Rabu, 12 November 2014

Jingga untuk Matahari #fanfiction-8

Ini kali ketiga dalam minggu ini Ari mendatangi saung tua favoritnya. Sejak pagi tadi, ia masih belum bergerak dari posisinya. Duduk diam memeluk lutut di ujung saung. Kepalanya yang tadi penuh dengan pemikiran-pemikiran rumit, sekarang dibiarkan kosong. Satu keputusan telah diambil. Ia tidak bisa meninggalkan Tari sekarang. Terlalu tiba-tiba. Ia akan menyusul Mama dan Ata ke Malang setelah ia lulus SMA. Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti. Ia tidak ingin kehilangan Mama dan Ata untuk kedua kalinya. Jadi yang perlu ia lakukan sekarang hanyalah bertahan menghadapi Papa dan melepas kepergian Mama untuk sementara.
Masalah Tari, ia belum memutuskan bagaimana nantinya. Mungkin Tari bisa menerima alasan kenapa dia harus pergi. Mungkin hubungan mereka tetap bisa terjaga walau jarak membentang sepanjang pulau Jawa. Atau mungkin juga mereka harus mengakhiri hubungan ini. Terserah. Ia menyerahkan urusan ini kepada waktu. Pada intinya, tekad Ari untuk pergi dari Jakarta sudah bulat.

***

“Lo udah dapet telepon dari Kak Ari lagi?” tanya Tari begitu Oji dan Ridho datang ke kelasnya di jam istirahat pertama ini.
Oji dan Ridho saling berpandangan sejenak, kemudian sama-sama menggeleng. “Biarin dulu aja, Tar. Lo kayak nggak tau cowok aja. Ntar juga balik sendiri,” saran Ridho.
Oji mengangguk. “Iya, Tar. Makan dulu yuk? Laper nih.”
Kedua cowok itu menggiring Tari dan Fio ke kantin. Saat jam istirahat kedua dan bel pulang berbunyi pun Oji dan Ridho setia menempeli Tari dan Fio. Karena dari yang mereka dengar, masalah dengan Angga kali ini agak gawat. Jadi mereka tidak berani membuat kesalahan dalam urusan menjaga Tari.
Mobil Ridho yang berisi tiga penumpang lain selain si pemilik mobil bahkan belum sempat berhenti sepenuhnya di depan rumah Tari saat cewek itu membuka pintu penumpang dengan sikap tidak sabar dan meloncat turun. Ridho, Oji, dan Fio segera tahu penyebabnya. Ari. Cowok itu tengah berdiri di bawah teriknya matahari di depan pagar rumah Tari.
“Hei,” Ari menyambut ketidaksabaran Tari dengan senyum tipis.
“Elo...” Dengan geram, Tari mendorong dada Ari keras-keras. “Ke mana aja lo? Kenapa nggak ngasih gue kabar? Jahat! Gue khawatir, tau! Gue cemas setengah mati begitu gue denger elo kepergok Bokap saat ke rumah Tante Lidya! Kenapa elo nggak cerita? Kenapa malah ngilang gitu aja, hah?!” Dorongan itu berubah menjadi pukulan bertubi-tubi di dada Ari.
Ari menangkap kedua pergelangan tangan Tari, menahannya, dan menoleh ke arah Ridho yang baru saja turun dari mobil. Hanya dengan gerakan dagu, Ari menyuruhnya pergi. Ridho mengangguk.
“Biar mereka bicara. Gue anterin lo pulang, Fi,” kata Ridho begitu kembali duduk di belakang kemudi.
Ari baru mencurahkan perhatiannya kepada Tari saat mobil Ridho tak lagi terlihat. Cewek itu terengah-engah dengan wajah memerah, dan matanya berkaca-kaca.
“Maaf,” kata Ari pelan. “Bisa kita lanjutin pembicaraan ini di dalem?”
Tari berusaha mengatur nafasnya. “Oke. Tapi lo harus cerita semuanya.” Ia melepaskan diri dari cekalan Ari, lalu melangkah masuk. Kini keduanya duduk berhadapan di sofa ruang tamu.
“Jadi?” tuntut Tari setelah beberapa saat Ari tetap tidak membuka mulut.
Ari menghela napas. “Dari mana lo tau gue kepergok Bokap waktu ke rumahnya Tante Lidya?”
“Ata. Gue telepon Ata kemaren malem.”
“Dia cerita?” Ari agak terperanjat.
“Nggak. Cuma bilang kalo kalian ribut besar. Kenapa lo nggak hubungin gue langsung? Apa lo nggak tau gue sampe nggak bisa mikir apa-apa selain mikirin kemungkinan elo di mana, lagi ngapain, ato bahkan lagi diapain?” Tari bersiap meledak lagi.
Salah satu tangan Ari terulur, mengusap sebelah pipi Tari hati-hati, melunakkan kemarahan cewek itu. “Gue baik-baik aja, Tar. Jangan khawatir,” katanya, masih enggan untuk menyinggung masalah kemarin sore di hadapan Tari. “Lo sendiri gimana? Sori, gue nggak sempet nanyain keadaan lo tadi malem. HP gue mati dan gue ketiduran.”
Tari menangkup tangan Ari yang mengusap pipinya, menahannya di sana, meresapi kehangatan dari telapak tangan itu. Kecemasan yang menyesakkannya sejak tadi malam perlahan menguap. “Gue juga baik-baik aja. Ridho sama Oji jagain gue baik-baik hari ini,” sahut Tari lirih.
Keputusan itu mulai goyah. Menatap Tari yang terlihat kacau setelah ia tinggal tanpa kabar yang bahkan belum mencapai 24 jam membuat Ari harus berpikir ulang untuk meninggalkan gadis ini. Tanpa pikir panjang, ia meraih Tari ke dadanya dan memeluknya erat. “Mulai sekarang, gue yang akan selalu jagain elo tiap hari.”

