke tempat Ari duduk sekarang. Ia meletakkan kantong plastiknya di meja sebelum melepas sepatu dan duduk di samping Ari. Dibiarkannya cowok itu tenggelam dalam pikirannya sendiri selama beberapa saat. Akan ditunggunya sampai mulut itu terbuka dengan sendirinya untuk menumpahkan apa yang tengah memporak-porandakan hati dan pikirannya.
“Jam empat pagi tadi Bokap pulang.” Setelah menit-menit berlalu dalam keheningan, akhirnya terdengar suara Ari yang serak. Ia menghirup napas dalam-dalam, berusaha menyusun kata-kata. “Dia mabuk berat. Teriak-teriak.”
Tari tercengang, tapi tetap berusaha menyimak meski setiap kata yang keluar dari mulut Ari semakin membuatnya kaget.
“Gue kaget dan langsung bangun, karena ini pertama kalinya gue liat Bokap mabuk. Pas mau gue bantu, dia mukul gue. Dan lo tau apa yang bikin gue lebih kaget?”
Tari menggeleng cepat, mengisyaratkan Ari untuk meneruskan ceritanya. Selama beberapa detik, tidak ada suara yang keluar dari mulut Ari. Cowok itu menatap lurus ke depan tanpa ada fokus pandangan.
“Dia bilang... dia liat kita kemarin, pas kita makan malem bareng sepulangnya dari tempat ini. Dia liat Nyokap. Ata. Tante Lidya.” Ari hampir kehilangan suaranya saat kembali meneruskan, “Itu yang bikin dia pergi ke bar semaleman. Nggak langsung pulang.”
Ari menelan ludah susah payah. Tercekat. Tangan kiri Tari terulur hati-hati, menyentuh pelan bahu Ari, menenangkan. Tapi Ari menariknya ke genggaman. Diremasnya tangan Tari, seolah meminta kekuatan dan kehangatan untuk tangannya yang dingin membeku.
“Bokap ngumpat-ngumpat gue. Dia bilang gue anak durhaka lah, apalah, macem-macem. Gue nggak peduli. Yang jelas gue sayang sama Nyokap.” Ari mengatupkan rahang keras-keras. Bisa Tari rasakan genggaman untuk tangannya semakin erat. “Bokap macem apa sih dia! Brengsek!” teriak Ari. Seluruh kemarahan, kesedihan, dan kekecewaannya meledak seketika.
“Sst.. Kak...”
“Lo nggak tau, Tar!” Kini Ari menghadapkan tubuhnya ke arah Tari, meletakkan tangan kiri Tari di dadanya, menekannya. “Lo nggak tahu gimana rasanya dilarang ketemu sama Nyokap dan saudara kembar lo sendiri! Lo nggak tahu gimana rasanya punya Bokap gila kayak Bokap gue!”
Tari memilih untuk mengunci mulut. Ia biarkan Ari meluapkan emosinya. Sampai cowok itu lega. Tari akan diam.
“Gimana bisa gue nggak ketemu sama Nyokap dan Ata lagi selama mereka masih di Jakarta? Tapi Bokap ngancem gue. Dia bilang, kalo sampe gue ketemu sama mereka lagi, dia akan langsung pindahin gue. Kemana aja. Bahkan kalo perlu keluar Jawa. Dia bilang itu hak dia. Dan gue ngerasa nggak berdaya, Tar! Gue bisa apa?!”
Ini ketiga kalinya seumur hidup Tari, ia melihat Ari menangis. Kerapuhan yang selama ini disembunyikan di balik benteng semu terkuak sudah. Ari menanggalkan semua topeng dan jubah yang ia kenakan selama ini. Untuk kedua kalinya, setelah kejadian di UKS beberapa waktu yang lalu, Ari membiarkan dirinya terbuka sepenuhnya di hadapan Tari. Ia tunjukkan luka-luka dan air mata tanpa memikirkan lagi reputasinya. Ia pertontonkan bagaimana api amarah melalap habis setiap jengkal tubuhnya, hingga yang tersisa tinggallah kepedihan. Ketidakberdayaannya menolak ancaman ayahnya membuat Ari murka kepada dirinya sendiri. Murka. Namun tak berdaya.
