Jumat, 18 Januari 2013

Just for a Moment (4)



Hari selanjutnya, sebelum bel masuk, Jonathan sengaja menemui Rosalie di loker gadis itu. Dilihatnya Rosalie sedang mengeluarkan klarinet dari dalam loker.
“Eh, hai, Jo?” sapa Rose, seperti biasa, sambil memamerkan senyum manisnya. “Sedang apa kau di sini?”
“Kebetulan lewat.”
“Jam pertama apa?”
“Bahasa Inggris. Kau sendiri?”
Rosalie mendekatkan klarinetnya ke wajah Jonathan. “Apa aku terlihat seperti akan membedah kodok di laboratorium dengan klarinet ini?”
Jonathan tertawa. Gadis ini, selalu bisa membuatnya tertawa. “Ya, ya. Aku tau. Kelas musik. Tapi kenapa kau memilih klarinet? Sementara kau adalah seorang dewi piano.”
“Tak usah memujiku. Aku hanya tertarik dengan klarinet. Aku ingin mencoba hal-hal yang baru.” Rosalie menutup pintu loker setelah mengambil buku partiturnya. “Oke. Sampai ketemu nanti siang.”
“Eh, tunggu sebentar, Rose!” Jonathan menangkap tangan Rosalie. “Sebenarnya, aku mau tanya. Apa nanti siang kita masih akan belajar di ruang musik lagi? Ehm, maksudku, kita tak akan belajar di ruang kelas lagi, kan?”
“Tentu saja. Kita akan bertemu di ruang musik lagi nanti siang.”
“Oh, baguslah.”
Rosalie menatap Jonathan dengan aneh, lalu senyum jahil terkembang di bibirnya. “Jo, bilang saja kau memang mencariku.”
“Eh, apa?”
“Kau sengaja datang menemuiku kan?”
“Tidak. Aku sudah bilang, aku hanya kebetulan lewat sini.”
“Aku tau kau bohong.” Senyum Rosalie makin lebar. “Oke, terserah kau saja lah. Tapi sepertinya sudah terlihat siapa yang akan kalah dalam taruhan yang dibuatnya sendiri.”