***

Di foodcourt sebuah mal, Ata menatap cewek yang duduk di depannya, yang dari tadi mengamatinya sambil tersenyum manis.
“Gimana? Sukses bantuin si Angga?” tanya Ata sambil menghirup cappucino-nya.
“Agak ngerepotin sih. Tapi yaaah, lumayan lah. Gue jadi ada kegiatan daripada cuma ongkang-ongkang kaki. Dan gue udah nggak sabar liat Ari sama Tari bubaran. Enek tau nggak ngeliat mereka jalan berdua!”
Ata tersenyum tipis. Matanya mengamati cewek yang tengah cemberut itu. Bisa ia lihat betapa cewek ini memuja saudara kembarnya. Mungkin alasan itu juga yang membuat cewek ini selalu tersenyum saat bicara padanya. Berpura-pura bahwa yang duduk di depannya adalah Ari yang asli, bukan seseorang yang kebetulan berwajah serupa dengan cowok itu.
Seperti yang telah dilakukannya jutaan kali, Ata meminta maaf dalam hati. Kepada cewek yang ia jadikan pion dalam permainannya. Yang secara sukarela membantu mewujudkan rencananya dengan janji palsu bahwa dia bisa merebut kembali sang pangeran pujaan hati. Tapi tetap, maaf itu tak akan terucap dari bibir Ata. Yang ia pedulikan hanyalah rencananya bisa berjalan sesuai harapan, kemudian ia akan membiarkan pion-pion tadi berjatuhan.
Senyum tipis di bibir Ata berubah menjadi senyum dingin. “Tolong bilang ke Angga, kita nggak punya banyak waktu. Oke?”

***

“Tari bilang dia belom maafin elo,” sambut Gita begitu Angga menemuinya di kamar.
Kedua alis Angga terangkat. Ia diam sejenak. “Bilang apalagi dia?”
“Jangan sampe gue ikut campur masalah dia sama Kak Ari lagi.”
Angga mengangguk-angguk. “Mulai sekarang, kalo Ari berani nyentuh elo dikit aja, bilang ke gue.” Cowok itu membanting tubuhnya ke tempat tidur Gita.
Gita menatap Angga dengan kesal, kemudian bangkit dari posisinya yang dari tadi duduk menghadap meja belajar, melangkah mendekati Angga dan duduk di sebelah sepupunya itu. “Bisa nggak sih lo kasih tau gue ada masalah apa sebenernya? Kenapa gue selalu terlibat tapi nggak tau apa-apa?”
“Udahlah. Lo nggak usah khawatirin apa-apa lagi. Gue jamin sekarang lo aman di Airlangga,” sahut Angga.
Gita menghela napas. Untuk sesaat, keduanya terdiam.
“Gue sayang sama Tari.”
“Apa?” Kepala Gita menoleh cepat ke arah sepupunya. “Lo bilang apa tadi?”
Angga menolak menatap Gita. Ia memilih menatap langit-langit kamar ketika pengakuan itu terucap untuk kedua kalinya. “Gue sayang sama Tari.”
Gita terperangah. “Gila lo! Masih aja belom cukup nyari masalah sama Kak Ari! Lo mau perang dunia ketiga pecah di Indonesia gara-gara elo sama Kak Ari rebutan Tari? Kira-kira dong, Gaaa.”
Ujung-ujung bibir Angga terangkat sedikit. “Itu urusan kami. Tapi gue yakin sebentar lagi Tari jadi milik gue. Tinggal menunggu kesalahan langkah dikit aja dari Ari, dan cewek itu bakal lepas dari genggamannya.”
Gita tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sakit kepalanya yang baru sembuh kemarin mendadak kumat mendengar kata-kata Angga.

***

Begitu tiba di sekolah keesokan harinya, Ari teringat masih ada urusan yang belum terselesaikan dengan seseorang. Seseorang yang ikut memegang andil dalam kasus penculikan Tari oleh Brawijaya, yang mengharuskan ia menerima semua hinaan dan berujung pada perjanjian busuk ciptaan Angga. Sekarang orang itu harus menerima akibatnya!
Setelah mengantar Tari hingga depan pintu kelas, Ari melesat ke gedung kelas 12. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan mangsanya.
Vero sedang duduk mengobrol bersama teman gengnya. Tiba-tiba saja tubuhnya disentakkan ke belakang dengan tarikan keras, dan detik itu juga ia berhadapan dengan seseorang yang selalu mengisi mimpi-mimpi terliarnya. Tanpa sadar cewek itu menahan napas. Meski Ari yang berdiri di depannya kini menatapnya dengan sorot tajam mengancam, sentuhan tangan Ari yang mencengkeram bahunya tetap memunculkan hasrat tersendiri baginya.
“Urusan kita belom selesai, inget?” desis Ari tajam.
Tanpa takut, Vero membalas tatapan Ari. “Kalian pergi dulu. Gue ada urusan di sini,” perintahnya pada anggota gengnya yang lain.
Anggota The Scissors tidak pergi, mereka hanya menjauh sedikit, menciptakan jarak dengan dua orang yang tengah bertikai itu. Begitu pula dengan beberapa anak kelas 12 lain yang ikut penasaran, yang bela-belain berhenti dan melupakan niat mereka mengerjakan PR di kelas hanya untuk menonton kedua pentolan sekolah mereka berseteru.
“Lo emang kudu dihajar ya. Kayaknya kata-kata aja sekarang nggak cukup bikin elo diem,” kata Ari tajam.
“Hajar aja. Gue terima,” sambut Vero dengan senyum. “Tapi elo nggak bakal berani, kan? Apalagi di depan orang banyak gini. Elo cuma bisa ngancem.”
“Lupa pembicaraan terakhir kita?” geram Ari, kehabisan kesabaran.
“Tentang tato, lawan tanding gue, dan segala macem itu? Jelas gue nggak lupa, lah. Tapi yang gue tahu, Ari sayang, itu juga anceman kosong dari elo.”
Vero tidak bisa menahan diri lagi untuk bicara kepada bibir yang selalu menggodanya tiap bergerak. Entah apa konsekuensi yang akan diterimanya setelah ini, makhluk di hadapannya terlalu keren untuk tidak ia hadiahi ciuman. Jadi ia melawan cengkeraman Ari yang sedang lengah, maju selangkah, mengalungkan lengan ke leher Ari, dan mencium cowok itu, tepat di bibir!
Ketersimaan Ari hanya bertahan sedetik, dan seketika digantikan oleh kemarahan yang langsung menyentuh titik puncaknya. Sekali lagi prinsip dan pantangan yang ia berlakukan dilanggar oleh Vero. Dan kali ini cukup parah. Di depan begitu banyak mata teman-teman seangkatan! Semua orang sempat terperangah dalam keheningan, kemudian sorak sorai pecah. Berbagai macam teriakan terlontar dari mulut-mulut usil di sekeliling mereka.
“Mesum! Mesum!”
“Lanjutin di toilet aja sono!”
“Dasar elo, Ri! Masih nggak puas sama Tari?”
“Tari buat gue aja, deh!”
Ari ingin menghajar satu per satu mulut yang berceletuk tadi, tapi prioritas utama sasarannya adalah Vero. Dengan kasar, ia melepas lengan Vero dari tubuhnya, mendorong cewek itu hingga jatuh tersungkur.
Vero mendongak menatap Ari yang tengah melangkah mendekatinya dengan sorot mata dan bahasa tubuh seperti malaikat maut yang siap mencabut nyawa saat ini juga. Mampus! Mampus! Mampus! jeritnya dalam hati.
Ari yang telah mempersetankan gender, meraih kerah kemeja Vero, menariknya berdiri. “Elo emang jenis orang yang nggak pantes dikasih ampun. Ternyata salah selama ini gue nahan sabar buat elo. Pantangan gue buat nggak nyakitin cewek udah nggak berlaku sekarang,” desis Ari, kali ini benar-benar buta oleh kemarahan.
Sebelah tangan Ari terangkat, siap mendaratkan pukulan ke wajah Vero. Sampai seseorang menahan tangannya. Seseorang lagi sekuat tenaga melepaskan cengkeraman Ari di kemeja Vero, mendorong cewek yang wajahnya pucat pasi itu menjauh.
“Pergi,” desis Ridho pada Vero. Cewek itu langsung mengambil langkah seribu bersama gengnya.
Ari berontak dan berteriak kalap kepada dua temannya yang telah membiarkan mangsanya kabur. “Brengsek lo berdua! Tu cewek mau gue kirim ke neraka! Lepasin!”
Ridho dengan cekatan mengunci kedua tangan Ari. Susah payah bersama Oji, ia menyeret temannya yang mengamuk untuk keluar dari kerumunan penonton. Tidak ke toilet. Tidak ke kelas mereka. Ridho dan Oji membawa Ari ke kelas Tari.