Otak Tari tak bisa memikirkan kata-kata yang tepat untuk menghibur Ari. Sosok Ari di depannya sekarang bukanlah Ari yang ia kenal, yang selalu berdiri tegak menantang tak takut apapun. Saat ini Ari sedang bertransformasi menjadi sosok anak kecil yang sedih dan kebingungan. Sosok anak kecil yang rapuh, yang sedang tenggelam dalam puing-puing benteng pertahanannya sendiri, mencari bantuan, meminta gandengan.
Tari mengulurkan tangan kanannya, menyentuh pipi Ari. Mengusap air mata yang mengalir di sana. Berusaha mengurangi sakit yang tengah didera cowok itu. Berusaha menyusup ke dalam hati Ari untuk bisa ikut merasakan setiap luka di dalamnya.
“Sst, jangan nangis,” bisiknya. Lembut. Penuh perhatian. Ditambah seulas senyum menenangkan. Ari tiba-tiba meletakkan kepalanya di pangkuan Tari. Tidur terlentang, masih sambil menggenggam tangan kirinya.
“Gue capek, Tar,” keluh Ari. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
Tari menatapnya nelangsa. Betapa mengerikan hidup yang harus dijalani Ari. Dipisahkan dari ibu dan saudara yang disayanginya, dan diharuskan tinggal bersama seorang ayah yang buta kasih sayang. Tidak mengherankan Ari selalu haus perhatian, dan tidak mengherankan pula Ari selalu kelelahan dengan semua liku kehidupan yang harus dilewatinya. Diusapnya kepala Ari perlahan. “Sstt, jangan nangis. Jangan nangis. Ada gue di sini. Gue akan jagain lo. Tidur aja kalo capek. Lo pasti masih ngantuk bangun pagi-pagi tadi.”
Kata-kata dan sentuhan halus Tari berhasil menumbuhkan sedikit ketenangan untuk hati Ari. Kesediaan Tari memangku kepalanya juga berhasil menghapus lapisan kabut yang bergelayut di sana. Ia menarik napas panjang dan memejamkan mata. Sengaja dibiarkannya air mata kembali mengalir dari sudut mata. Tak berusaha ia hapus. Sebelum kegelapan menyeretnya keluar dari ambang kesadaran, Ari berbisik pelan, “Makasih.”

***

Hari sudah siang ketika Ari membuka matanya kembali. Sinar matahari yang menyengat langsung ke mata membuatnya mengerjap beberapa kali. Sambil mengumpulkan sisa-sisa nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi, otaknya berputar cepat mengingat di mana dirinya terakhir kali berada. Kemudian ia menyadari kepalanya masih berada di pangkuan Tari.
“Udah bangun?” Wajah Tari mendadak muncul di atas wajahnya. Nyengir.
Ari buru-buru bangkit. “Berapa lama gue tidur?”
Tari memeriksa jam di pergelangan tangannya dengan kening berkerut, mengingat-ingat. “Kira-kira... dua jam. Ato mungkin tiga jam.”
“Tiga jam?” Ari terbelalak, ikut memeriksa jam tangan Tari. Pukul sebelas siang. Benar. Dia tidur kurang lebih tiga jam. Pantas saja perutnya keroncongan. Matanya lalu tertumbuk pada kantong hamburger yang dibelinya pagi tadi.
“Lo pasti kelaperan dari tadi. Yuk, makan.” Ari bangkit berdiri, mengulurkan tangan untuk membantu Tari berdiri.
Tari meringis, tidak langsung menyambut uluran tangan Ari. “Lo ke sana aja dulu, gue nyusul bentar lagi.” Ia meluruskan kakinya perlahan-lahan, dan mengernyit kesakitan. Seketika Ari tahu masalahnya.
“Sakit?” tanyanya cemas sambil kembali berlutut di samping kaki Tari.
“Kesemutan parah,” sahut Tari yang telah berhasil meluruskan kaki kanannya, tinggal kaki kiri.
“Sori. Gara-gara gue, nih. Harusnya elo bangunin aja gue tadi.”
“Nggak pa-pa. Lo tidurnya udah enak banget. Nggak mungkin gue berani ganggu.” Tari memaksakan senyum, kemudian bernapas lega ketika kedua kakinya sudah lurus kembali. Kesemutannya akibat terlalu lama duduk bersila dan berusaha untuk tidak bergerak belum hilang.