***

Kata-kata Rosalie membuat Jonathan kehilangan konsentrasi di kelasnya. Jujur saja, dia memang sengaja menemui Rosalie untuk sekedar melihat senyum gadis itu. Apa itu berarti sesuatu?
“Ck, aaah...” umpatnya jengkel dan tanpa sadar tangannya menggebrak meja.
“Ada yang salah, Jonathan?” tanya Mrs. Stacy tiba-tiba.
“Ya,” sahut Jonathan.
“Maukah kau memberitahu kami apa yang salah?” Mrs. Stacy berjalan mendekatinya dengan wajah galak.
“Ada yang salah dengan perut saya. Permisi.” Tanpa menatap gurunya lagi, Jonathan menyambar buku-bukunya di atas meja dan tas ranselnya, lalu berjalan keluar kelas. Ia menelusuri koridor dengan cepat sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
“Jo?” Mendadak ada yang menegurnya dari belakang. Suara gadis itu membuat Jonathan balik badan.
“Rose? Apa yang sedang kau lakukan di sini?”
“Seharusnya aku yang bertanya.” Rosalie berjalan mendekat dan berhenti di hadapan Jonathan. Matanya menatap ransel cowok itu. “Sekarang belum bel pergantian pelajaran. Apa kau membolos?”
“Aku bosan di kelas bahasa Inggris. Dan aku heran deh. Setiap saat kita bicara menggunakan bahasa Inggris. Untuk apa dipelajari lagi? Yang penting kita bisa berkomunikasi dengan baik dan benar, kan?”
“Jo...” Rosalie memutar bola mata dengan jengkel. “Kau ini sungguh keterlaluan.”
“Tapi kata-kataku benar, kan?” Jonathan membela diri.
“Memang. Tapi...”
“Ayolah, Rose,” desah Jonathan. “Jangan menasihatiku lagi seolah aku ini anak balita yang selalu melakukan kesalahan dalam segala hal.”
Rosalie mengerutkan kening. “Bukankah memang begitu?”
Jonathan memajukan bibirnya dengan jengkel. Tanpa membalas kata-kata Rosalie, ia balik badan meneruskan langkah. Rosalie mengejarnya. Mereka berjalan dalam diam sepanjang koridor sekolah yang sepi.
“Jadi, sedang apa kau tadi? Kenapa tak di kelas?”
“Eh, ehm, aku...” Rosalie menjadi gugup. “Aku sedang ke toilet tadi.”
Jonathan meliriknya. “Kau pikir kau bisa membohongiku?”
“Apa maksudmu?” Rosalie tersentak.
Pucat di wajah gadis itu membuat Jonathan tertawa. “Aku tau apa tujuanmu keluar kelas.” Cowok itu tersenyum lebar. “Kau ingin membolos juga, kan?”
“Apa? Tidak! Itu tidak benar,” bantah Rosalie.
“Lalu, kenapa kau tidak kembali ke kelasmu? Kelas musik berlawanan arah dengan langkah kita sekarang.”
Saat Rosalie kehabisan ide untuk menjawab, tiba-tiba saja mereka berpapasan dengan Mr. Hansen, guru piket yang terkenal garang.
“Oh, sial,” umpat Jonathan.
“Jonathan! Kau membolos lagi!” bentak Mr. Hansen.
“Ya. Itu memang hobiku,” jawab Jonathan santai.
“Dan kau, Rosalie!” Mata tajam Mr. Hansen menyambar Rosalie.
“Anda tau Rosalie bukan siswa pembolos, Sir,” kata Jonathan, berusaha membela dan menghindarkan Rosalie dari masalah.
“Kenapa kau masih di sini?” tanya Mr. Hansen tanpa mempedulikan Jonathan.
“Maafkan saya, Sir. Saya baru saja akan keluar. Selamat pagi.” Rosalie mengangguk sopan dan melangkah pergi.
Jonathan menatapnya dengan bingung. “Apa dia...”
“Ikut saya sekarang!” potong Mr. Hansen dengan tegas.
“Oke, oke,” gerutu Jonathan.