***

“Tar! Tari! Kak Ari...!” Nyoman berlari tergopoh-gopoh menghampiri Tari sambil berteriak.
“Ada apa? Kak Ari kenapa?” Tari yang tadinya sedang mengobrol dengan Fio kontan berdiri panik.
“Lo liat sendiri di luar!”
Tari segera berlari keluar kelas, diikuti teman sekelasnya. Ia terperangah begitu melihat Ari yang tengah menghajar kedua sahabatnya sendiri dengan membabi buta, tidak jauh dari kelas mereka.
“Kak! Kak Ari!” Tari tidak bodoh dengan mencoba-coba menahan tangan Ari yang tengah terangkat di udara, ataupun menempatkan dirinya di antara Ari dan kedua sahabatnya yang sedang ketiban peran menjadi samsak dadakan. Begitu-begitu dia tidak ingin ikutan bonyok. Jadi dia hanya berteriak di dekat cowok itu. “Kak Ari! Berhenti!”
“Biarin, Tar!” sahut Ridho yang masih sibuk berkelit dari serangan Ari, tapi wajahnya juga telah babak belur.
“Iya, biarin dulu. Elo minggir gih sana daripada kena tonjok kayak kita,” sambung Oji yang sudut bibirnya mulai berdarah.
“Tapi, Kak... kalian...”
“Kami nggak pa-pa,” kata Oji lagi, dan satu pukulan telak menghantamnya di hidung, membuat cowok itu terjengkang seketika. Ridho menarik tubuh Ari menjauhi Oji.
Tari bingung setengah mati, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Hingga akhirnya dia hanya berdiri diam menonton Ridho dan Oji sibuk menghindari Ari tanpa berusaha membalas serangan-serangan itu. Hasilnya, Oji dan Ridho terkapar di tanah, sementara Ari jatuh terduduk tidak jauh dari mereka. Sadar mereka tengah menjadi tontonan adik kelas, susah payah Ridho bangkit berdiri sambil menarik Oji bersamanya. Ketika melewati Ari, ia menepuk bahu temannya sekilas.
“Udah lega?” Tanpa menunggu jawaban dari Ari, ia melanjutkan langkah mendekati Tari. “Gue serahin dia ke elo. Kami mau ke UKS dulu.” Setelah itu ia berlalu bersama Oji yang nyaris pingsan di bahunya.
Tari melangkah mendekati Ari. Dengan sedikit paksaan, ia menarik tubuh Ari hingga berdiri dan menggandengnya menjauhi kerumunan, masuk ke gudang persembunyian. Masih tersisa sepuluh menit lagi sebelum bel masuk berbunyi.
Tubuh Ari kembali meluruh dengan bersandar pada tembok. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sementara Tari mengambil tempat duduk di sebelahnya. Mereka hanya berdiam diri melewati menit demi menit.
“Gue nggak suka lo kasar gitu, Kak.” Akhirnya Tari angkat bicara. “Apalagi sama sahabat-sahabat lo sendiri. Apa sih yang lo pikirin sampe mukulin mereka kayak gitu? Mereka salah apa?” Kekecewaan Tari meluap. Cewek itu sudah tidak tahan menonton sisi brutal Ari yang kembali dipamerkan. Tanpa sadar, air matanya jatuh. “Apa lo nggak tau gimana takutnya gue saat liat lo marah apalagi ngamuk? Apa lo nggak tau sebesar apa harapan gue biar lo kembali ke sosok Kak Ari yang dulu nyamar jadi Kak Ata? Apa sesusah itu, Kak, jadi orang baik kayak dulu?”
Kepala Ari serasa dihantam, begitu juga dadanya. Ia tidak tahu kalau Tari begitu kecewa. Dan Tari juga tidak tahu kalau sebenarnya dulu ia bukan sedang menyamar menjadi Ata, tetapi menjadi dirinya sendiri. Memerankan sifatnya yang asli.
Ari mengangkat wajah. Tangannya bergerak cepat menghapus air mata dari kedua pipi Tari. “Maaf,” katanya lirih.
“Minta maaf sama Kak Oji sama Kak Ridho. Mereka yang elo pukulin dari tadi.”
Ari mengangguk. “Gue akan meminta maaf ke mereka setelah ini.” Ia berdiri, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Tari berdiri. Keduanya tidak tahu. Seiring tetesan air mata Tari dan kejatuhan Ari, rencana Ata tengah berjalan sesuai harapan.