“Mau gue gendong?” tawar Ari.
“Eh? Nggak usah! Nggak usah, makasih. Mending kita makan di sini aja. Lebih enakan di sini. Ntar selesai makan kesemutannya pasti ilang, kok.”
Masih dengan dipenuhi rasa bersalah, Ari mengambil kantong plastik di meja, berharap semoga isinya masih bagus. Dikeluarkannya satu kotak hamburger untuk Tari yang tengah memijit-mijit kakinya begitu ia kembali duduk di dekat gadis itu.
“Kalo masih laper, abis ini kita cari restoran.”
“Perut gue bukan gentong, tau. Palingan juga elo yang sebentar lagi kelaperan. Huaah, burgernya aja segede ini!” Tari menangkup hamburger yang hampir tidak muat di tangannya itu sembari berdecak. Ia percaya Ari memesan yang ukuran jumbo. “Gimana makannya? Bisa-bisa mulut gue sobek.”
Ari membuka mulut lebar-lebar dan menggigit hamburger di tangannya. “Nggak, kok. Coba, deh. Enak,” katanya sambil mengunyah.
Tari mengikuti tindakan Ari. Dan memang ia berhasil menggigitnya, namun saus di bagian belakang roti meleleh, jatuh ke bawah, mengenai celananya. Bukannya panik, ia malah tertawa. “Bakalan bau daging goreng nih gue.”
Ari ikut tertawa. Dan tawanya makin menjadi begitu keduanya selesai melahap hamburger masing-masing. Wajah Tari belepotan saus dan mayonaise.
“Heh, wajah lo juga, tau,” cibir Tari, tahu penyebab dirinya ditertawakan. Diam-diam ia merasa lega melihat Ari tertawa. Ari memang sudah terlatih menyembunyikan perasaan, namun Tari tahu cowok itu tak akan bisa berlama-lama menyembunyikan perasaan di hadapannya. Tari lebih suka Ari yang terbuka. Tertawa ketika benar-benar senang, dan ia sama sekali tak keberatan melihat Ari menangis ketika benar-benar sedih. Seperti tadi misalnya. “Sukanya ngetawain orang. Sendirinya juga nggak kalah jeleknya, tuh.”
“Yuk, cuci tangan sama cuci muka. Kaki lo udah bisa gerak, kan?”
“Udah.” Tari berdiri, walau belum begitu mantap. Ari mengemas sisa-sisa makanan mereka, membuangnya ke tong sampah, kemudian membantu Tari berjalan dan memakai sepatunya.
Seharian ini, keduanya berjalan-jalan. Bermain kemana saja. Tari mengabari mamanya kalau dirinya akan pulang telat, bersama Ari, agar mamanya tidak terlalu khawatir. Hari itu mereka tutup dengan duduk di pantai, menyaksikan matahari terbenam, satu-satunya momen yang tak boleh terlewatkan.
Ari memperhatikan gadis di sebelahnya yang sedang serius memunguti kerang-kerang kecil dari segenggam pasir di tangannya. “Tar?” panggilnya pelan.
Tari menoleh. “Ya?”
Pada kesempatan itu, Ari meraih belakang kepala Tari, kemudian mencondongkan badan, mencium keningnya. Karena tak ada perlawanan sama sekali, tangan yang lain merengkuh keberadaan gadis itu. Bibirnya berpindah, mengecup ujung hidung Tari. Sekilas, namun sarat akan kelembutan dan kasih sayang. Tari mendongak, menatapnya kaget.
“Kenapa? Mau marah?” Tentu saja Ari mengira Tari akan marah, karena tindakannya barusan sukses menarik perhatian orang-orang di sekeliling mereka. Tapi ia sudah tidak bisa menahan diri barusan. Yang tak disangkanya, Tari justru menggeleng pelan. Agak salah tingkah.
“Buat apa gue marah?”
Ari tersenyum. “Makasih,” katanya tulus. “Makasih udah mau nemenin gue hari ini.”

Tari hanya mengangguk-angguk. Dia mempertanyakan kembali kata-kata Fio tadi pagi. Ngorbanin diri sendiri? Sepertinya memang benar. Tapi itu dilakukannya dengan sukarela. Dan apakah aneh kalau dia bilang dia bahagia bisa menemani Ari?




Bersambung...