***

Saat memasuki ruang musik siang itu, Rosalie terkejut mendapati Jonathan sudah duduk di dalamnya.
“Hei,” sapanya kaget. “Boleh aku tau ada masalah apa sehingga kau datang lebih awal dariku?”
“Ya.” Jonathan melipat tangan di depan dada. “Duduklah.”
“Pasti masalah di koridor pagi tadi.” Rosalie meletakkan tasnya dan duduk di hadapan Jonathan. “Tak perlu khawatir. Tadi pagi aku memang sudah izin ke guru piket untuk meninggalkan jam pelajaran.”
“Kemana? Sepanjang hari ini kau tak terlihat. Bahkan saat jam makan siang tadi.”
“Jo, kau mencariku?” Senyum jahil di bibir Rosalie seperti pagi tadi terkembang lagi.
“Yah, begitulah.” Jonathan mengangkat bahu dengan salah tingkah. “Aku hanya bertanya-tanya kemana kau pergi.”
“Aku menjenguk saudaraku di rumah sakit. Dan baru saja aku tiba di sini.”
“Kenapa lama sekali?”
“Rumah sakitnya jauh.”
“Jadi, kau belum makan siang?”
“Belum.”
“Makanlah dulu. Aku yakin kau tak ingin pingsan di hadapanku sehingga aku harus menggendongmu pulang.”
Rosalie tertawa. “Itu tak akan terjadi. Aku sudah membawa bekal.” Ia mengeluarkan kotak makannya. “Kau mau? Aku membawa beberapa potong,” tawarnya sambil menunjukkan beberapa tangkup sandwich isi acar dan daging tuna. “Aku tau kau belum sempat menelan apapun saat jam makan siang.”
“Kau sungguh perhatian, Rose. Bahkan melebihi ibuku sendiri.”
“Jangan menganggapku setua itu,” gerutu Rosalie.
“Dan kalau kau cemberut seperti itu, kau bahkan terlihat lebih tua dari nenekku.” Jonathan tertawa terbahak.
Rosalie sendiri tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. “Bisakah kau berhenti meledekku? Kau menyakiti hatiku, Jo.”
“Maaf, maaf.” Jonathan menangkupkan kedua tangan di depan dada.
“Kau sendiri, apa yang kau dapat dari Mr. Hansen tadi?” tanya Rosalie setelah menelan kunyahan pertama sandwich-nya.
“Entahlah. Kurasa aku tertidur saat dia menceramahiku.”
“Jo,” Rosalie tertawa. “Aku tak percaya itu. Itu bisa membuatnya makin murka.”
“Kau benar. Dan hasilnya, aku mendapat skorsing 3 hari.”
“Skorsing?” Rosalie nyaris tersedak.
“Ya. Dan sekarang aku butuh bantuanmu, Rose. Maukah kau membacakan buku-buku pelajaran untukku selama aku tak bersekolah?”
“Kenapa tak kau baca sendiri?”
“Aku terlalu malas untuk membaca jajaran kalimat dengan huruf-huruf kecil di buku. Lagipula, akan lebih mudah menghafal apa yang kudengar.”
Rosalie berdecak. “Kau sungguh merepotkanku.”
Please?” Jonathan menggerak-gerakkan alisnya.
“Kalau aku setuju, apa yang akan kau berikan untuk membalas jasaku?”
“Mm, apa yang kau minta.”
“Apapun?”
“Semoga saja.”
“Kalau begitu, aku minta kau tak akan pernah membolos lagi.”
“Wah, aku tak bisa berjanji untuk masalah yang satu itu.”
“Kau harus berjanji! Kalau tidak...”
“Baiklah, baiklah. Tak perlu marah-marah begitu,” gerutu Jonathan.
Keduanya melanjutkan makan dalam keheningan. Setelah Jonathan menelan suapan terakhirnya, ia berdiri. “Kau tak membawa minum, kan?”
“Tidak. Maaf.”
“Aku akan membelikannya.” Jonathan berjalan ke pintu.
“Jo!” panggil Rosalie.
“Ya?”
“Jangan coba-coba membolos atau melarikan diri.”
“Jangan menuduhku sembarangan, Rose,” keluh Jonathan lalu keluar ruangan.

***

“Jadi, bagaimana dengan kelas matematikamu ini?”
“Mr. Hansen tak mengatakan apa-apa soal itu.”
“Karena kau juga tak bertanya,” dengus Rosalie.
“Jadi, aku akan tetap berangkat ke sini pukul 2 siang,” kata Jonathan.
Rosalie lalu memainkan lagu-lagu ringan sementara Jonathan mengerjakan soal-soal matematika.
“Selesai!” Jonathan menyerahkan pekerjaannya dan duduk di sebelah Rosalie. “Kau punya kejutan apa untukku hari ini?”
“Kejutan seperti apa yang kau harapkan?”
“Aku harap kau mempunyai lagu yang hebat seperti kemarin. Atau mungkin kau masih punya bakat menakjubkan lainnya?”
“Aku tidak punya, Jo.”
“Yaah.” Jonathan menatap Rosalie sejenak. “Bisakah kau membuat sebuah lagu untukku?”
“Kau sungguh-sungguh memintaku melakukan itu?”
“Tentu saja.”
“Akan aku pikirkan di rumah. Dan, oh, biar adil, kau juga harus membuatkan sebuah lagu untukku.”
“Aku tak bisa bermain piano.”
“Tentu saja dengan gitar, bodoh.”
“Hei, kau sekarang berani mengataiku bodoh.”
“Biar saja.” Rosalie menjulurkan lidah. “Lima hari. Cukup?”
“Mudah saja.” Jonathan mengangguk.



Bersambung...