***

Ari melangkah memasuki UKS. Di dalamnya, dua orang adik kelas penjaga UKS sedang membersihkan luka di wajah Ridho dan Oji. Oji bahkan tidak sanggup duduk. Ia hanya berbaring diam sementara adik kelas tadi dengan hati-hati membersihkan darah di ujung bibirnya.
“Tolong keluar,” perintah Ari pelan. Kedua adik kelas dan kedua sahabatnya menoleh. “Gue mau ngomong sama mereka.”
Tanpa diperintah dua kali, kedua adik kelas tadi membereskan peralatan mereka dan bergegas keluar. Ari menutup pintu UKS. Lalu ia melangkah mendekati kedua sahabatnya, menempatkan diri di sebelah Ridho yang duduk di tempat tidur yang berseberangan dengan Oji.
“Gue nggak tau musti ngomong apa,” kata Ari pelan. Ia menunduk menatap sepatunya. “Maaf, terima kasih, gue rasa itu nggak ada gunanya. Yang perlu kalian tau, gue bener-bener nyesel.”
“Nggak pa-pa. Kami emang sengaja jadiin diri kami samsak daripada lo nyakitin si Vero, yang urusannya bakal berbuntut-buntut ntar kalo sama dia.” Ridho merangkul bahu Ari di sebelahnya. “Lo bisa mulai cerita apa yang sebenernya terjadi. Inget, Ri. Lo punya telinga gue dan telinga Oji yang siap dengerin semua masalah lo kapanpun. Lo nggak perlu menutup diri di depan kami.”
Ari menghembuskan napas berat. Menyinggung kembali masalah Angga adalah hal yang menyentuh titik sensitifnya. “Oke, gue akan cerita semuanya. Tapi sebelom itu gue anter kalian ke rumah sakit.”
“Ngapain ke rumah sakit? Tulang kami nggak ada yang patah, Bos. Serius, deh,” bantah Oji yang memang membenci rumah sakit.
“Iya, tapi bibir lo sobek gitu. Butuh dijahit.” Ari berdiri mendekati Oji. Sorot penyesalan terpancar jelas dari matanya begitu melihat wajah bonyok sahabat setianya. “Gue minta maaf. Lo boleh mukul gue sebanyak yang elo mau nanti.”
“Oh, kalo itu sih nggak perlu, Bos,” sahut Oji, kemudian meringis menahan nyeri. “Gue cuma butuh asupan gizi aja. Laper nih, belom sempet sarapan.”
Ari tersenyum tipis. “Gue traktir kalian sepuasnya kapanpun dan apapun yang kalian mau. Bilang aja.”

Oji dan Ridho langsung tersenyum cerah.





Bersambung...

Minggu, 26 Oktober 2014

Jingga untuk Matahari #fanfiction-7

Angga berdiri di tempatnya sampai Ari dan Tari tidak terlihat lagi, menatap kepergian keduanya tanpa suara.
“Ga...”
Satu jotosan keras melayang begitu Bram menepuk bahunya.
“Gue nggak nyuruh lo cium dia, bego!” bentaknya. “Dasar lo! Nyolong-nyolong kesempatan! Gue aja belom pernah nyium dia!”
“Sori, sori,” Bram mengangkat kedua tangan tanda menyerah. “Niatnya biar Ari tambah marah gitu.”
Angga mencekal kerah kemeja Bram. “Gue juga marah, tau!” desisnya tajam. “Inget. Satu kali ini aja, oke? Lain kali nggak ada ampun!”
Bram buru-buru mengangguk. Bukan karena takut oleh jotosan Angga yang mungkin akan bersarang lebih banyak di wajah atau tubuhnya. Dia lebih takut Gita yang notabene sepupu Angga semakin jauh di luar jangkauan kalau dirinya membuat sahabatnya ini marah.
Angga melepaskan cekalannya dan melangkah masuk lagi ke kantin. Matanya menangkap tas oranye di atas jaket hitamnya. Tas sekolah yang pasti sama sekali tidak ada di pikiran Tari setelah kejadian tadi. Angga meraih tas tadi serta jaketnya.
“Gue balik dulu,” pamitnya sambil lalu.
Sementara melangkahkan kaki ke tempat motornya terparkir, Angga memikirkan kemungkinan kemana Ari membawa Tari pergi. Tidak mungkin ke rumah gadis itu. Oleh karena Angga terlalu mengenal musuhnya, ia tahu tak akan ada orang yang bisa menebak seperti apa jalan pikiran Ari saat sedang marah atau kalut. Akhirnya ia membawa pulang tas sekolah milik Tari.
Lima menit berlalu semenjak Angga duduk di depan meja belajarnya dalam diam. Dentaman musik yang biasanya memekakkan telinga kini tak terdengar. Kamar itu ia biarkan sunyi. Tatapannya tidak lepas dari sesuatu di hadapannya. Tas oranye milik Tari. Mungkin saja gadis itu membencinya sekarang, setelah apa yang dia lakukan tadi. Mungkin Tari tidak ingin menemuinya lagi. Angga telah memikirkan segala konsekuensi itu, dan ketika semuanya merasuk lebih jauh ke dalam hatinya, ia menyesal.
Tapi bukan berarti akan ia lepaskan begitu saja gadis itu. Justru ia akan lebih menggencarkan usahanya jika memang untuk sekarang Tari memilih untuk menjauhinya. Entah sejak kapan kesadaran tentang hal ini datang. Dia menyayangi Tari. Sampai saat ini, Angga masih sering merutuki kebodohannya dulu saat dia memutuskan untuk mundur. Membiarkan Tari jatuh ke genggaman Ari.
Begitu tersadar dari lamunan, Angga mendapati semua isi tas Tari sudah berserakan di meja belajarnya. Seolah yang memiliki rasa penasaran bukanlah otaknya, melainkan kedua tangannya, yang kemudian bergerak mengambil sebuah buku dan memeriksanya. Buku tulis Kimia. Tercetak senyum tipis di bibir Angga saat melihat coretan-coretan berwarna-warni di buku itu. Tanda centang hijau, gabungan centang dan silang berwarna shocking pink, dan juga tanda silang merah dengan kata “SALAH” yang ukurannya nggak tanggung-tanggung. Coretan dari Ari yang bahkan dibiarkan oleh Tari tetap di sana. Satu bukti bahwa gadis itu memang menyayangi musuh bebuyutannya.
Tangan Angga tanpa sengaja menyentuh kamus Inggris-Indonesia milik Tari. Bibirnya tersenyum semakin lebar. Kamus yang menjadi saksi bisu awal perkenalannya dengan Tari. Angga membuka halaman pertama dan melihat tulisan Tari, X-9 yang mengenalkannya pada nama gadis itu. Tangannya membalik-balik halaman kamus tadi sekilas. Mendadak ia menyadari di bagian tengah kamus seperti ada yang mengganjal. Sesuatu yang terselip. Angga membuka halaman itu, dan kedua matanya melebar seketika. Satu kelopak bunga memang terselip di sana. Mawar merah. Bahkan semerbak harumnya masih tersisa, menguar ke udara di atasnya.
“Ini...” Kalau perkiraannya tidak salah, satu kelopak bunga ini berasal dari setangkai mawar merah yang ia berikan pagi tadi kepada si pemilik kamus. Kini kelopak itu sudah di genggamannya. Keyakinan atas perkiraan tadi kembali memunculkan senyum Angga.
“Ternyata lo masih punya rasa buat gue,” gumamnya lirih.