Kamis, 17 Januari 2013

Just for a Moment (3)



“Jadi, mimpimu adalah pergi ke New York?” tanya Jonathan setelah lagu itu selesai.
“Ya. Dan menjadi seorang pianis terkenal.”
“Kau tau, Rose, dengan bakat seperti itu, mimpi itu bisa dengan mudah kau capai suatu hari nanti.” Jonathan berdehem. “Dan, Rose, kau mempunyai bakat hebat lainnya. Yaitu menghipnotis.”
Well, aku tak tahu. Kadang-kadang, aku hanya memberi beberapa sugesti ke orang-orang. Baiklah, Jo. Terima kasih untuk hari ini.” Rosalie berdiri dan mengambil tasnya. Keduanya berjalan bersama melewati koridor sekolah, sampai Rosalie berhenti di depan lokernya untuk mengambil beberapa barang. Jonathan tetap menunggunya.
“Jo, aku tau kau orang yang cerdas. Dan aku tau, sebenarnya kau tak membutuhkan bantuanku.”
Jonathan menyandarkan salah satu bahunya di pintu loker dan melipat tangan di depan dada. “Lalu?”
“Ehm, jika kau merasa terganggu dengan pertemuan-pertemuan ini, kita bisa mempercepatnya. Jadwal matematikamu masih 1 minggu 5 hari lagi. Tapi kita bisa membuatnya menjadi 1 minggu lagi, atau mungkin malah 5 hari lagi.” Rosalie mengambil mantel hijaunya dari dalam loker dan memakainya. “Bagaimana?” tanyanya karena Jonathan diam saja.
“Tidak. Aku tak merasa terganggu,” jawab Jonathan setelah berfikir beberapa saat. “Dan aku punya cukup banyak waktu. Tak perlu terburu-buru.”
“Ooh,” sahut Rosalie singkat sambil menutup pintu loker. Keduanya berjalan lagi menuju gerbang.
“Mengapa kau berkata seperti itu?” tanya Jonathan. “Aku kira kau akan memaksaku untuk menambah jam matematikaku. Tapi ternyata? Kau malah menawariku untuk mempercepat jadwal.”
Rosalie tersenyum. “Aku hanya tak ingin kau mengingkari janjimu sendiri.”
“Janji apa?”
“Lihat, bahkan kau sudah tak ingat. Padahal baru kemarin kita bicarakan hal ini.”
Karena Jonathan tak merespon, pertanda ia tak ingat, Rosalie mendesah. “Janji untuk tidak jatuh cinta padaku. Asal kau tau, Jo. Setiap cowok yang dekat denganku akan jatuh ke dalam pesonaku.” Rosalie mengedipkan sepasang matanya yang lebar.
Jonathan tertawa mendengus. “Dan asal kau tau. Aku tak akan seperti mereka.”
“Oh ya? Perasaan seseorang bisa saja berubah dalam waktu singkat.”
“Sudahlah, kau tenang saja soal janji itu. Atau, bagaimana kalau kita bertaruh?”
“Bertaruh?”
“Ya. Bila aku kalah dan akhirnya aku jatuh cinta padamu, maka aku harus menciummu. Tapi kalau perasaanku tidak berubah, itu artinya kau yang harus menciumku.”
Rosalie mengernyit. “Itu perjanjian yang bodoh, Jo. Dan buruk.”
Jonathan malah tertawa. “Bagaimana? Deal?”
“Oke lah! Deal!”
“Aku tak sabar melihat siapa yang akan menang.”
“Yeah, lihat saja nanti. Dan kurasa, kau harus mulai belajar cara mencium seseorang dengan baik dan benar.”
“Hei, aku belum kalah!”
“Ya. Tapi “akan”.” Rosalie tergelak. “Bye, Jo.” Ia berbelok menyusuri jalan setapak yang sepi.
Daun-daun yang berguguran dan angin yang bertiup membuatnya merasa nyaman. Rosalie merapatkan mantelnya hingga menutupi dagu. Cuaca memang dingin, tapi musim gugur adalah musim kesukaannya. Alam disekitarnya berwarna cokelat keemasan. Jalanan dipenuhi dengan daun-daun kering yang rontok dari dahan pohon.
Dulu saat masih kecil, Rosalie suka sekali merebahkan diri di atas tumpukan daun kering bersama teman-temannya. Tanpa sadar ia berhenti berjalan dan tersenyum saat menatap daun-daun yang menggunung di bawah pohon. Ingin rasanya ia merebahkan diri di sana. Ingin rasanya ia kembali ke masa kecilnya.