***

“Gue titip Tari ya, Fi,” kata Ari kepada Fio. Mereka sudah berada di rumah Fio sekarang. Tari sedang mandi, jadi Ari dan Fio duduk di ruang tamu untuk berbicara.
“Iya. Tenang aja, Kak.”
“Jangan tanyain apa-apa dulu soal kejadian tadi, apalagi soal Angga. Lain kali gue ceritain ke elo.”
Perkataan Ari malah semakin membuat Fio penasaran. Dia sudah mendengar Tari diculik kawanan Brawijaya tadi, saat Fio berlari ke tempat parkir untuk mencari Tari, tidak lama setelah Ari pergi. Oji yang memberitahunya. Sebenarnya Fio masih ingin bertanya-tanya, tapi batal begitu menyadari Vero dan gengnya juga ada di sana.
“Dia lagi trauma parah,” lanjut Ari lagi, sambil tangannya meremas rambutnya sendiri. Cowok itu mengerang frustasi. “Kalo bisa, sebenernya gue mau nemenin dia malem ini. Tapi gue nggak bisa,” desahnya. “Langsung telepon gue kalo ada apa-apa, Fi. Gue balik dulu.”
Fio mengantar Ari sampai depan rumah. Tiba di kamar, Tari sudah selesai mandi. Sahabatnya itu duduk diam di kasur hanya dengan handuk kimononya. Rambut panjangnya basah terurai, dan matanya menatap kosong ke depan. Fio menarik napas panjang.
“Pake baju gue dulu ya, Tar. Abis ini gue ke rumah lo ambilin baju sama seragam buat besok.”
Tari mengangguk tak acuh. Fio berjalan ke lemari dan mengambilkan pakaian untuk Tari. Untung ukuran badan mereka sebelas-dua belas.
“Nih, lo pake dulu biar nggak dingin. Gue bikinin susu, deh.”
Tari sekuat tenaga mengusir bayangan Angga dari benaknya. Ia memejamkan mata sejenak dan menggeleng-geleng. Tapi dalam kegelapan, sosok Angga kian terlihat jelas di depan mata. Tari menggigit lidah untuk mencegah jeritan keluar dari mulutnya. Cepat-cepat dia bangkit dan memakai baju Fio, kemudian mengeringkan rambut.
“Kayaknya gue bakal gila beneran,” desahnya pelan.

***

Motor Ari berhenti di depan rumah Tante Lidya. Entah berapa lama yang dilewatkannya hanya dengan duduk diam di atas motor. Rumah itu sepi. Tapi Ari yakin, Mama, Ata, dan Tante Lidya ada di dalam sana. Ingin sekali dia turun dan masuk ke rumah itu seperti yang sering dilakukannya akhir-akhir ini sejak Mama datang ke Jakarta.
Setelah beberapa saat berperang dengan dirinya sendiri, akhirnya ia mengambil keputusan. Baru saja kedua kakinya melangkah ke pintu pagar dan tangannya terulur untuk membuka, sebuah taksi mendadak berhenti tidak jauh darinya.
“ARI!!” teriakan itu membuat tubuh Ari membeku. Tubuhnya berputar cepat ke sumber suara. Dalam detik yang mengurungnya dalam ketersimaan, sebuah tamparan keras tiba-tiba saja mendarat di pipinya.
“BERANINYA KAMU KE RUMAH INI LAGI!!” bentak Papa dengan suara menggelegar. “Udah berani kamu melawan Papa?!”
Mulut Ari sudah terbuka untuk membalas, tapi suara pintu terbuka dari rumah di samping mereka seketika membungkamnya. Keduanya menoleh. Mama berdiri mematung di ambang pintu. Ata menyusulnya tak lama kemudian, dan sama-sama terpaku.
Ari baru bisa tersadar ketika Papa melangkah geram memasuki pagar. Dia dan Ata terlambat untuk mencegah tamparan Papa mendarat di pipi Mama. Ari terkesiap sesaat, kemudian dengan kalap ia berlari menghampiri Papanya dan mendorongnya keras agar menjauh dari Mama, sementara Ata langsung memeluk Mama erat-erat.
“Papa apa-apaan sih?!” bentak Ari murka, tidak terima Papa memperlakukan Mama sedemikian kasar di muka umum.
“Papa mau ngomong sama dia. Minggir kamu!” tukas Papa dingin, balas mendorong tubuh Ari yang menjadi penghalang antara dirinya dan mantan istrinya itu. Ata, yang masih memeluk Mama, juga ikut membentak Papanya, “Papa mendingan pergi! Jangan ganggu Mama!”
Papa tidak mempedulikan semua bentakan dari anak-anaknya. Matanya menatap lurus kepada mantan istrinya yang menangis di pelukan Ata. “Widia,” panggilnya berat. “Ini peringatan terakhir! Ata milikmu, dan Ari milikku. Semua sudah sah dan jelas secara hukum sejak bertahun-tahun yang lalu. Kalau sampai sekali lagi Ari berani menemuimu, aku tak akan segan-segan membawa dia pergi lebih jauh.”
“Apa salahnya sih, Pa?!” teriak Ari frustasi. “Dia Mama aku! Nggak ada orang sekejam Papa yang tega melarang anaknya ketemu ibunya sendiri!”
“Diem kamu! Papa nggak suka kamu deket-deket sama wanita ini lagi!” bentak Papa.
Wanita ini? Setelah lebih dari delapan tahun kebersamaan mereka dulu, setelah semua cerita cinta yang sempat mereka rajut bersama, sekarang Papa bahkan tidak sudi menyebut Mama dengan panggilan “Mama-mu”, atau paling tidak nama mamanya. Apa yang membuat Papa begitu membenci Mama? Mendadak Papa menarik tangannya. “Pulang!”
Ari merasa hidupnya hancur seluruhnya. Remuk redam. Hingga tak ada kuasa untuk melawan perintah papanya. Bukan berarti ia mau menerima. Tapi cowok itu sudah terlalu lelah untuk menolak. Tidak ada lagi yang tersisa dari dirinya. Dalam satu hari ini, semuanya terkuras habis. Tidak ada cukup emosi untuk menyeretnya lebih jauh ke dalam masalah di hadapannya. Ari ingin berhenti, ingin mengakhiri semua ini. Mengunci otak serta mematikan hati, agar tak ada lagi perkara rumit yang masuk ke sana dan mengganggunya.
“Mas,” panggil Mama tepat saat Ari dan Papanya mencapai pintu pagar. Keduanya kontan berhenti. Ari menoleh ke arah Mama, sementara Papanya bergeming. Mama melepaskan diri dari pelukan Ata, kemudian maju satu langkah. “Terima kasih,” katanya serak. “Makasih udah ngerawat Ari dengan baik. Sampai dia udah segede ini. Tolong, ijinin aku meluk dia sekali ini, sebelum aku sama Ata balik ke Malang.”
Ari dan Ata membelalak. Kedua kembar itu bertatapan kaget. Mama dan Ata mau pulang ke Malang secepat ini?
“Ri...”
“Nggak! Kita pulang!” Papa kembali menyeret tangan Ari, meninggalkan Mama yang kembali menangis dan Ata yang dengan sigap kembali memeluknya. Papa mengambil kunci motor Ari.
“Naik!” bentaknya.
Tubuh Ari bergerak seperti robot, naik ke boncengan Papa tanpa bisa membantah. Untuk terakhir kalinya, ia dan Ata bertatapan.

***

Tiba di rumah, Ari melesat masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan bantingan. Tubuhnya langsung ambruk ke tempat tidur, serasa tak bisa digerakkan lagi. Ia hanya bisa memejamkan mata. Dalam kegelapan yang kini menyelimuti pandangannya, dua wajah muncul bersamaan di hadapannya. Dua wajah dari sosok orang yang menyandang nama yang serupa, yang sama-sama disayanginya sepenuh hati. Matahari Jingga dan Jingga Matahari.
Kini Ari dihadapkan dua jalan yang berbeda, yang membuatnya harus meninggalkan salah satu matahari yang disayanginya. Ia harus memilih. Antara Ata dan Tari. Satu jalan bersama Ata serta mamanya, ataukah jalan yang lain bersama Tari. Keinginan untuk pergi bersama Mama dan Ata, ikut ke Malang, mendadak terlintas dalam benaknya saat perjalanan pulang tadi.
Bayangan berkumpul bersama Mama, Ata, Mbah Uti, Mbah Kakung, Pakde, Bude, dan seluruh keluarga serta sepupu-sepupunya berhasil menghangatkan hatinya. Kebersamaan, kebahagiaan. Dua hal yang tidak pernah Ari dapatkan sejak ia tinggal berdua saja dengan Papa. Ari sama sekali tidak keberatan meninggalkan kemewahan hidupnya di Jakarta ini. Tapi ia sangat keberatan untuk meninggalkan Tari.
Gadis itu kini telah menjadi bagian dari hidupnya. Tidak mungkin dia tinggalkan begitu saja. Kalau dia ikut Mama ke Malang, kemungkinan dia akan bertemu lagi dengan Tari sangat kecil, sangat jarang. Perjalanan Jakarta-Malang bukanlah perjalanan murah kalau mengingat kondisi ekonomi Mama. Dan lebih tidak mungkin ia mengajak Tari ke Malang.
Dan lagi-lagi jalan yang bercabang tadi menyiksanya. Sanggupkah Ari membiarkan salah satu matahari tenggelam? Menghilang dari hidupnya? Seperti bertahun-tahun yang lalu, ketika kedua orang tuanya memisahkannya dengan Ata, ia hancur. Dan kini kehancuran yang sama mulai membayang.
“Apa sih yang tersisa dari lo?” dengus Ari pahit. “Sombong banget elo, Ri. Sok takut sama yang namanya ancur. Kayak idup lo belom ancur aja, masih pantes dipertahanin. Haha,” Cowok itu tertawa kecut. Sedetik, ia kembali terdiam, berusaha keras mengosongkan pikiran dan membunuh kesadarannya.

***

Pukul delapan malam, Tari mencoba menghubungi Ari, tapi semua panggilannya tidak diangkat, juga semua pesan singkatnya tidak ada yang dibalas.
“Ari kenapa, sih?” desahnya sambil tengkurap di tempat tidur Fio.
Fio menutup buku Fisikanya, dan ikut merebahkan diri di samping Tari. “Kenapa?”
“Masa panggilan gue nggak ada yang dijawab? Malah harusnya kan dia yang lebih dulu nelepon gue dari tadi. Nanya kabar kek, apa kek. Masa dia nggak khawatir sama gue?”
“Udah tidur, kali,” jawab Fio asal.
Tari tertawa mendengus. “Ngaco lo. Ini baru jam berapa? Ari itu bukan tipe cowok yang akrab sama kata tidur. Dia kalo malem kerjaannya melek kayak kelelawar. Tidurnya kudu lebih dari tengah malem.”
“Bisa aja dia kecapekan. Lo sendiri nggak capek?”
Tari menggeleng lesu. “Gue justru khawatir sama Ari. Takut dia ada masalah lagi sama bokapnya.” Perasaan Tari memang kurang enak sejak tadi. Ia mempunyai firasat buruk tentang cowoknya yang entah sedang apa itu. Apalagi tidak ada kabar sejak terakhir kali Ari meninggalkannya di rumah Fio.
“Makanya lo tidur aja, biar besok cepet ketemu di sekolah.”
Benar. Tari hanya bisa menunggu sampai besok pagi. Akhirnya ia menarik selimut Fio, dan merangkupkannya ke tubuh hingga menutupi setengah kepalanya yang berdenyut sakit. Ia kembali teringat tas sekolahnya tertinggal di SMA Brawijaya. Kemungkinan besar pentolan mereka yang membawanya sekarang. Itu artinya, Angga akan datang menemuinya tidak lama lagi.