***

Jonathan menatap Rosalie yang berjalan menjauh. Lalu ia sendiri berbelok ke arah yang sebaliknya.
“Rose benar-benar gadis yang aneh,” gumamnya. “Cantik, tapi begitu tegas dan tak takut denganku. Baik, tapi tak ingin seseorang mencintainya.”
Mendadak saja darahnya berdesir ketika wajah Rosalie yang sedang tersenyum melintas di benaknya. Dan Jonathan baru sadar ada yang aneh. Ada yang salah. Ada yang ganjal. Entah itu dirinya atau siapa. Dia belum pernah dekat dengan gadis manapun, karena Jonathan sendiri sama sekali tak tertarik. Lalu kenapa dia dan Rosalie bisa seakrab ini hanya dengan dua kali pertemuan? Tiga kalau dihitung dengan insiden di ruang musik pagi hari pertama kali mereka bertemu. Dan setelah mengenal Rosalie, dia menjadi lupa akan tugas sehari-harinya untuk membuat onar di sekolah.
“Tidak! Aku tidak boleh kalah!” tekadnya sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan keras. “Aku tak akan jatuh cinta pada Rosalie!”



Bersambung...

Rabu, 16 Januari 2013

Just for a Moment (2)



Di hari berikutnya, Rosalie memberitahu Jonathan bahwa Mr. Steven mengizinkan mereka menggunakan ruang musik. Pukul 2.30, Jonathan belum tiba juga. Rosalie yang telah menunggu selama setengah jam lebih, menjadi gelisah.
“Maaf, aku terlambat.” Tiba-tiba pintu ruang musik terbuka dan Jonathan melangkah masuk dengan santai.
Rosalie cemberut. “Kau sungguh terlambat, Jo. Jangan lakukan ini lagi! Datang terlambat bukan kebiasaan yang baik!”
“Hei, tak ada anak yang berani memarahiku sebelum ini!” protes Jonathan.
“Itu bukan alasan!” Rosalie menatap Jonathan dengan tajam. “Dengar, Jo. Aku tak takut denganmu. Jadi, aku akan memarahimu jika kau memang bersalah.”
“Huh, benar-benar gadis pemberani.”
“Terserah apa katamu.” Rosalie membuka bukunya dan mulai menulis di papan tulis.
“Maaf,” kata Jonathan tiba-tiba setelah keduanya tak bersuara selama beberapa saat. “Aku tadi mendapat hukuman dari Mrs. Katie.”
“Apa yang kau lakukan?” tanya Rosalie tanpa menoleh.
“Aku tertidur di kelasnya.”
“Kau sungguh pembuat masalah yang hebat, Jo.”
“Hei, itu bukan sepenuhnya salahku. Aku yakin kau tau betapa membosankannya pelajaran Sejarah.”
“Tidak. Pelajaran Sejarah adalah pelajaran yang baik dan sangat berguna.”
“Berguna? Untuk apa kita mempelajari hal-hal di masa lalu? Padahal orang bijak sering berkata, yang lalu biarlah berlalu.”
Rosalie tak dapat menahan senyum gelinya. “Ya, tapi dengan mempelajari Sejarah, kita bisa menjadi lebih bijak ke depannya. Bahkan lebih bijak dari orang bijak yang berkata “yang lalu biarlah berlalu”. Dengan belajar Sejarah, kita tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.”
“Jangan mulai menceramahiku,” gerutu Jonathan. “Semua yang kau katakan persis dengan apa yang dikatakan Mrs. Katie. Dan aku akan pilih angkat kaki dari sini jika harus mendengar ulang semua kata-kata itu.”
“Kau benar-benar bandel.”
Jonathan merengut. “Dan kau sepertinya menganggap semua mata pelajaran itu menyenangkan.”
“Memang. Kecuali olahraga.”
“Olahraga justru satu-satunya pelajaran kesukaanku.”
“Karena itu menjadi kesempatanmu untuk mem-bully anak-anak kelas bawah yang memiliki jam olahraga yang sama denganmu.”