***

Tari berhasil melewati malam tanpa menjerit histeris seperti yang ditakutkan Fio dan Ari, juga dirinya sendiri. Tidurnya tidak bermimpi. Semuanya gelap. Tapi entah kenapa pada tengah malam matanya mendadak terbuka lebar dan dia bangun terduduk.
“Fi,” panggilnya pada Fio yang tidur memunggunginya. Fio tidak menyahut, masih terlalu asyik dengan mimpinya sendiri. Tari mendesah. Ia tahu ini kejam dan kurang manusiawi, tapi diguncangnya bahu Fio, memaksa temannya itu untuk bangun.
“Fiooooo....”
“Mm, apaan sih, Tar?” erang Fio malas, tidak membuka mata atau membalikkan badan untuk menatap Tari.
“Jangan molor sendirian, dong. Temenin gue. Gue nggak bisa tidur.”
Kembali tidak ada sahutan. Fio rupanya kembali terseret ke alam mimpi. Lagi-lagi Tari mendesah, menyerah. Ia hempaskan tubuh kembali ke bantal-bantal sambil meraih ponsel untuk memeriksa, kalau-kalau Ari membalas salah satu SMS-nya. Tidak ada. Layar ponselnya kosong, hanya memberitahunya kalau saat ini sudah pukul 1 dini hari.
“Seriusan, gue cemas sama elo,” desisnya pelan kepada ponsel di genggamannya. Aneh memang. Yang harus dicemaskan adalah keadaan dirinya sendiri, tapi kenapa ia malah terus-terusan mengkhawatirkan keadaan Ari?
Entah untuk keberapa kalinya Tari kembali mencoba menghubungi nomor Ari. Tetap tak ada jawaban. Mendadak ia teringat sesuatu. Cepat-cepat ia membuka kotak masuk di fitur pesan dan mencari nomor Ata. Masih ada! Tanpa peduli sekarang masih terlalu malam untuk menelepon, Tari menghubungi nomor itu. Sambil berharap-harap cemas, ia mendengarkan nada sambung.
“Ya, Tar?” Akhirnya!
“Ng... belom tidur, Kak?”
“Nggak bisa tidur. Kenapa?”
“Sori kalo ganggu. Gue mau nanya tentang Kak Ari. Apa dia ke situ tadi?”
Ata terdiam. Cukup lama ia tidak menyahut. Tari menggigit bibir gelisah. Apa memang benar ada masalah? “Kak...”
“Ya. Tadi dia ke sini,” jawab Ata sebelum Tari sempat bertanya lagi. “Bokap juga ke sini. Dia mergokin Ari dateng nemuin gue sama Nyokap.”
Tari terkesiap. Ternyata memang ada urusan gawat! “Trus? Ada masalah?”
“Jelaslah,” tukas Ata. “Kami ribut besar. Tapi lebih baik lo tanya Ari langsung soal masalah tadi. Gue takut salah bicara.”
“Itu dia masalahnyaaaa...” desah Tari putus asa. “Kak Ari nggak jawab telepon gue dari tadi. Gue takut dia kenapa-napa. Apa dia nggak nelepon Kak Ata?”
“Nggak. Nggak ada kabar dari dia sejak dia diseret pulang sama Bokap,” jawab Ata, membuat Tari ingin menangis saking cemasnya. “Besok kan kalian ketemu di sekolah, jadi lebih baik lo tidur sekarang.”
“Hmm, gue nggak punya pilihan lain. Moga-moga besok Kak Ari nggak madol. Ya udah, Kak Ata. Makasih. Sori udah ganggu malem-malem gini.”
Akhirnya Tari menyerah. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan di malam buta seperti ini. Setelah memutuskan sambungan dengan Ata, sebisa mungkin ia memejamkan mata sambil berdoa setengah mati agar jarum jam bergerak lebih cepat dan matahari segera terbit.

***

“Halo?” jawab Oji saat melangkah keluar gerbang rumahnya.
“Jagain Tari hari ini. Jangan sampe Angga dateng nemuin dia. Pulangnya anterin dia sampe rumah. Sama Ridho kalo perlu. Oh iya, jemput dia pagi ini di rumah Fio. Ngerti?” Sederet perintah dari Ari turun saat itu juga.
Oji langsung paham. “Siap, Bos! Lo sendiri mau ke mana?”
“Gue ada urusan hari ini,” jawab Ari, kemudian sambungan langsung terputus.
Oji menatap layar ponselnya dengan kening berkerut, lalu bergegas mencari taksi untuk menuju ke rumah Fio.