Jonathan tertawa. “Jujur deh, kau sering memata-mataiku, kan?”
“Sama sekali tak pernah. Tapi aku tau watak seorang cowok sepertimu.”
Jonathan mengangguk-angguk. “Jenius.”
Keduanya terdiam. Rosalie tetap menuliskan rumus-rumus di papan tulis sambil menerangkan, dan Jonathan diam memperhatikan. Otaknya mulai merekam segalanya. Lima menit kemudian, Rosalie berhenti.
“Apa kau sudah mencatatnya?”
“Sudah terekam baik di otakku.” Jonathan mengetuk-ngetuk kepalanya.
“Bagus. Sekarang, buka bukumu halaman 49, dan kerjakan latihan-latihannya.”
Okay, Ma’am.”
Rosalie menatap Jonathan dengan kening berkerut. “Bahkan, kau lebih tua dariku.”
“Berapa umurmu?”
“Tujuh belas di bulan Desember.”
“Woah, mengejutkan. Bagaimana kau bisa di kelas 12 ketika umurmu hanya 16 tahun?”
“Aku mengambil kelas akselerasi.”
“Hm, Rose, kau sungguh membuatku bingung. Kadang, kau melakukan hal yang bodoh. Tapi sebenarnya, kau adalah gadis yang sangat-sangat cerdas.”
“Jangan memujiku. Kerjakan saja tugasmu.”
“Dan kau gadis yang galak.”
“Dan kau orang yang aneh,” balas Rosalie.
“Dan kau tidak ramah,” kata Jonathan lagi.
“Dan kau begitu cerewet.”
“Dan kau...”
“Cukup, Jo!” potong Rosalie jengkel.
“Oke, oke.” Jonathan mengangkat tangan tanda menyerah. “Sekarang, sementara aku menyelesaikan tugasku, tugasmu adalah bermain piano.”
Rosalie duduk di belakang piano. “Kau bisa bermain piano?”
“Tidak. Tapi aku suka musik instrumental, terutama piano.”
“Fakta yang cukup aneh untuk seorang yang bandel sepertimu. Cowok lain mungkin sedang asyik mendengarkan musik-musik rock atau reggeae, sementara kau sedang mendengarkan musik-musik karya Mozart, Beethoven, atau bahkan Kitaro.”
“Apa ada yang salah dengan itu?”
“Tidak ada sih. Jadi, apa yang bisa kau mainkan?”
“Aku bisa bermain gitar cukup baik.”
Rosalie tersenyum. “Kalau begitu, suatu hari nanti, kau harus menunjukkan kebolehanmu padaku.”
“Yeah, dan aku akan membuatmu terkejut.”
“Coba saja kalau bisa.” Rosalie tertawa. “Dengarkan lagu ini, Jo. Ini lagu favoritku. Aku membuatnya sendiri.”
Rosalie mulai memainkan sebuah lagu yang benar-benar indah. Jari-jarinya menari-nari dengan anggun di atas tuts piano. Tanpa sadar Jonathan menutup mata, menikmati lagu itu.
“Jo?” Tiba-tiba Rosalie berhenti bermain. “Kerjakan soal matematikamu.”
“Maaf.” Jonathan meringis. “Mendengar lagumu membuatku lupa keadaan sekeliling. Ehm, omong-omong, apa judulnya?”
My Dreams.”
“Boleh aku tau alasannya?”
“Selesaikan dulu pekerjaanmu.”
“Baiklah.” Jonathan mengambil penanya dan mengerjakan soal-soal yang tertulis di buku. Rosalie menatapnya sebentar, lalu melanjutkan permainannya.
“Selesai!” Jonathan membanting penanya ke meja beberapa saat kemudian.
“Cepat sekali,” komentar Rose. “Bawa kemari.”
Jonathan mendekati Rosalie dan memberikan bukunya. Dia duduk di samping gadis itu. Jari-jarinya menekan tuts-tuts piano dengan sembarangan, menghasilkan nada yang tak beraturan.
“Jo, kau merusak konsentrasiku dengan lagumu itu.”
“Hei, kau mengejekku.” Jonathan cemberut.
“Itu fakta.” Rosalie mengangkat bahu. “Kau masih membuat banyak kesalahan di jawaban akhirmu. Meski kau menggunakan semua rumus yang tepat, tapi kau harus tahu cara menggunakannya agar jawabanmu bisa benar. Perhatikan.” Rose menerangkan soal demi soal. “Mengerti?”
“Ya. Tapi harus berapa kali kubilang? Aku tak suka menghitung.”
“Tapi kan...”
“Jangan berdebat! Sekarang, karena pekerjaanku sudah selesai, jawab pertanyaanku tadi.” Jonathan mengambil bukunya dari tangan Rosalie dan memasukannya ke dalam tas.
“Pertanyaan apa?”
“Tentang judul lagumu.”
“Oh, itu. Hm, karena itu memang bercerita tentang mimpi-mimpiku. Cita-citaku.”
“Apa mimpimu?”
“Cukup banyak.”
“Salah satu yang terbesar?”
“Kau akan tahu jika kau mendengarkan lagu ini sekali lagi.”
With my pleasure, Ma’am.”
“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu,” omel Rosalie.
I’m sorry, Ma’am.”
Rosalie tambah cemberut. “Apa aku harus memukulmu agar kau bisa bersikap lebih sopan, anak kecil?”
“Jangan. Ampuni aku, Ma’am.”
Well, terserah. Sekarang, tutup matamu. Dengar lagu ini baik-baik. Dengarkan dengan hati, Jo. Bukan sekedar telinga. Dan kau akan mendapatkan jawaban atas pertanyaanmu tadi.”
Jonathan menutup kedua matanya. Untuk kedua kalinya, Rosalie memainkan lagu yang sama. Jonathan baru menyadari bahwa lagu itu sangat indah. Walau nadanya mengalun lembut, tapi dengan jelas Jonathan bisa menangkap semangat dari lagu itu. Setiap nada menerobos masuk ke dalam hatinya. Memberinya kekuatan. Membuatnya “hidup”.
“Rose,” bisik Jonathan. “Lagu ini begitu... sempurna.”
“Yeah, aku tahu.” Rosalie tersenyum. “Lagu ini selalu menjadi kekuatanku. Dengar, Jonathan,” desah Rosalie. “Bisakah kau membayangkan sebuah dunia yang indah dari lagu ini? Dapatkah kau mendengar burung-burung bernyanyi untukmu? Sinar matahari memelukmu, angin bertiup begitu lembut, juga pohon-pohon dan lengan-lengan rumput menari di sekelilingmu.”
“Ya, Rose. Aku... bisa... melihat... itu semua,” ujar Jonathan perlahan. “Ini begitu indah.”
“Dan sekarang, aku akan memberimu dunia yang berbeda. Tetap pejamkan matamu.” Rosalie mengubah nada pianonya. “Apa yang kau lihat sekarang?”
“Mm, aku tak bisa melihat apapun,” jawab Jonathan.
“Oke. Aku akan membantumu. Pertama, keluarlah dari kegelapan, Jo. Kalahkan mereka. Dan sekarang, kau melihat sebuah kota besar. Kota yang begitu besar dengan gedung-gedung pencakar langit berderet sepanjang jalan. Sebuah kota bergemerlapan yang membuatmu begitu terpesona. Kota dimana orang-orang berbakat berkumpul dan bersaing untuk menunjukkan bakat mereka. Berusaha untuk menarik perhatian setiap orang.”
“Katakan, Rose! Beritahu aku!” bisik Jonathan.
“New York.”
Jonathan terdiam sebentar. “Aku bisa melihatnya sekarang. Kota ini berada tepat di depan mataku. Ini sangat... menakjubkan.”
Rosalie ikut menutup matanya, tapi jemarinya tetap bergerak lancar dan anggun tanpa kesalahan di atas tuts piano. Dia meresapi lagunya. Dan dia juga bisa melihat kota besar itu di depan mata seketika itu juga. Kota yang telah menjadi impiannya sejak lama. Tiba-tiba hatinya terasa hangat.
“Aku ingin hidup lebih lama. Aku ingin mimpi-mimpiku jadi kenyataan,” bisiknya pelan.



Bersambung...