***

“Masa gue berangkat sekolah nggak bawa tas? Lucu deh. Mau belajar apa mau bantuin tukang kebun nyapu halaman?” keluh Tari kepada Fio yang juga menatapnya bingung.
“Gue pinjemin tas gue yang lain deh, sama buku tulis sisa yang belom gue pake. Bawa itu dulu,” putus Fio akhirnya. Ini masalah asli dadakan banget, soalnya Tari baru bilang pagi ini kalau tasnya tertinggal di SMA Brawijaya.
Mau tak mau Tari setuju. “Untungnya hari ini nggak ada PR,” katanya, pasrah.
Selesai sarapan, keduanya berjalan keluar rumah, dan kaget mendapati Oji sudah berdiri menunggu di samping taksi. Oji menyambut kekagetan keduanya dengan senyum.
“Silahkan naik, tuan-tuan putri,” katanya dengan gaya penuh hormat membukakan pintu belakang taksi.
Tari berjalan tergesa menghampirinya. “Kok lo ada di sini? Kak Ari mana?” tanyanya, berharap Oji tau apa yang terjadi dengan Ari.
Namun sayang, Oji menggeleng, membuat tubuh Tari lunglai seketika. “Gue cuma dapet perintah buat jagain lo baik-baik hari ini. Buruan naik.”
Fio mendorong pelan tubuh lemas Tari masuk ke taksi. Ia sendiri duduk di sebelahnya, sementara Oji di depan. Selama perjalanan, tidak ada yang bicara. Hanya Tari yang mengeluh berkali-kali karena percobaannya menghubungi nomor Ari belum juga membuahkan hasil.
“Udahlah, Tar. Kali aja Kak Ari emang lagi ada urusan penting. Kalo udah selesai pasti dia langsung telepon balik elo,” kata Fio akhirnya, tidak tega juga melihat raut putus asa Tari yang hampir menangis.
“Iya, Tar. Paling dia ngilang satu dua hari buat nenangin diri,” timpal Oji.
“Dia lagi ada masalah,” sahut Tari serak. “Kemaren pas dia dateng ke rumah Tante Lidya ternyata bokapnya mergokin dia. Mereka ribut besar.”
Fio dan Oji terdiam kaget. “Ng... trus?” tanya Fio, mewakili rasa penasaran Oji.
Tari menggeleng lesu. “Gue nggak tahu setelah itu gimana.”
“Kok lo tau?” kali ini Oji yang bertanya.
“Semalem gue nelepon Kak Ata. Tapi dia nggak mau ngasih tau detail kejadiannya. Gue disuruh nanya ke Kak Ari langsung. Gimana mau nanya coba kalo yang bersangkutan aja diem dan lenyap kayak ditelan bumi?”
Fio dan Oji kembali terdiam. Untuk selanjutnya hingga taksi berhenti di depan gerbang sekolah, ketiganya membisu.

***

Oji mengawal ketat kedua cewek itu sampai di pintu kelas mereka, meski mustahil juga Angga tiba-tiba nongol di dalem sekolah ini.
“Ntar istirahat gue ke sini. Trus pulangnya juga kalian tunggu sini aja. Gue sama Ridho bakal jemput secepatnya. Kami anterin sampe rumah.”
Fio mengangguk. “Oke. Thanks, Kak,” katanya sebelum membuntuti Tari masuk ke kelas. Tapi langkahnya terhenti begitu mendapati Tari juga tengah berdiri diam di depan kelas. Matanya mengikuti arah pandang Tari, dan langsung menemukan alasan temannya itu terpaku di sini.
Di meja guru, tas oranye milik Tari sudah bertengger manis. Butuh beberapa detik sampai Tari tersadar dan buru-buru mendekati tasnya. Tanpa berpikir dua kali, ia menumpahkan isinya ke meja guru, memeriksanya. Semuanya masih lengkap. Sampai ia menemukan sehelai kertas yang terselip di antara buku-buku paket. Tidak ketinggalan setangkai mawar merah juga meramaikan isi tasnya.

Tar, gue minta maaf. Sori banget atas kejadian kemaren. Tapi asal lo tau, gue sama sekali nggak berniat untuk bener-bener ngerobek kemeja elo. Sekali lagi, sori. Gue terpaksa ngelakuin ini demi Gita.

Angga

“Siapa yang nganterin tas gue ke sini?” tanya Tari ke teman-teman sekelasnya. Namun mereka semua kompak menggeleng.
“Gue yang dateng paling pagi. Dan tas itu udah ada di situ sejak gue tiba,” jawab Jimmy.
Mendadak, Tari balik badan. Sambil tangannya meremas-remas surat dari Angga, ia berjalan cepat keluar kelas, langsung menuju ke kelas Gita. Surat dan mawar dari Angga sudah meluncur ke tong sampah di depan kelas. Untung cewek yang dicarinya sudah berangkat.
“Bisa gue ngomong sebentar sama elo?” katanya memotong obrolan Gita dengan teman sebangkunya.
Gita mendongak agak kaget, tapi ia mengangguk. Begitu tiba di luar kelas, Tari langsung mencengkeram kedua bahu Gita dan menatap cewek itu lurus-lurus. “Git, tolong jangan ikut campur masalah gue dan Kak Ari lagi. Urusannya bisa tambah gawat kalo sampe lo terlibat.”
Kening Gita berkerut bingung. “Ikut campur gimana maksudnya? Gue nggak pernah...”
“Lo kan yang naro tas gue di meja guru?” potong Tari cepat. “Lo disuruh Angga, kan?”
“Tas apa?” Gita tambah bingung. “Gue nggak nerima perintah apa-apa dari Angga sejak kemaren. Sumpah, Tar. Tadi malem emang dia sempet jenguk gue. Tapi kami cuma ngobrol biasa. Sama sekali nggak nyinggung masalah elo ato Kak Ari.”
Giliran kening Tari yang berkerut bingung. Sepertinya Gita tidak bohong. Kembali pertanyaan yang belum terjawab sejak kemarin melintas di benaknya. Siapa yang membantu Angga kalo bukan Gita? Cekalannya di bahu cewek itu terlepas.
“Ada masalah apa sih, Tar? Katanya kemaren pas gue nggak masuk Kak Ari juga nyariin gue di kelas?”
Tari menggeleng. “Rumit banget, Git. Dia nyariin elo juga buat ngasih peringatan agar lo nggak ikut campur masalah kami.”
Tari menatap sepasang mata Gita yang menyorot cemas. Ia menghela napas. Kenapaa juga ini cewek harus sekolah di sini? keluhnya dalam hati, tidak tahu harus menyalahkan siapa.
“Yang penting mulai saat ini elo jauh-jauh gih. Sori, bukannya gue ada maksud jelek. Tapi ini demi keselamatan elo juga. Dan gue juga janji mulai saat ini Kak Ari nggak akan gangguin lo lagi.”

Setelah bicara seperti itu dan mendapat anggukan dari Gita, Tari berjalan meninggalkannya. Tapi belum sampai tiga langkah, cewek itu membalikkan badan lagi. “Dan tolong lo bilangin ke Angga, gue belom maafin dia.”




Bersambung...

Hyaah, kok udah sampe part 7 aja siih? Cepet banget...
Untuk lanjutannya mungkin agak lama, soalnya udah mulai sibuk lagi
Thanks banget udah baca dan thanks juga atas dukungan kalian ^^
Sori kalo aku sering bikin kalian nunggu, hehe #pede
Peluk dan cium hangat buat kaliaan :*